
Setibanya dikantor Fathan m, Fathan langsung disambut oleh salah satu karyawannya. Mereka berdua dengan tergesa menuju ruang penyimpanan data perusahaan, Dan setibanya mereka disana terlihat semua orang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Carlos yang melihat kedatangan Fathan langsung saha menghampiri pria itu.
"Sudah berapa banyak yang hilang?" tanya Fathan sambil berjalan menuju salah satu kursi yang tengah diduduki oleh salah satu karyawannya yang memang ahli di dalam bidang komputer.
"Data pengeluaran dan pemasukan baru -baru ini, dan juga data karyawan sudah terhapus, untuk yang main sedang dalam penanganan tuan," jelas Carlos.
Fathan sudah menduduki kursinya, jemarinya dengan lincah menekan keyboard komputer, menciptakan suara yang saling bersahutan didalam ruangan tersebut.
"Data yang saya pegang amankan?" tanya Fathan dengan tetap fokus pada laptop nya
"Aman tuan, keamanan yang tuan sepertinya menyulitkan mereka untuk meretas." jelas laki-laki yang tadi menduduki kursinya.
Mendengar hal itu tentu membuat Fathan bisa bernafas dengan lega, lalu ia kembali sibuk pada komputernya. Ada untung nya juga dia pernah ikut otodidak dalam hal IT.
"Carlos, periksa email yang masuk, saya tidak yakin mereka hanya ingin mengambil data perusahaan ini saja," titah Fathan yang langsung dilakukan oleh Carlos.
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Fathan, Carlos membulat kan matanya begitu melihat banyaknya email yang masuk tepat beberapa saat yang lalu.
"Tu-an," Carlos terbata menunjukkan nya lada Fathan.
Rahang Fathan mengeras "Sialan," desisnya tajam.
"Total semua kerugian, secepatnya." tekan Fathan yang langsung dipatuhi oleh Laskar.
Fathan mengusap wajahnya dengan kasar, banyak sekali kerja sama yang dibatalkan hingga menimbulkan dirinya harus membayar denda dan membuat dia memiliki banyak kerugian. Fathan rasanya ingin sekali mengacak-acak ruangan itu, untuk melampiaskan emosi nya yang sudah menumpuk.
__ADS_1
Fathan pusing memikirkan data perusahaan nya yang dibobol.
***
Sania yang memang kini tinggal di rumah Fathan tak ada hentinya wanita itu melirik jam tangan yang melingkari di pergelangan tangan nya.
Pasalnya sejak pamit pergi kekantor semalam Fathan tak kunjung pulang. Awalnya dia berpikir jika Fathan masih memiliki pekerjaan tapi setidaknya kan Fathan mengabari.
Intan dan yang lainnya sudah pergi kesekolah dan bekerja. Tak hanya dirinya yang bertanya-tanya dengan ketidak pulangan Fathan. Intan sedari bangun pagi yang paling bersemangat untuk menanyakan pria itu.
Akhirnya dengan pikir panjang, Sania meminta supir di rumah Fathan untuk mengantar nya kekantor pria tersebut.
"Kekantor nya Fathan ya pak," ucap Sania setelah mendudukkan diri di kursi belakang.
"Baik nyonya," mobil pun mulai melaju menuju ke kantor Fathan. Dan Sania tak henti-henti nya cemas sedari tadi.
Setibanya di sana, Sania bisa melihat karyawan yang tengah sibuk-sibuknya, beberapa dari mereka menyapa nya entahlah darimana mereka mengenal Sania padahal Sania baru pertama Ki menginjakkan kakinya di kantor milik Fathan.
Langkah cepatnya membawanya lekas keruangan Fathan setelah dirinya menanyakan ke resepsionis terlebih dahulu.
Hingga akhir nya dia kini berada didepan pintu yang kokoh itu, Sania menarik nafasnya dala . Lalu diketuk nya pintu itu tiga kali barulah terdengar suara Fathan yang menyuruhnya untuk masuk.
"Sania?" Heran Fathan melihat keberadaan wanita nya itu dikantornya.
Carlos yang mengerti akan situasi segera pamit undur diri dari ruangan Fathan.
"Permisi nyonya," ucap nya juga lada Sania.
__ADS_1
"Kamu kok ada disini sayang? kamu bareng siapa kesini?" tanya Fathan sambil berjalan menghampiri Sania.
Melihat Fathan yang berada di hadapannya dengan tampilan yang tidak rapi, serta jantung mata yang bersarang di bawah matanya m, langsung saja Sania menubruk tubuh atletis pria itu.
"Aku khawatir," bisik Sania tepat disamping telinga Fathan. Posisi kakinya yang berjinjit membuat kepalanya bisa mencapai bahu Fathan.
Fathan terkejut mendengar hal itu, artinya Sania sudah mulai menerima kehadirannya dalam hidup wanita itu membuat rasa senang kini mendominasi nya .
Fathan tersenyum kecil, tangannya melingkupi pinggang Sania dan memeluknya erat. Ini yang dia butuhkan sedari tadi, kehangatan dan rasa nyaman dari Sania yang selalu dapat membuat nya menjadi tenang.
"it's okey, aku baik-baik saja sekarang," bisik Fathan dengan rasa hangat yang melingkupi hatinya. Rasa lelah dan cemas ya g sedari tadi menggelayuti nya perlahan sirna. Hanya dengan kehadiran Sania dan pelukan hangatnya, rasanya dunia Fathan mulai baik-baik saja sekarang.
Sania akhirnya menggiring Fathan agar menuju sofa, sedikit kesusahan karena Fathan tak mau lepas dari nya .
"Makan dulu ya, abis itu baru istirahat," ucap Sania berhasil mendudukkan Fathan di sofa panjang.
Fathan hanya bisa mengangguk, kembali dirinya menarik pinggang Sania hingga membuat Sania terjatuh tepat di pangkuan nya.
"Capek," keluh Fathan dengan suara yang teredam.
Sania berinisiatif mengelus rambut Fathan yang menyembul dibalik lehernya, "Iya aku tau, tali kamu harus makan dulu Fathan, baru ha is itu kamu istirahat," ucap Sania mencoba bangkit dari pangkuan Fathan.
Sania sadar jika dirinya berat, dan Fathan Sekarang sedang capek-capeknya.
"Gini aja sayang.." pinta Fathan yang terdengar seperti rengekan karena tak rela Sania berpindah. Hal itu membuat Sania menjadi gemas. Sangat jarang Datang dilihatnya bersikap manja seperti itu.
"Aku berat," ucap Sania yang kembali mengelus rambut Fathan.
__ADS_1
"Tidak papa," ucap Fathan yang membuat Sania hanya menghela nafasnya. Susah jika sudah berhadapan dengan orang yang keras kepala.
TBC