
Ke dua gadis seumuran itu akhirnya sampai ke tempat tujuan mereka.
Baju mereka masih sama seperti tadi pagi. Tidak menyempatkan untuk mengganti seragam sekolah yang mereka pakai meski memungkinkan.
Mereka langsung mengacir ke rumah sahabat nya yang sedang sakit itu.
"Rumah nya kok sepi banget yah, om Arsen sama om Juli lagi kerja kayaknya," ucap Intan.
"Maybe," ucap Jesi.
Keduanya langsung diperbolehkan oleh satpam untuk segera masuk ke dalam karena mereka berdua sudah sering kali ke rumah Ayyara.
"Kayaknya emang mereka lagi kerja deh, tapi kan Tante juli udah gak kerja," ucap Jesi yang membenarkan perkataan Intan tadi.
Juli memang memutuskan untuk tidka bekerja lagi untuk memiliki lebih banyak waktu dengan Ayyara. Sudah sejak lama dia tidak memperhatikan Ayyara dan dia sedikit menyesali nya.
"Nemenin om Arsen kali ya Jes," ucap Intan.
"Iya juga, yaudah kita langsung ke kamar nya aja," ucap Jesi yang melangkah terlebih dahulu.
"Loh kok Aya gak ada di kamar nya sih?" tanya Jesi mencari keberadaan gadis itu.
"Aya kamu ada di kamar mandi ya?" teriak Intan mengetuk pintu namun tak ada yang menjawab. Alhasil Intan membuka pintu dan terkejut.
"Yaampun Bi Ina," teriak Intan terkejut dan berteriak histeris.
Jesi kaget mendengar hal itu, benar-benar kaget dan langsung segera menyusul Intan.
"Kenapa Ntan, ada apa?" tanya nya.
"Bi Ina Jes," lirih gadis itu.
__ADS_1
"Astaga, Bi Ina kok bisa begini," psnik jesi yang melihat Bi Ina kini tergeletak di kamar mandi dengan darah yang mengucur dari kepala nya dan sebagian sudah membeku.
Lantai yang tadi nya berwarna putih itu pun kini sudah berubah menjadi berwarna merah.
"Aku udah nelpon om Arsen, mereka akan segera kemari," ucap Jesi menyimpan Handphone nya kembali.
"Ini gimana? Ayyara gak ada dan Bi Ina dalam keadaan seperti ini. Kita langsung bawa aja Bi Ina nya ke rumah sakit. Intan takut Bi Ina kehabisan darah," ucap Intan dengan nada yang bergetar.
"Iya kamu bener, yaudah kita bawa aja sekarang, nanti aku akan kabarin om Arsen lagi,"
"Uh ngangkat nya gimana?' Intan kesusahan meskipun sudah dibantu oleh Jesi.
Keduanya tak cukup kuat untuk membawa Bi Ina sampai ke bawah.
"Kita coba lagi, pelan-pelan aja, kamu pegang dari bawah sana aku dari bawah sini," ucap Jesi.
Kedua nya akhirnya bisa membawa Bi Ina. Dan saat sampai depan mereka meminta satpam untuk membantu agar dibawa sampe ke taksi.
"Ke rumah sakit terdekat ya pak," pesan Jesi pada supir taksi nya.
***
"Lo jangan kayak gini stev," ucap Mark menghentikan Steven yang memukul tembok rumah sakit sampai tangan nya terluka dan berdarah.
"****, ini semua gara-gara gue. Ayyara tidak ada sangkut paut nya tapi malah dia yang kena," ucap Steven kembali memukul tembok dengan keras.
"Stop it, lo ngerusak rumah sakit Stev, ini bukan rumah sakit bapak Lo woi, entar kita diusir karena bikin ribut dimari," ucap Marcel.
"Hooh," ucap Daffa.
Steven duduk dan menutup wajah nya disana. Demi apapun sekarang dia begitu mengkhawatirkan keadaan Ayyara.
__ADS_1
Gadis itu pasti sudah menghirup banyak sekali gas dan semoga saja gadis nya itu bisa diselamatkan. Steven tidak akan tau bagaimana jadi nya jika sampai Ayyara meninggalkan nya.
Fedrick baru pertama kali melihat Steven yang terpuruk seperti ini. Pria itu bahkan sampai menangis sekarang, tidak memperdulikan jika banyak orang yang melihat nya.
"Aya please bertahan sayang, kumohon," lirih nya.
"Berdoa aja Stev, semoga Ayyara cepet pilih dan balik lagi bareng kita. Gue bakal bantu lo buat balas mereka yang sudah nyakitin Ayyara," ucap Mark dengan serius.
Mark tidak tahu harus menjelaskan bagaimana nanti pada adik nya soal apa yang sudah dialami oleh sahabat nya itu..
Dia yakin jika Intan pasti akan amat sedih jika mengetahui hal ini.
Mark menepuk jidat nya saat mengingat Intan.
"Duh, gue lupa Intan masih disekolah gak ya, tari udah janji nemenin ke rumah Aya," ucap nya
"Ck, gimana sih, kalo dia nungguin gimana? sentak Fedrick
"Ya maaf bang, lupa," ucap Mark menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Gue yang jemput, mereka harus tau keadaan teman nya juga," ucap Fedrick pamit.
'Tiati bang," pesan Mark.
"Buset kok dokter nya lama ya," ucap Marcel.
Daffa menimpuk kepala Marcel. "Ya iyalah,"
"Santai aja kali," ucap Marcel dengan sinis.
"Berisik!" teriak Steven pada kedua orang yang masih berdebat itu
__ADS_1
Hal itu mampu membuat kedua nya langsung kicep sedangkan Mark tertawa mengejek .
TBC