
"Sayang," Fathan menghampiri Sania yang tengah berkutat di dapur.
Pria itu baru saja bangun setelah melakukan aktivitas yang melelahkan dengan Sania sehabis makan.
Bisa dibilang Fathan menjadi Hyper saat bersama dengan Sania.
Wajar saja bukan, dia sudah lama begitu lama berpuasa dan sekarang dia mendapatkan kepuasan biologis nya kembali.
Fathan tak akan menyia-nyiakan hal itu tentu saja.
Entah mengapa Sania masih kuat untuk berjalan, apakah dia yang kurang kuat.
Sania menoleh saat mendengar panggilan suami nya itu.
"Heum," gumam nya yang tetap berkutat dengan apa yang sedang berada di hadapan nya kini.
"What are you doing?" tanya pria itu yang langsung memeluk tubuh Sania dari belakang.
Sania tetap fokus dengan kegiatan nya . Wanita itu memang sedang membuat kue untuk keluarga nya.
"Apa kau tidak melihat aku sedang membuat adonan kue?"
"I see, untuk apa repot-repot. Banyak pelayan disini, suruh mereka saja. Ayolah sayang kita baru saja menikah dan aku ingin bermanja-manja dengan mu." ucap Fathan menenggelamkan kepala nya ke ceruk leher Sania.
Menghirup dalam aroma kesukaan yang menguar dari tubuh Sania yang selalu menjadi candu untuk nya.
"Lebih enak jika dibikin sendiri, hanya sebentar," ucap Sania.
"No, aku mau tetap bersama dengan mu. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu sayang," kekeh Fathan.
"Bisa bergeser sebentar, " ucap Sania yang hendak mengambil bahan lain nya.
Fathan sama sekali tidak menurut dan tetap dalam posisi nya.
"Tidak mau, aku mau nya begini," ucap Fathan yang enggan melepas Sania.
Sania yang mendengar penolakan dari Fathan kemudian berinisiatif sendiri untuk mengambil bahan lain nya.
Namun cukup merepotkan karena Fathan tak melepas kan pelukan nya dan malah semakin mengeratkan nya.
"Awas bentar Fathan," ucap Sania dengan sabar melihat kelakuan suami nya itu.
"No," tolak Farhan lagi. Sudah dia katakan dia ingin bermanja dengan Sania.
Dia sudah sengaja mengambil cuti dari kantor nya untuk menghabiskan banyak waktu bersama dengan Sania.
__ADS_1
Meski dia adalah bos nya, bukan berarti Fathan bisa berleha-leha terlalu lama. Masih banyak pekerjaan yang telah menumpuk menanti nya.
"Pelayan," seru Fathan menggelegar hingga beberapa pelayan menghadap diri nya.
"Untuk apa memanggil mereka," ucap Sania.
Fathan tidak menjawab pertanyaan dari Sania. Pria itu tanpa melepas pelukan nya menoleh ke arah beberapa pelayan yang sudah berjejer menghadap nya.
"Kalian lanjutkan membuat kue ini," suruh Fathan.
"Hell, tidak. Aku bisa melakukan nya sendiri kok, tidak perlu," ucap Sania.
"Kalian tetap lanjutkan pekerjaan nyonya kalian," perintah Fathan dengan nada yang otoriter.
"Baik tuan," sahut mereka berbarengan.
Setelah pars pelayan mengambil alih, Fathan langsung saja menggendong wanita nya itu ala bridal style.
Sania sampai memekik kaget karena perlakuan Fathan yang amat tiba-tiba itu.
"Fathan, ish kau membuatku kaget, turunkan aku!" Pinta Sania memukul dada Fathan yang keras.
Sedang kan Fathan sama sekali tidak merasakan pukulan dari Sania yang tidak terlalu berasa sama sekali.
"Fathan turunkan aku, aku malu, banyak pelayan yang melihat ke arah kita," ucap Sania.
Tau jika Sania merasa risih, Fathan langsung memandang tajam ke arah pelayan nya tersebut hingga membuat mereka kembali mengalihkan pandangan nya dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Saat Fathan menaiki tangga menuju ke kamar nya Sania langsung mengalungkan tangan nya di leher pria itu agar tidak terjatuh meski tau jika Fathan tidak mungkin akan membiarkan diri nya sampai terjatuh.
"Mengapa kita naik tangga? kan ada lift," ingat Sania yang merasa bingung. Apa pria itu tidak lelah menggendong nya, sedang kan kamar mereka berada di lantai 3.
"Aku ingin berlama - lama seperti ini," ucap Fathan melihat ke arah Sania dan mengecup singkat bibir Sania dan melanjutkan langkah kaki nya.
"Apa aku tidak berat?" tanya Sania.
"Lumayan," ucap FAthan.
"Jadi secara tidak langsung kau mengatakan jika aku ini gemuk ya!" ucap Sania yang tidak terima.
"Bukan seperti itu sayang, hanya sedikit berat," elak Fathan.
"Kalo begitu turun kan saja aku," ucap Sania.
"Wanita ku sedang merajuk Hem," gemas Fathan.
__ADS_1
"Tidak sama sekali," ucap Sania.
Fathan hanya mengiyakan saja, tak ingin ribut dengan Sania.
Sania kembali menatap Fathan yang terlihat tampan dari bawah sana.
Mengapa dia baru menyadari jika Fathan ternyata setampan dan segagah itu, kemana saja dia selama ini.
"Aku tau jika aku tampan sayang, jangan terlalu lama menatap ku dengan pandangan seperti itu. Atau aku akan menerkam mu sampai kamu pingsan," ucap Fathan seraya tersenyum miring.
"Huh, pasti hanya ancaman saja, aku sudah pernah mendengar kau mengatakan hal itu sebelum nya," ucap Sania.
Bukan pertama kali nya lagi Fathan mengatakan hal itu pada nya, maka dari itu Sania tidak merasa risau ataupun takut sama sekali.
Fathan mengentikan langkah kaki nya saat mendengar penuturan dari Sania.
"Really, kau sedang menantang ku sekarang? kau mau aku buktikan sekarang sayang," ucap Fathan menatap intens ke arah Sania.
Sania meneguk ludah nya kasar, dia sudah salah berbicara.
"Em kau hanya bercanda right,"
"No, kamu meragukan aku sayang, dan aku tidak suka diragukan oleh mu, seperti nya aku akan melakukan hal itu sekarang," ucap nya tersenyum miring.
Di kepalanya sudah tergambar jelas apa saja yang akan dia lakukan pada Sania.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau pingsan sayang, bahkan jika kamu meminta ampun sekalipun," ucap Farhan dengan nada yang berbahaya.
"Eh bentar deh, aku mau ketoilet," ucap Sania mengelak dan mencoba melarikan diri.
"Kau tak bisa pergi sayang," Fathan langsung membuka pintu dan mendorong nya menggunakan kaki nya.
Fathan tak lupa juga untuk mengunci pintu kamar nya agar Sania tidak bisa pergi.
Fathan langsung menghempas kan Sania ke arah kasur king size mereka.
Sania memelotot kan mata nya saat melihat Fathan yang langsung membuka kemeja nya.
"Kita baru melakukan nya tadi! besok saja ya," ucap Sania mengerjap kan mata nya.
"Aku sudah tidak tahan sayang, maafkan aku. Adikku juga sudah tidak tahan," ucap Fathan menunjuk arah bawah nya.
Sania tersenyum masam, jika begini dia sudah tidak bisa melarikan diri lagi apalagi melihat wajah Fathan yang sudah dipenuhi akan gairah.
Sania dapat melihat nya dari jakun Fathan yang kian naik-turun.
__ADS_1
"Can we begin," ucap Fathan yang mulai mendekati Sania sedangkan Sania hanya bisa pasrah saja karena itu sudah menjadi tugas nya.
TBC