Possesive Man

Possesive Man
Part 95


__ADS_3

Pagi pertama Intan dan Sania berada di apartemen milik Athan.


Begitu nyaman untuk ditinggali apalagi hanya dia dan Sania saja yang tinggal disana.


Mereka begitu berterima kasih pada Athan yang begitu baik nya dan cuma cuma memberikan mereka tempat untuk tinggal.


Intan juga dapat melihat pemandangan kota dari jendela apartemen. Begitu indah dan tenang nya. Mereka memang tinggal di tengah kota, sehingga gedung-gedung tinggi itu akan menjadi makanan nya sehari-hari.


"Betah banget disana," ucap Sania pada Intan yang bgitu menikmati pemandangan yang tak pernah dia dapat kan.


"Iya dong mom, gak boleh dilewatkan gitu aja heheh," cengir Intan.


Intan akan sering berada di sini, seperti nya tempat itu akan menjadi tempat favorit nya.


Dia bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari sana, sungguh menyenangkan.


"Jangan sampai kamu terlarut sampai lupa sekolah loh," ucap Sania mengingatkan.


"Siap Bu bos," ucap Intan yang kini beranjak dan duduk di meja makan yang mana semua nya sudah di siapkan oleh Sania.


"Mommy emang gak pernah gagal deh kalo buat masakan, gak ada yang ngalahin masakan mommy pokoknya," ucap Intan dengan begitu semangat nya


Sania tentu saja tersenyum mendengar nya, dia senang jika Intan menyukai apa yang sudah disediakan nya.


"Nanti mommy mau ke rumah teman mommy habis jam makan siang, kamu mau ikut gak?" tanya Sania gar dia tau menunggu Intan pulang dari sekolah.


"Em, gak deh mom, lagian nanti Intan ngapain disana. Mending Intan kayak nya ke rumah Aya aja atu enggak ke rumah Jesi," ucap Intan sambil mengambil sarapan nya.


Intan yakin jika dia hanya akan menjadi nyamuk disana. Karena ibu-ibu jika sudah merumpi pasti akan panjang dan Intan tidak mau mati kebosanan.


Sania mengangguk mengerti. "Kabarin sama mommy nanti okey. Mommy pulang nya sore," info Sania.


"Okeyy," ucap Intan sambil melahap sarapan nya.


Setelah selesai Intan pamit kepada Sania.


Dan betapa terkejut nya Intan saat melihat Athan yang sudah berada di depan pintu apartment.


"Morning dek," ucap Pria itu mengecup pipi Intan sekilas.


"Eh, pagi bang," balas Intan dengan linglung karena pria itu dengan tiba-tiba mencium nya.


"Mau berangkat sekolah kan, Abang yang anterin Intan, tunggu bentar oke," ucap Athan yang diangguki oleh Intan.


Saat Athan memasuki apartemen dia mencari-cari Sania dan akhir nya dia menemukan wanita paruh baya itu yang sedang merapikan dapur.


"Mom," ucap Athan sambil meletakkan brownies yang di bawa nya di atas meja makan.


Sania berbalik saat mendengar nama nya dipanggil.


"Athan, kamu kemari,"

__ADS_1


"Iya, mau nganterin Intan. Itu Athan bawain brownies buat mommy," Athan menujuk brownies nya.


"Wah terimakasih ya, perhatian banget sih, kamu memang nya tidak ke rumah sakit?" tanya Sania.


"Iya mom, setelah mengantar Intan aku akan langsung ke rumah sakit," ucap Athan.


"Kamu begitu, hati-hati oke, kabarin kalo udah nyampe," ucap Sania yang diangguki oleh Athan.


Pria itu lalu menghampiri Intan yang tengah berdiri sambil memainkan ponsel nya.


"Yuk dek," ajak Athan.


"Kuy," seru Intan.


****


"Makasih banyak abang, hati-hati ya, semangat kerja nya," ucap Intan.


"Ada yang ketinggalan sayang," ucap Athan.


"Hah emang iya, kayaknya udah semua deh bang," ucap Intan memeriksa bawaan nya dan tidak ada yang kurang sama sekali.


"Ini," ucap Athan menujuk pipi nya.


"Ouh," Intan tersenyum dan mengangguk kecil.


intan mengecup pipi Athan dengan secepat kilat lalu membuka pintu mobil dan berlari setelah nya.


"Jadi makin semangat kerja kalo kayak gini," ucap Athan lalu melajukan mobil nya.


"Hai everyone," teriak Intan saat memasuki kelas nya.


"Berisik banget lu Ntan,"


"Heheh maaf," ucap Intan.


Intan menoleh kesana kemari mencari teman dekat nya namun tak kunjung Ida lihat.


"Aya sama Jesi belum datang Ntan, tumbenan lu Dateng nya lebih cepet," ucap Daffa.


Pasal Intan selalu menjadi orang yang terakhir hadir di antara Jesi dan Aya.


"Iya, Intan lagi semangat aja hari ini," terang Intan.


Marcel mendekati Intan dan duduk di sebelah gadis itu.


"Apa tuch yang bikin Intan semangat," ucap Marcel.


"Kepo," ucap Intan.


"Yeu Si Intan mah gitu," ujar Marcel yang mendapat tatapan ejekan dari Daffa.

__ADS_1


Tak lama Jesi datang dengan wajah yang sumringah.


"Minggir lu cel, ini kan tempat duduk gue," ucap Jesii dengan tidak santai.


"Kalem neng kalem," ucap Marcel yang segera pindah tak mau mengundang keributan.


"Happy banget keliatannya," ucap Intan.


"Hehehe iya dong, Atlas udah operasi dan lancar. Aku seneng banget akhirnya dia bertahan," ucap Jesi.


"Baguslah kalo begitu," ucap Intan.


"Terus nanti habis sekolah kamu kesana juga kah?"


"Pastinya dong, mana nih Aya biasa nya Idha Dateng tuh anak," ucap Jesi.


"Masih di jalan mungkin,"


"Heum tapi ini udah mau masuk loh, kayaknya dia telat deh," ucap Jesi.


"Tuh udah dateng," ucap Ayyara melambai kan tangan pada Ayyara yang hendak memasuki kelas.


Gadis itu terlihat berbicara dengan Steven sebentar lalu menghampiri ke dua sahabat nya itu.


"Tumben Aya lama," ucap Intan setelah gadis itu mendudukkan di Rinya di kursi di depan Intan dan juga Jesi.


"Huft, iya tadi kesiangan," ringis Ayyara.


"Malas banget ikut baris, kayaknya Aya di kelas aja deh," ucap Ayyara saat mendengar bunyi lonceng.


Ayyara .aish merasa kantuk mendera dan juga lelah karena terburu-buru ke sekolah. Gadis itu tak sadar menghabiskan banyak waktu untuk maraton Drakor semalam.


Belum lagi Steven yang tau akan hal itu, memarahi dan menceramahi nya tadi.


"Entar kalo diperiksa ke kelas gimana, ketauan entar," ucap Jesi.


"Aaaa, lagi magerr," keluh Ayyara.


"Udah ayo lah, bentar doang kan sekarang kita hari ini," ucap Intan.


"Okeh," Ayyara pasrah saja ketika ke dua tangan nya di tarik oleh Intan dan Sania.


"Eh entar dulu, kita ngambil yang paling belakang aja baris nya," ucap Ayyara yang diangguki oleh Intan dan Jesi.


Sesaat Intan memandang ke arah belakang dan melihat Mark yang tengah memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celana nya.


Pria itu terlihat rapi dan juga tampan. Tak bohong Intan begitu merindukan sosok Mark yang selalu manis pada nya. Ingin sekali rasanya Intan memeluk tubuh tegak itu namun diurungkan nya.


Intan pada akhirnya tersenyum tipis dan dapat dia lihat keterkejutan di wajah Mark.


Intan kembali fokus dan mengalihkan pandangan nya ke depan saat guru sudah mengambil alih.

__ADS_1


TBC


__ADS_2