
Sesuai dengan janji nya, Fathan membawa sang istri untuk berkeliling di sekitar Menara Eifel.
Benar kata orang-orang, menara Eiffel memang begitu indah saat dimalam hari. Banyak lampu-lampu Cahya yang menyinari serta dari menara Eiffel sendiri.
"Kita makan dulu yuk sayang," ajak pria itu kepada Sania yang menatap berbinar ke arah menara Eiffel.
"No, aku tidak lapar sama sekali. Aku masih ingin melihat pemandangan disini," tolak Sania yang terkenal bahkan sampai melupakan kebutuhan perut nya.
"Sudah ayo, kamu tidak akan menyesal sayang, akan aku pastikan itu," ucap Fathan sembari menuntun sang istri.
Fathan membawa Sania ke gedung menara Eiffel. Mereka masuk gedung yang berada di lantai satu menara Eiffel.
"Wah, aku baru tau jika bisa masuk ke dalam ," ucap Sania yang membuat Fathan tersenyum kecil.
Fathan memesan menu makanan gouermet dan keduanya makan sambil terhubung ke luar ruangan menampilkan keindahan kota.
"Apa kamu menyukai nya?" tanya Fathan yang disambut dengan anggukan antusias oleh Sania.
"Aaa," Fathan menyodorkan makanan ke arah Sania.
"Em enak, sangat enak. Aku sama sekali belum pernah memakan makanan seperti ini sebelum nya. Ini pertama kali nya untuk ku," ucap Sania.
Setelah makan malam, Fathan mengajak Sania untuk menaiki kapal di Seina. kapal yang berlapis kaca dan akan membawa mereka dalam perjalanan ajaib 1 jam sepanjang Seine, melewati landmark kota yang diterangi.
"Wah, kita akan naik kapal. Aku sungguh tidak sabar," ucap Sania yang merasa senang.
"Wait, udara nanti dingin," Fathan membelitkan syal yang baru di beli nya tadi untuk menghangatkan Sania.
"Ayo," ucap Fathan .
__ADS_1
Keduanya dituntun oleh pekerja disana.
Fathan sama sekali tidak melepaskan tangan Sania dan tetap menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
Fathan duduk dan mendudukkan Sania tepat di pangkuan nya sambil memeluk pinggang wanita itu dengan erat.
Menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Sania dan sesekali meniup nya.
"Ish jangan jail, " ucap Sania yang merasa kegelian.
Sania mencoba menjangkau air agar bisa di pegang nya.
"No, nanti kamu jatuh," larang Fathan sembari menangkup tangan Sania.
"Aku hanya ingin menyentuh nya saja," ucap Sania.
Seperti biasanya, Fathan akan selalu mengambil gambar ataupun video tentang mereka. Fathan ingin mendokumentasikan semua nya agar bisa dia lihat kelak.
Kemudian , mereka diantar dalam kenyamanan bus ber-AC ke Montmartre, distrik bohemian Paris.
Keduanya kini menjejakkan kaki di kabaret Moulin Rouge legendaris, dan sampanye di tangan, bersiap untuk terpesona dengan pertunjukan mewah Féerie.
"Ini pertujukan apa?" tanya Sania.
" Penampilan ini memiliki lebih dari 100 akrobat dan penari (termasuk gadis penari Doriss menampilkan cancan mereka yang terkenal di dunia), kostum memukau bertahtakan dan diselingi bulu, dan serangkaian dekorasi termasuk ayunan, tangga bergerak, dan akuarium," jelas Fathan dengan panjang lebar.
Sania mengangguk kecil, dia kini terfokus dengan pertujukan itu saja.
Fathan melirik jam nya, ternyata mereka sudah terlalu lama di luar dan waktu berputar dengan begitu cepat hingga kini sudah cukup larut.
__ADS_1
"Sayang, seperti nya kita harus pulang sekarang," ucap Fathan.
"Baiklah, tapi nanti kita akan berjalan-jalan lagi kan?"
"Tentu saja sayang, masih banyak tempat yang masih belum kita kunjungi," ucap Fathan bernafas lega keran Sania tidak bersikukuh untuk tetap diluar.
Dia sempat menduga jika Sania akan menolak untuk pulang sekarang dan masih ingin disini.
Di penghujung malam mewah tak terlupakan, Mereka akhirnya pulang dengan penuh kenangan pemandangan dan suara malam yang eksotis.
***
"Ganteng banget emang sih gue, tapi Napa sampe sekarang gue ga ad pacar yeh," ucap Mark yang tengah berkaca setelah mandi.
Pria itu memutar tubuh nya dan mengangumi dirinya sendiri.
"Mencintai diri sendiri itu penting right," ucap nya.
Saat keluar dari kamar dia melihat Fedrick yang baru pulang dengan wajah yang memar.
"Bang, dari mana aja Lo, kata steven tadi suruh kumpul di markas, eh ditunggu lama malah Lo ga ada. Nah sekarang malah pulang dengan keadaan babak belur begitu," ucap Mark.
"Besok aja, gue cape," ucap Fedrick yang langsung melengos pergi .
Mark menatap sinis ke arah Fedrick, padahal dia sudah semangat pergi ke markas untuk mengetahui siapa sebenarnya penghianat dalam the boys.
Dia sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah berhianat itu.
TBC
__ADS_1