
"Mommy gak salah denger kok, kapan kita akan pergi dari sini mom?" tanya Intan sekali lagi.
Intan mengerti benar jika Sania pasti bertanya-tanya dalam hati, mengapa dia tiba-tiba meminta hal itu.
Intan yakin, Sania pasti tidak menduga nya sama sekali.
"Kamu serius sayang?" tanya Sania pada Intan. Dia masih tidak percaya Intan mengatakan hal itu.
Padahal saat dia kabur, Sania sudah ketar-ketir memikirkan alasan untuk Intan. Tetapi ternyata Intan lah yang sekarang malah meminta nya.
"Mengapa tiba-tiba sekali Intan mau pergi dari sini. Bukan nya Intan sangat senang bisa berada disini?" tanya Sania ingin tahu alasan nya.
Intan tersenyum tipis dan menatap Sania.
"Intan seneng banget malah, keinginan Intan pengen punya ayah dan Abang terpenuhi di rumah ini."
"Lalu mengapa Intan pengen pergi kalo kebahagiaan Intan sebagian ada disini?"
"Karena, ini bukan tempat kita kan mom. Kita cuma orang asing yang tiba-tiba berada di keluarga ini. Kita juga tak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga ini," jelas Intan.
Sania memandang Intan dengan penuh rasa bersalah. Apa seharusnya dia menerima Fathan menjadi suaminya saat itu.
"Maaf, Mommy saat itu masih berpikir, harus menerima Fathan untuk jadi bagian keluarga kita yang sebenarnya," ucap Sania.
"Engga ko mom, memang seharusnya begitu kan. Kita perlu mengenal seseorang yang akan menemani sisa hidup kita terlebih dahulu baru ke jenang serius. Untuk apa terburu-buru," ucap Intan dengan bijak.
"Pinter banget sih anak mommy," Sania mencubit kecil hidung Intan karena gemas.
"Intan gak pengen mommy dikatain numpang hidup sama orang, Bener kata mereka, tak seharusnya pria dan wanita yang belum menikah tinggal bersama, Intan gak suka mereka rendahin mom. Dulu sebelum kenal om Fathan kita bisa hidup berdua, sekarang juga pasti bisa. Kita bisa ulang dari awal kan mom," ucap Intan memegang kedua tangan Sania.
Sania tertegun mendengar nya.
"Mereka siapa... ada yang bilang kayak gitu sama kamu?" tanya Sania dengan serius.
"Enggak mom, aku gak sengaja denger oars pelayan pas ngegosip. Aku denger semua nya termasuk Bang Fedrick yang ribut sama Om Fathan, merkea membicarakan semua nya," cicit Intan.
Intan yang hendak mengambil air minum saat malam-malam dia haus. Para pelayan justru sedang berkumpul dan bergosip ria. Intan mendengar semua nya dari mereka .
Sania mengangguk kecil, dalam hati dia bersyukur Intan bisa mengerti.
"Jadi kita bisa mulai dari awal lagi. Bersama," ucap Sania tersenyum.
__ADS_1
Seperti nya itu keputusan yang bagus, hanya saja bagiamana caranya untuk pergi dari Fathan yang keras kepala. Pria itu pasti tidak akan membiarkan mereka pergi.
Dia baru kabur dan pria itu malah mengurung nya dan apa lagi setelah ini.
Sania harus bisa bersikap lebih keras lagi untuk menolak pria itu. Dengan begitu Sania bisa pergi.
Sania berharap itu akan berhasil mengingat Fathan bukan orang yang mudah untuk diajak bekerja sama.
"Yess, kita bisa melakukan nya mom," ucap Intan.
***
"Carlos, atasi semuanya sebentar, saya akan pulang. Nanti saya akan kembali lagi," ucap Fathan seraya membereskan beberapa pekerjaan nya yang sudah selesai dia kerjakan dan memisahkan dengan yang belum sempat dia pegang.
"Baik tuan," ucap Carlos.
Fathan mengangguk dan langsung keluar dari ruangan nya.
"Intan sudah pulang?" tanya Fathan lada satpam rumah nya.
Pria itu sampai dengan cepat karena dirinya membawa mobil dengan kecepatan sedang.
"Sudah tuan,"
"Tuan Mark belum pulang tuan, hanya Nona Intan yang sudah pulang bersama teman nya,'" jawab satpam tersebut.
"Teman? perempuan atau laki-laki,"
"Perempuan tuan,"
Mendengar hal itu membuat Fathan mengangguk kecil. Baguslah jika perempuan. Fathan masih belum ingin jika Intan terjun ke dunia pacaran.
Fathan segera pergi ke ruangan kerjanya,
"Seingat ku aku meletakkan nya disini," ucap Fathan yang mencari-cari kunci kamar Sania beserta kunci lain nya.
Pria itu memang sengaja pulang siang untuk mengunjungi Sania. Fathan takut jika wanitanya kelaparan jika terlalu lama menunggu nya untuk pulang.
Fathan tak memperbolehkan siapapun masuk kesana sekalipun itu adalah pelayan, dia sendiri yang mengurus semua kebutuhan wanita nya itu.
Lama Fathan kebingungan mencari kunci. Fathan bahkan Sampai membongkar meja hanya untuk mencari kunci tersebut.
__ADS_1
"****, aku menaruhnya dimana," kesal Fathan yang tak kunjung mendapat kan kunci nya.
Fathan akhirnya kembali ke kamar nya untuk mengambil kunci cadangan. Untung saja pria itu masih menyimpan duplikat nya.
"Stupid," sentak nya pada dirinya sendiri karena baru terpikir untuk mengambil kunci cadangan.
Setelah mendapat kan apa yang Fathan mau, pria itu bergegas pergi ke dapur untuk mengambil makan siang untuk Sania.
Pria itu sudah terlebih dahulu menyuruh pelayan nya," sudah selesai?" tanya Fathan.
"Sudah tuan," ucap salah satu pelayan.
"Good, Kembali lah melaksanakan pekerjaan kalian," suruh Fathan lau setelah nya mengambil makan siang yang sudah disiapkan oleh pelayan dan membawa nya ke kamar Sania.
"Apa Intan sudah makan?" tanya Fathan mengentikan langkah nya. Dia baru mengingat Intan.
"Belum tuan, non Intan belum turun sedari tadi,"
"Apa yang sedang dia lakukan di kamarnya," gumam Fathan melanjutkan langkah nya. Dia kan menyusul Intan setelah mengurus Sania terlebih dahulu.
Di pertengahan tangga menuju kamar Sania, Fathan menajamkan pendengaran nya saat mendengar Sania sedang mengobrol dengan orang lain. Namun suara lain nya sungguh tak asing di telinga nya.
Fathan akhirnya mempercepat langkah kaki nya. Semakin dekat dia bisa mendengar dengan sangat jelas.
"Princess" kaget nya di depan pintu saat melihat Sania dan intan yang kini tengah duduk berdua di atas kasur.
"Intan mengapa bisa disini?" tanya Fathan yang sudah tidak tau apa yang ingin dia katakan.
Keberadaan Intan disana benar-benar membuat nya terkejut. Entah dari mana gadis itu bisa masuk kedalam sana saat bahkan tak satupun yang diberikan akses oleh nya.
Tak sengaja, Fathan juga dapat melihat kunci yang tergeletak di atas kasur.
Ternyata Intan yang mengambil nya, pantas saja dia tak dapat menemukan kunci nya. Tapi bagaimana bisa Intan mendapatkan nya.
"Aku yang mengambil nya om, maaf lancang. Tapi aku mau bertemu dengan mommy ku," ucap Intan yang melihat Fathan melirik ke arah kunci nya.
Fathan tercengang Bahakan hampir tak bis berkata-kata saat Intan mengubah panggilan nya. Ada rasa tidak terima salah hari Fathan. Hati pria itu mendadak sakit saat mendengar nya karena Fathan sudah terbiasa dengan Intan yang memanggil nya Daddy terlebih lagi dia sudah sangat mengaggap Intan sebagai putri nya.
"Hah? om. Are you kidding me right?" Fathan tertawa kecil. Pria itu masih berpikir positif jika Intan hanya bercanda padanya dan Fathan sangat berharap pemikiran nya itu benar.
"Bukan nya itu benar. Om kan bukan Daddy Intan, Daddy intan udah pergi jauh," ucap intan Lagi membuat Fathan terdiam seraya menatap datar kedua nya.
__ADS_1
TBC