
Pagi ini adalah hari yang berbeda untuk Sania. Wanita paruh baya itu harus melakukan pekerjaan nya sendiri. Tak ada pelayan yang akan membantu nya.
"Intan kamu udah siap-siap belum? udah jam berapa ini. Kamu berangkat sendiri loh sayang," ucap Sania sambil menyiapkan sarapan untuk Intan.
Dia mewanti-wanti Intan agar tidak berleha-leha, pasal nya dia akan berangkat menggunakan angkutan umum. Dia tak ingin Intan sampai telat
Sedikit kasihan dengan intan yang harus kembali merasakan hidup seperti dulu. Padahal gadis itu sudah sedikit terbiasa dengan kehidupan di rumah Fathan yang serba tidak repot dan sekarang semua nya sudah hilang.
"Aku makan nya sambil di jalan aja deh mom, Nanti gak keburu," ucap Intan pada Sania.
Sania mengangguk kecil dan membuat bekal untuk gadis itu.
"Nih, kamu hati - hati pokok nya. Kalo udah sampe sekolah kabarin mommy oke," ucap Sania sambil menyisir surai rambut Intan dengan lembut.
Intan tersenyum menampilkan deretan gigi nya lalu menyalim wanita paruh baya tersebut.
"Bye mom," ucap Intan mengecup kedua pipi Sania.
"Bye," ucap Sania.
Setelah Intan pergi kini tinggal Sania sendiri.
Wanita itu berniat untuk mengembangkan kembali jualan kue nya .
Selain menawarkan dan menitip kue buatan nya, Sania juga berniat ingin menjual secara online. Sania berpikir jika itu adalah ide yang bagus, tidak ada salah nya untuk mencoba. Siapa tau rejeki mereka akan lebih banyak dari sana.
Semangat Sania kian membara mengingat Intan yang akan segera lulus dari SMA. Dia hanya bisa berharap pada dirinya sekarang.
Dia bertekad untuk menyekolahkan Intan setinggi-tinggi nya agar tidak seperti diri nya yang hanya tamat sampai SMA.
Sania yang tadi nya dengan melamun memikirkan masa depan Intan di kaget kan dengan bunyi dering ponsel nya.
Sania mengertyitkan dahi nya saat melihat Bu Diana lah yang menelpon nya. Sudah sejak lama mereka tidak berhubungan.
Astaga Sania benar-benar melupakan tentang wanita paruh baya itu dan Daniel Juga.
Sania akhirnya mengangkat nya dengan bebas sekarang. Orang tidak ada Fathan yang akan melarang nya lagi untuk berhubungan dengan mereka.
"Halo Bu," sapa Sania terlebih dahulu.
"Halo nak Sania, apa kabar nak? udah lama tidak keliatan ya," ucap Diana dari seberang.
__ADS_1
Sania meringis kecil. " Iya Bu maaf, lagi ada kerjaan soal nya," ucap Sania mencari alasan.
"Berati ibu sekarang ganggu dong," kekeh Bu Diana.
"Eh enggak kok Bu, ibu ada apa memangnya Bu nelpon Sania?" tanya Sania dengan nada yang lembut.
"Kamu bisa kerumah sakit tidak nak, Daniel bakalan pulang hari ini, "ucap Bu Diana yang terlihat senang.
Tentu saja wanita paruh baya itu terlihat senang, pasalnya sudah lebih dari tiga Minggu lebih pria itu berada di rumah sakit.
"Oh tentu saja bu, aku akan segera kesana," ucap Sania.
"Ibu tunggu ya," ucap Bu Diana lalu mematikan sambungan telpon nya.
Sania benar-benar melupakan tentang Daniel. Padahal bisa dibilang dia juga alasan dari pria itu seperti itu.
Hanya saja Fathan tak memperbolehkan nya untuk menjenguk pria itu kembali. Sekarang tak ada lagi alasan untuk tidak menjenguk Daniel.
Sania segera bersiap - siap untuk pergi keluar.
Sebelum dia pergi Sania menyempatkan untuk memberitahu pada Intan jika dia akan keluar rumah serta meletakkan kunci di tempat yang akan diberitahu pada intan agar putri nya itu tidak lama menunggu kepulangan nya nanti hanya gara-gara kunci.
Di sisi lain Intan sudah berada di angkutan umum. Gadis itu memilih untuk naik busway.
Sangat banyak orang yang naik angkutan tersebut. Intan salut dengan orang-orang tersebut. Ada yang berangkat sangat pagi untuk bekerja, sekolah dan yang lainnya.
Tak sengaja Intan melihat seorang lansia yang berdiri. Intan langusung berdiri dan menyerahkan tempat duduk nya untuk pria yang sudah cukup tua tersebut..
"Terimakasih," ucap nya pada Intan yang dibalas senyum tipis oleh Intan.
Intan kini memegang gantungan tangan handle grip busway agar dia tidak terjatuh.
Sesekali Intan menukar pegangan tangan nya, karena memang pegal. Mana perjalanan nya lebih jauh dari biasanya karena memang busway memutar dan lewat jalur lain.
Busway yang ditumpangi oleh Intan akhirnya sampai juga di halte tujuan nya.
Intan harus berjalan sekitar 200 meter untuk sampai ke sekolah nya dari halte pemberhentian busway.
"Untung aja Intan tepat waktu," ucap nya seraya melihat jam tangan nya.
Gadis itu mempercepat langkah nya dan bersyukur nya dia gerbang masih terbuka.
__ADS_1
Saat hendak masuk terdengar suara motor yang sangat di kenal nya.
Dan benar saja itu adalah Mark, pria itu melirik sekilas pada intan lalu melajukan motor milik nya kembali.
"Bang Mark," lirih Intan.
Intan menghela nafas nya gusar lalu memasuki area sekolah nya.
Sangat sulit untuk dirinya menahan agar tidak berbicara dengan Mark. Intan membutuhkan usaha yang sangat keras untuk itu.
Dan sekarang dia di permudah karena Mark juga ikut - ikutan mencueki nya sekarang.
Intan tak akan mengalahkan pria itu karena memang diri nya lah yang memulai terlebih dahulu.
Akhirnya mereka kembali seperti orang yang tidak pernah mengenal sekarang.
"Intan, sini Weh," seru Ayyara dan juga Jesiie.
"Kenapa tuh, masih galau ya," ucap Intan duduk bersama dengan Jesi dengan Ayyara yang duduk di depan mereka bersama dengan Nia.
"Aaaa Intann, aku kangen sama Steven gimana dong," ucap Jesi membalikkan badan nya untuk menghadap Jesi dan juga Intan.
"Bukan nya kalian udah putus?" tanya Intan. Gadis itu juga jadi ikut kesal dengan Steven.
"Ih enggak lah, orang gak ada yang ngomong kata putus, berarti masih pacaran dong kan ya," ucap Ayyara yang tidak terima.
Intan menggeleng kan kepalanya. Ayyara ini memang sangat bucin. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu melihat kelakuan Steven di depan mata nya.
Tak butuh waktu yang lama untuk Ayyara memaafkan dan sekarang malah teramat merindukan Steven.
Intan hanya bisa mendukung keputusan Ayyara saja. Jika gadis itu memang bahagia nya bersama dengan Steven maka dia tidak berhak untuk melarang sahabat nya itu.
Hanya saja jika dia melihat Steven kembali menyakiti Ayyara, maka Intan tidak akan diam lagi seperti sekarang.
"Kalian harus ngomong empat mata, selesai in masalah nya gitu loh," ucap Jesi yang diangguki oleh Intan.
"Ish tapi masa aku yang nyamperin sih, dia gak nyari aku lagi. Apa dia udah gak sayang sama aku ya," ucap Ayyara sendu.
Pria itu bahkan tak repot - repot untuk mencari nya atau bahkan berniat menjelaskan pada nya membuat Ayyara overthingking.
TBC
__ADS_1