Possesive Man

Possesive Man
Part 28


__ADS_3

Fathan tak langsung pulang ke rumah nya setelah membebaskan Fedrick dari penjara. Pria itu menemui Carlos terlebih dahulu.


Pria itupun kemudian kini menyuruh pengawalnya untuk mengemudikan mobilnya ke rumah wanita nya. Tak sabar memberikan hukuman pada wanita yang membuat amarah nya mendidih.


Fathan mengakui diri nya memang sangatlah egois, dia sadar jika dia terlalu otoriter pada Sania padahal dia tak berhak untuk melakukan nya. Dia seenak jidat mengklaim jika Sania adalah miliknya dan hanya dirinya yang yang boleh atas Sania.


Namun Fathan tak perduli, karena apa yang telah dia anggap sebagai miliknya akan tetap menjadi miliknya dan tak akan membiarkan orang lain merebut nya.


Awalnya Fathan tak ingin memaksa Sania agar menikah padanya padahal bisa saja Farhan melakukan nya.


Dia ingin Sania menyukai nya terlebih dahulu sehingga mereka menikah atas dasar suka sama suka tanpa paksaan namun Karena perasaan dan ingin terus bersama. Tapi sekarang berbeda, sejak Sania dan Daniel mulai dekat, Fathan tak ingin ada orang lain dan dia tak suka akan hal itu.


Sekarang Fathan akan melakukan apapun agar Sania hanya menjadi miliknya dan melihat pada nya tanpa harus melihat orang lain.


"Kau yang membuat ku melakukan cara jahat seperti ini Sania," gumam nya sambil memandang ke luar jendela.


Setelah beberapa saat akhirnya dia sampai di kediaman Sania. Dia bisa melihat rumah itu kini sudah hangus dan hanya tersisa tembok yang sudah menghitam dan sudah dipastikan semua barang -barang disana sudah terbakar habis tanpa sisa.


Fathan masih bisa melihat ada beberapa warga yang masih berada disana. Fathan menghampiri beberapa dari mereka.


"Maaf, pemilik rumah ini keadaan nya bagaimana ya pa?"


"Ya mas, kasihan ibu yang tinggal disini, padahal dia sudah janda dan masih punya anak satu. Masih syok kayaknya pa, sekarang ada dirumah bu RT."


"Rumah nya dimana ya pa, saya teman nya yang punya rumah, saya kaget pas liat ini tadi pa," ucap Fathan.


"Oalah boleh mas, mari saya antar," ucap salah satu dari mereka.


"Terimakasih," ucap Athan.


Fathan mengantungi kedua tangan nya disaku celana nya miliknya. Dia bisa melihat Sania yang tengah bersama dengan beberapa warga yang masih bersama Sania duduk di teras Bu RT.


Fathan dalam dia memperhatikan Sania yang masih menangis tersedu-sedu itu. Fathan menyentuh dadanya yang terasa sakit saat melihat keadaan Sania yang seperti itu. Hatinya terasa sesak melihat air mata yang masih berjatuhan itu. Dia yakin jika mata Sania pasti akan membengkak. Dan sekarang Wanita itu kian terbatuk-batuk namun tetap tak menghentikan tangisannya.


Fathan pernah merasa kan nya dan itu sangat tidak nyaman dan terasa sakit.


Wanita nya terlihat begitu kelihatan harapan, wajah nya yang cerah kini meredup.


Fathan tak tahan lagi, awalnya dia ingin menunggu beberapa warga yang masih disana pergi barulah dirinya menghampiri Sania.

__ADS_1


Fathan mempercepat langkahnya dan saat sudah berada dekat dengan Sania. Pria itu langsung menarik Sania ke pelukannya, merengkuh nya ke pelukannya dengan erat.


"It's okey sayang, i'm here okey, " ucap Fathan.


Beberapa orang disana kaget dan ibu-ibu ada yang berbisik bisik melihat adegan itu. Bu RT menegur mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pamit pulang memberikan waktu untuk keduanya. begitupun dengan Bu Rt. Wanita itu meninggal kan Fathan bersama Sania.


"Fathan," lirihnya kini mendongak kan kepalanya.


"Yeah, i'm here. Everything Will be fine. Bieve me."


Sania menggeleng kan kepalanya. "Hikss gak ada yang lebih baik Fathan, semuanya hangus hiks rumahku terbakar," Isak nya.


"Gak ada yang tersisa, gimana aku bilang ini sama Intan," adunya.


"Sssttt, don't cry, i can help you, " ucap Fathan seraya mencium puncak kepala Sania dan menghapus lembut jejak air mata di pipi Sania.


"Mata mu nanti akan sakit, lihat sudah membengkak. Aku ingin kamu mengeluarkan semua nya tapi untuk sekarang sepertinya cukup sayang, kau sudah terlalu lama mengeluarkan air mata berrgamu ini."


"Seharusnya dia keluar saat kau merasakan bahagia,"


Sania memegang lengan Fathan, dia membutuhkan tumpuan dari pria itu.


"Duduk dulu sayang, kau mau minum ?"tanya Fathan mengambil gelas yang sudah tersedia disana.


Fathan ikut duduk tepat disamping Sania, dia menggenggam tangan Sania dan mengelusnya.


Setelah Sania menghabiskan air minum nya dia kembali memeluk sania. Memberikan kehangatan untuk wanita itu.


Tangis Sania sudah tak terdengar hanya isakan kecil yang keluar dari bibir nya yang mungil.


Sania juga tak terlihat merasa keberatan, Sania malah semakin mempererat pelukannya pada Fathan. Karena hanya pelukan itu yang dia butuhkan sekarang.


"Kamu bisa tinggal bersama ku, Intan juga. Pasti Mark dan yang lainnya akan senang,"


"Tidak, aku tidak mau merepotkan mu, apalagi Fedrick tak menyukai kami,dia akan semakin membeciku," ucap Sania dengan suara serak.


"Tidak akan, ada aku. Dia tak akan berani macam-macam. Jangan menolak, pikirkan Intan."


"Kau bisa kembali bekerja padaku, aku akan menempatkan mu di perusahaan milik ku, Kau bisa membayar uang tinggal di rumah ku dari gaji bekerja disana . Jadi kau tak perlu merasa utang Budi padaku nantinya."

__ADS_1


"Aku---"


"Kubilang jangan menolak, Intan sudah akan Lulus SMA, kau tau jelas itu." Ingat Fathan pada Sania.


Sebenarnya dia tak mau menerima uang dari Sania, baik itu untuk tinggal dirumahnya karena Sania nantinya akan menjadi pemilik rumah itu juga setelah mereka resmi bersama.


Tapi dia tau pasti Sania akan menolak, maka dari itu dia memberikan opsi itu padanya.


"Terimakasih Fathan, aku tak tau bagaimana lagi. Kau benar aku harus memikirkan masa depan Intan. Apalagi dia sangat ingin kuliah,"


"Nah, oleh karena itu kau harus semangat deminya. Jika kau seperti ini bagaimana kau akan menguatkan Intan nantinya. Kau harus bisa bangkit, ingatlah jika aku tak akan meninggalkan mu dan akan bersama mu. Kau tak sendiri Sania. Kau memiliki aku, anggap saja aku sebagai keluarga mu," balas Fathan penuh arti.


"Aku mengerti," cicit Sania.


Untung saja Fathan berbaik hati padanya. dia harus semangat. Jika sudah berhasil mengumpulkan uang dari gajinya nanti, Sania masih bisa untuk merenovasi rumahnya nantinya.


Sania melepaskan pelukannya dan menghapus air mata nya. "Aku akan merenovasi nanti, aku harus bisa,"


Fathan tersenyum. " Good, ini baru Sania yang kukenal.Jika kau butuh bantuan minta padaku."


"Untuk yang ini, aku ingin melakukan nya sendiri. Aku akan merenovasi kembali dengan hasil kerja kerasku."


"Of course, aku bangga padamu,"


"Minggu depan kamu mulai bekerja jadi asisten pribadiku," ucap Fathan mengulum senyumnya.


"Jadi asisten pribadi mu?"


"Tentu, apa kau keberatan sayang, aku hanya memiliki lowongan itu saja untuk saat ini, tak ada lowongan lain." Bohong Fathan. Padahal dia sedang merekrut beberapa karyawan lagi di kantor nya.


"Oke, aku sudah sangat senang karena kamu sudah memberikan aku pekerjaan."


"Ah dan jangan lupakan toko rotinya, kau bisa menghadle nya kan?" tanya Fathan. Dia tetap ingin Sania melakukan apa yang dia sukai, melakukan hobinya.


"Oh, bolehkah aku?"


"Tentu saja, kenapa masih bertanya? aku kan sudah memberikan wewenang sepenuhnya untukmu untuk mengawasi toko kue itu."


"Terimakasih," ucap Sania kembali. Fathan teramat begitu baik padanya.

__ADS_1


"Your Welcome," ucap nya sambil mengecup pelipis Sania.


TBC


__ADS_2