
"Mommy," pekik Intan yang baru saja bangun yang membuat ke-empat anak Adam yang sedang bermain catur itu menjadi kaget.
"Yes lu kalah, gue memang ahaah," ucap Mark.
"Apaan lu curang," sentak Vandra yang sempat melihat Mark menggeser catur milik Fedrick saat pria itu sedang melihat ke arah Intan.
"Gak ada ya, sok tau. Intinya gue sama bang Athan yang menang," ucap Make yang tak mau kalah.
Athan tak memperdulikan permainan itu lagi. Pria itu sekarang hanya fokus pada Intan saja.
"Intan, kamu butuh sesuatu sayang?" tanya Athan.
"Mommy mana, mommy. Mommy tadi dibawa sama.."
"Stssss, mommy baik-baik aja. Mommy ada di rumah ini juga kok," ucap Athan menenangkan Intan yang panik.
"Intan mau ketemu mommy," pinta Intan.
"Nanti ya, Mom belum bangun kayak nya," ucap Athan yang akhirnya disetujui oleh Intan. Yang terpenting adalah Sania dalam keadaan baik-baik saja.
Mark dan kedua saudara nya ikut meninggalkan permainan catur nya dan menghampiri Intan.
"Hai dek," ucap Mark dengan ceria. Mark senang karena satu atap kembali dengan gadis yang sudah dianggap nya sebagai adik kesayangan nya.
"Kamu mau istirahat kembali?" tanya Athan .
"Baru bangun malah disuruh tidur lagi, enak banget kerjanya cuma tidur doang," ucap Fedrick yang mendapat sikutan dari Vandra tepat di perut nya.
"Apaan sih lo," kesal Fedrick yang mendapat serangan tiba-tiba itu.
"Makanya jangan berbicara sembarangan, seingat ku kau sudah berjanji untuk tidak mengatakan hal jahat lagi pada mereka," desis Vandra.
"Gue cuma bercanda, mengapa kalian menjadi tidak memiliki selera humor," ucap Fedrick memutar bola mata nya malas dan akhirnya pergi terlebih dahulu dari kamar Intan.
"Tingkah nya makin hari makin aneh saja," ucap Vandra yang melihat Fedrick yang berbuah akhir akhir ini.
"Kembaran lu tuh bang," ucap Mark.
"Berisik, suara kalian menganggu ketenangan Intan," ucap Athan.
"Intan pengen makan gak?" tanya Mark.
"Enggak bang, Intan belum laper,'
"Masa nunggu harus laper dulu baru makan, sini Abang traktir deh entar bang Athan yang bayarin," ucap Vandra yang mendapat delikan sebal dari Mark.
"Traktir, Traktir, ujung-ujungnya gak mau rugi juga Lo, anjirr emang,"
"Language!"
__ADS_1
Vandra melirik Mark dengan sangat puas. Dia mengejek pria itu karena mendapat peringatan dari Athan.
"Eum maaf bang, keceplosan heheh," Mark memukul kecil mulut nya yang tak bisa diajak untuk kompromi.
"Jangan ulangi didepan ku!" desis Athan.
Dia tidak ingin jika sampai Intan meniru perkataan Mark nanti nya.
"Iya bang," cicit Mark.
"Rasain lo," ucap Vandra tanpa suara.
"Aku mau ketemu mommy," ucap Intan yang berusaha turun dari ranjang.
Athan menhela nafas nya pelan. " Nanti aja ya, Intan sama kita dulu. Abang kangen sama Intan loh," ucap Athan.
"Iya tuh bener kata bang Athan, Intan gak betah yah lama - lama sama kita," ucap Vandra dengan wajah yang dibuat nya sesedih mungkin.
"Eh bukan gitu abang, Intan cuma pengen ketemu Mom aja, tadi kan lagi marahan sama om ,"
Intan takut saja jika mereka kembali bertengkar hebat, Intan masih mengingat jelas Fathan yang menatap nya dengan wajah datar dan dingin.
"Om, om siapa,"
"Om Fathan," ucap Intan.
"Lah kok Intan manggil Daddy dengan sebutan om sih?" tanya Vandra yang bingung.
"Em, kan emang iya, om Fathan bukan Daddy Intan," jawab Intan dengan wajah polos.
"Secepatnya akan menjadi Daddy Intan," balas Athan dengan tersenyum misterius.
"Hah,"
"Lupakan, nanti Intan juga bakalan tau," balas Athan.
"Udah ah, Intan ikut Abang aja yuk, ambil buah stroberi di belakang rumah, udah banyak loh," ucap Mark yang membuat senyum Intan langsung mengembang.
"Aku mau, aku mau," ucap Intan dengan semangat bahkan langsung turun dari ranjang nya.
"Calm down sayang," ucap Athan yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Intan. Untung saja gadis itu tidak terjatuh karena aktif nya.
"Hehe maaf bang, soalnya Intan udha gak sabar, Intan suka banget sama stroberi," ucap Intan.
"Okeeyyy go," ucap Vandra yang memimpin terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan menuju taman belakang Intan menyempatkan untuk melirik sana sini. Tak ada yang berubah dari rumah itu.
Terkadang Intan menyapa beberapa pelayan yang memang akrab dengan nya.
__ADS_1
"Woah, apa itu," ucap Intan menunjuk ke aquarium yang terdapat banyak ikan berwarna hitam.
"Itu ikan ****** hias dek," ucap Vandra.
"Em kenapa warna nya hitam semua, kalo warna warni pasti cantik," ucap Intan.
"Tidak tau, tanyakan saja sama orang ini, entah mengapa selera nya seperti itu," ucap Mark melirik Athan ya b mengedikkan bahunya.
Menurut nya iman ****** warna hitam itu menarik dan cantik, jadi dia memelihara beberapa.
"Ini punya Abang ya,"
"Iya,"
"Intan mau?" tanya Athan.
Intan menggeleng kan Kepala nya kecil, dia tak suka ikan berwarna hitam itu dia suka nya yang berwarna warni.
Athan mengangguk kecil, namun dia akan tetap membelikan untuk gadis itu ikan yang didinginkan oleh Intan tentu saja.
"Wah, banyak banget," ucap Intan terkagum melihat banyak nya stroberi yang di tanam di taman milik keluarga teresebut.
"Tunggu dulu," tahan Athan saat Intan ingin segera beranjak.
"Intan melupakan keranjang nya," ucap Athan memberikan keranjang stroberi pada Intan dan juga memasang topi pada Kepala gadis itu agar Intan tidak merasa panas.
"Wihh, ini nih yang kemarin gue tanam, yang lu tanam pasti pada mari semua Mark." ucap Vandra.
"Dih berlagak sok nanem Lo, perasaan kemarin kemarin Lo cuma jadi mandor doang," ucap Mark.
"Enak aja, gue nanem satu ya. Itu pasti yang ini, seingat gue, gue itu nanem nya sebelah sini," tunjuk Vandra lada pohon stroberi yang begitu lebat dan memiliki buah yang banyak dan juga besar.
"Dih setan, satu doang bangga," kesal Mark yang malah meladeni Perkataan tidak jelas Vandra.
Intan tak menghiraukan keributan Mark dan Vandra yang sudah biasa di lihat nya.
Stroberi - stroberi itu lebih menarik perhatian Intan.
Sedangkan Athan menyempatkan diri nya untuk memfoto kegiatan Intan dan juga Vandra dan Mark yang sedang bertengkar.
Pasti sangat menyenangkan suatu saat merewacth rekaman itu.
Setelah nya Athan bergabung dengan ketiga orang yang sudah sibuk dengan dunia masing-masing.
"Wuhh gede banget bang, liat ini woy," Heboh Mark menggoyang kan tubuh Vandra membuat Vandra menatap sinis ke arah Mark.
Athan menghela nafas nya melihat tingkah mereka yang semakin hari semakin absurd saja.
Ingin sekali rasanya Athan mengganti adik menjadi yang lebih kalem. Bisakah.
__ADS_1
TBC