
"Ini bukan jalan ke perpustakaan, Intan mau kemana sih sebenernya, tumben banget dia gak ngomong biasanya selalu laporan," ucap Ayyara seraya pelan - pelan mengikuti Intan. Dia sengaja melambat kan langkah nya agar Intan tak menyadari dan melihat kebelakang.
Ayyara yang memimpin jalan dengan Steven dan Jesi yang mengekor dibelakang nya.
Bisa saja dia langsung menghampiri Intan, tapi dia ingin tahu kemana Intan akan pergi. Dia penasaran karena Intan terlihat buru-buru.
Dan lagi biasanya, saat hendak pergi Intan selalu mengajak dan mengatakan kepada nya dengan Jesi dan Aya namun hari ini, Ayyara merasa sesuatu disembunyikan oleh Intan.
"Yang, kenapa sih, langsung aja panggil Intan nya. Ngapain kita kayak gini coba. Ngendap-ngendap ga jelas," heran Steven namun tetap mengikuti apa yang dilakukan sang kekasih.
"Tau nih si Aya, " ucap Jesi.
"Sssttt, kalian diam deh jangan berisik, kalian gak liat, tuh si Intan malah jlan ke arah gudang. Ngapain coba? tadi jelas-jelas katanya mau ke perpus." Jelas Ayyara pada kedua orang yang tengah protes itu.
"Mau mojok kali si Intan," jawab Jesii asal.
***
"Akhirnya Dateng juga lo, " ucap Bela dengan senyum sinis seraya bersedekap dada.
"Masuk gih," ucap Bela mengode dengan lirikan mata yang mengarah kedalam gudang sekolah yang remang remang.
"Ngapain? kalo Intan gak mau gimana. Sebenarnya kalian mau ngomong apa sama Intan?" tanya Intan.
__ADS_1
"Banyak nanya Lo!! " ucap salah satu antek-antek Bela seraya mendorong tubuh Intan dengan kasar kedalam gudang.
Karena sangking kasarnya didorong Intan sampai terjatuh dan menimbulkan luka di lututnya.
"Shhh," desis Intan menyentuh lututnya yang tehantuk dengan kuat dengan lantai gudang yang kotor.
Pakaian kini ikut kotor karena hal tersebut.
"Aduh Lena, jangan kasar kasar dong kasian Intan nya. Kamu gapapa kan Intan?" tanya Nada sambil mengulurkan tangan nya .
Intan yang merasa jika gadis itu mau membantu nya, mengulurkan tangan nya.
Saat sudah hampir berhasil berdiri, Nada melepaskan genggaman tangan nya membuat tubuh Intan menjadi tidak seimbang dan kembali terjatuh.
"Uhhh kasian, sakit ya! eum maaf ya tapi kita gak peduli," kekeh Bela.
"Kalian kenapa lakuin ini sama Intan? Intan salah apa sama kalian?" geram Intan yang mulai kesal dan tersulut emosi.
Intan juga adalah manusia biasa, dia memiliki batas sabar juga. Jangan karena dia bertingkah laku polos dan seperti orang bodoh membuat orang lain bisa semena-mena pada nya.
Intan tak akan membiarkan nya. Intan juga memiliki sisi lain yang tak sering ditunjukkan olehnya.
"Gue tuh benci sama Lo Intan, karena apa? Karena Lo dekat sama Mark dan yah lu tu so kecakapan dan kecentilan!" desis Bela.
__ADS_1
"Betul, kek bocah lagi. So so polos padahal kita gak tau aslinya gimana ya kan. Biasanya yang polos itu kebanyakan yang menghanyutkan," sela Nada sinis.
"Iya dong, Intan kan sebenarnya ada 2 orang," sinis Intan lada ketiganya.
Intan kini berdiri dan mengusap tangan nya yang kotor.
"So, emang kenapa kalo Intan dekat sama bang Mark? iri ya? Bang Mark gak mau lirik situ. Iyalah Intan aja liat muka kian males. Auranya gelap." ejek Intan yang berhasil membuat ketiga nya geram.
"Berani banget lo ngomong kayak gitu sama gue," sentak Bela hendak menarik baju merah Intan.
Namun belum sempat dia melakukan nya. Intan dengan sigap langsung memelintir tangan Bela hingga membuat Bela memekik kesakitan.
"Shshs, lepasin gue sialan!"
Mendengar Bela yang berteriak padanya, Intan lantas langsung mendorong Intan pada Nada dan Lena.
"Lu gapapa Bel?" tanya Nada.
"Nanya lagi Lo! liat gak tadi gue diapain? Malah diem aja," bentak Bela kesal.
"Cih, gitu doang! ayo sini maju," tantang Intan menampilkan senyum miring yang tak pernah ditunjukkan nya.
Dia akan meladeni ketiga gadis itu. Sungguh sekarang Intan sangat bersemangat sekali. Sudah lama dia tidak melakukan hal-hal seperti ini.
__ADS_1
TBC