Possesive Man

Possesive Man
part 61


__ADS_3

"Dia benar-benar berniat mengurung ku disini kah? aku merasa sangat tidak nyaman sekali," lirih Sania seraya melihat tangan  dan kaki nya yang saat ini masih terikat.


Sania merasa mengantuk sekarang tapi dia mana bisa tidur dengan posisi seperti itu. sania ingin bergerak bebas.


Ceklek


Baru saja sania memikirkan pria itu, Fathan kini sudah berada dalam kamar nya membawa makanan dan segelas air di atas talanan dan meletakkannya di meja nakas dekat dengan ranjang tempat Sania berada.


Pria itu tak membuka suara nya sama sekali. Hanya saja tangan pria itu bergerak pelan-pelan dan hati-hati untuk  membuka semua ikatan pada lengan dan kakinya, lalu setelahnya Fathan melempar asal tali itu.


Tanpa banyak kata pria itu lalu berlalu dan menutup kembali pintu kamar. Hal itu tentu saja membuat Sania itu ia itu menjadi tercengang. Pria itu mendiaminya sekarang. Entahlah sania tidak tahu sebenarnya sifat asli pria itu bagaimana, susah sekali baginya menebak kepribadian Fathan yang menurutnya sangat lah membingungkan.


Namun, Sania bersyukur akhirnya dia bisa lepas dari tali yang sedari tadi mengganggu pergerakan nya. Untung saja pria itu masih memikirkan nya.


Karena lapar Sania akhirnya mengambil makanan yang sudah disediakan oleh Fathan untuk nya. Sania tidak akan menolak nya atau menangis dan mogok makan agar  pria itu membebaskan nya. Sania yakin pria itu tak akan mengurungnya dalam waktu yang lama mengingat Intan juga pasti akan bertanya-tanya.


tok tok tok


Sania mendengar suara keetukan pintu dari luar, apakah itu Fathan? tapi pria itu baru saja keluar dan untuk apa pria itu mengetuk pintu.


Karena Sania belumm memberi jawaban pintu itu pun terus diketuk dari luar.


"Mom, mommy ada didalam?" teriak Intan dari luar sana.


Mata Sania membulat, dari mana Intan tahu dia ada disana, apa mungkin Fathan yang memberitahunya, pikir Sania.


Sania segera mendekat kearah pintu. "Intan," panggil nya


"Mom. buka pintunya," ucap Intan dari seberang sana sambil tak lelah nya untuk mengetuk pintu.


"Astaga sayang, udah itu, cukup gedor-gedor nya nanti tangan kamu jadi sakit," pinta Intan.


Pasalnya Intan mengetuk pintu kamar nya dengan sangat kuat, takutnya tangan Intan jadi lecet nantinya.


"Ih yaudah makanya buka pintunya dong mom, kenapa dikuci sih," balas Intan yang menghentikan kegiatan mengetuk nya.


"Bukan mommy sayang, itu pintunya di kunci dari luar," sania memberitahu gadis itu alasan dia tak segera membuka pintu nya untuk Intan.

__ADS_1


"Loh kok bisa, tapi daddy tadi bisa,"ucap Intan.


"Hah kenapa?' ulang sania.


"Hehehe tadi aku ngikutin daddy, soalnya aku khawatir sama mommy, kata daddy mommy sakit dan gak boleh digagggu, tapi Intan pengen liat mommy. Intan pengen liat keadaan mommy," jelas Intan panjang lebar.


Intan mencoba untuk tidur lebih awal tadinya, tapi Intan tidak bisa karena pikiran nya terus berada pada Sania.


"Mommy demam ya, kata daddy gitu, terus ini buka nya gimana," cerocos Intan dari luar sana.


Ternyata benar apa yang dipikirkan oleh Sania tadi, pria itu ternyata membohongi Intan. Fathan tidak akan mungkin mengatakan pada Intan bahwa pria itu sedang mengurung nya.


"Intan," ucap Sania saat tak mendengar suara putrinya itu lagi.


"Sepertinya Intan sudah pergi," gumam Sania pelan.


Sania akhirnya memilih kembali ke tempat nya tadi untuk melanjutkan acara makan nya yang tertunda tadi.  Karena sejujurnya Sania memang merasa lapar.


***


"Daddy tadi lewat situ yah, berarti daddy lagi ada diruang kerja nya," gumam Intan melangkahkan kaki nya ke kamar pria itu.


Intan tentu saja mengikuti Fathan yang ternyata hendak menemui Sania juga, sama sepertinya. Dari sanalah Sania tau jika Sania berada dalam kamar itu. Jika saja tadi dia tak melihat Fathan pasti sekarang Intan masih harus mencari     kamar yang ditempati Sania di rumah yang luas ini.


Tapi bukan hanya itu saja, Fathan tadi seperti orang yang sedang tidak mood dan berwajah dingin dan tidak menampilkan ekpresi apa pun.


Intan jadi merasa sedikit ragu untuk menghampiri  Fathan yang sedang berada dalam ruang kerja pria itu. Intan takut menganggu. Tapi Intan ingin sekali melihat keadaan Sania.


Akhirnya dengan berpikir dua kali Intan memantapkan hatinya untuk tetap menghampiri Fathan.


Intan membuka sedikit pintu dan menyembulkan kepala nya, melirik Fathan yang sedang sibuk dengan laptop yang berada didepan nya. Pertama kalinya juga Intan melihat Fathan memakai kaca mata saat bekerja.


Intan menjadi kagum dengan Fathan karena Fathan terlihat semakin tampan dan seperti sugar daddy jika memakai kaca mata.


Dan sepertinya pria itu menyadari keberadaan Intan, Fathan menoleh ke arah Intan yang hanya menampilkan kepala nya saja.


"Astaga Princess, kenapa berdiri disitu," kekeh Fathan merasa gemas melihar Intan.

__ADS_1


"Heheh, maaf dad, Intan ganggu kerja Daddy gak?" tanya Intan tidak enak sembari menyengir.


"Enggak kok, emang ada apa Princess, kamu butuh sesuatu?" tanya Fathan yang peka.


"em ya, balas Intan dengan anggukan kecil.


Intan bernafas lega saat pria itu bersikap seperti biasa pada nya, Intan pikir pria itu akan menatapnya datar tadi.


"Yaudah sini princes, mau apa heum," suruh Fathan pada Intan agar gadis itu mendekat kepada nya.


"Katakan, Intan mau apa? daddy bakalan kasih apa aja yang Intan mau. Intan mau beli apa?" tanya Fathan kembali dan menunggu jawaban dari Intan.


"Em beneran nih, daddy mau kasih apa aja buat Intan?" tanya Intan memperjelas.


Intan merasa beruntung sekali memiliki daddy yang royal. Fathan benar-benar melengkaoi kasih sayang seorang ayah yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.


"ya dong, pasti,"


"Intan pengen ketemu mommy dad," ucap Intan memberitahu keinginan nya sedari tadi ada dalam benak nya.


"Sekarang banget, kan Daddy tadi udah bilang kalo mommy lagi sakit dan mommy belum bisa ditemuin soalnya mommy udah tidur," ucap Fathan membuat Intan terdiam.


"Tunggu mommy sembuh dulu ya,' pinta Fathan sambil mengelus rambut panjang Intan.


Daddy kenapa bohong. batin Intan


"Sekarang aja ya dad, Intan cuma pengen liat mommy aja, Intan gak bisa tidur soalnya," ucap Intan semakin gencar.


Terlihat Fathan menghela nafas nya, " pas mommy udah sembuh okey," tegas Fathan.


Jika Fathan sudah berbicara seperti itu, berarti Fathan sudah serius dan sepertinya tidak mau dibantah.


"Yaudah," lesu Intan dengan nada yang kentara sekali jika dia merasa kecewa


"Intan, maaf," ucap Fathan.


Mata Intan mengerjap saat Fathan memnaggil langsung namanya.

__ADS_1


"Sekarang Intan tidur, udah malem. Besok sekolah kan?" ucap Fatha.


TBC


__ADS_2