Possesive Man

Possesive Man
Part 127


__ADS_3

Petang kini sudah berakhir berganti dengan malam. Namun ketiga gadis tersebut terlihat masih senang-senang seakan masih belum lelah dan seperti tidak ada hari esok lagi.


Athan sebagai orang tertua dan sebagai pengawas mereka tentu tidak boleh membiarkan mereka lupa waktu lagi.


"Girls, cukup untuk hari ini, kita harus pulang. Dan untuk kalian berdua nanti akan dicari orang tua kalian masing-masing," ucap Athan lada mereka.


"Yah, pulang sekarang bang? tanggung banget, Intan masih pengen disini," ucap Intan memelas.


Athan sekarang tidak ingin termakan wajah memelas itu lagi. Dia harus bisa lebih tegas, udara juga semakin dingin dan ke-tiga nya juga besok harus sekolah.


"Tidak bisa, kita pulang sekarang," tekan Athan dengan wajah yang dipasang tidak bersahabat agar Intan tak lagi merayu nya.


Athan berjalan terlebih dahulu menuju ke parkiran.


"Yah, bang Athan marah yah," ucap Intan yang melihat kepergian Athan.


"Enggak, bang Athan enggak marah kok. Kita pulang aja Ntan lain kali kita bisa jalan lagi kesini, udah jam tujuh malam loh," ucap Ayyara.


Mereka saja masih memakai seragam sekolah sampai sekarang.


"Iya Ntan, daripada bang Athan marah beneran yuk, serem tau kalo dia marah apalagi tuh wajah datar nya," ucap Jesi yang menyetujui.


"Yaudah deh," pasrah Intan pada akhirnya.


Dia tidak boleh egois hanya karena keinginan nya sendiri. Lagipula harus nya dia berterimakasih karena sudah diajak kemari dan bang Athan memberikan waktu yang banyak untuk nya.


Dari siang sampai malam ini Abang nya tersebut selalu menuruti keinginan nya. Mulai dari membayar semua tiket ke dalam wahana dan makan juga, pria itu bahkan sama sekali tidak hitung-hitungan.


Ke tiga nya akhirnya menuju ke parkiran mobil. Untung saja mereka tidak nyasar.


"Abang kira bakalan betah sampai besok," sinis pria itu.


"Maaf Abang," lirih Intan yang menunduk di samping Athan.


Athan mengangguk mengerti, Intan memang masih membutuhkan hiburan tersebut di usia nya yang memang masih muda.


"Gapapa, Abang negeri kok. Nanti kita kesana lagi. Abang janji, tapi kalo Abang udah bilang pulang Jangan bandel," ucap Athan menyentil kening gadis itu dengan pelan.


"Seriusan kita nanti kesini lagi?" tanya Intan dengan begitu antusias nya.


"Ya dong, masa Abang bohong," Athan mengusap rambut gadis itu acak.


Ayyara dan Jesi yang duduk di kursi belakang sedikit merasa itu melihat keakraban Intan dengan Athan yang notabe nya hanya Abang tiri Intan.


Sebagai anak pertama dalam keluarga mereka, terkadang timbul keinginan ingin memiliki Abang.

__ADS_1


Namun apa boleh buat mereka ditakdirkan menjadi anak pertama dan satu-satunya di keluarga mereka.


Athan mulai menjalankan mobil nya dan mengantar teman Intan sau persatu sampai ke rumah mereka masing-masing.


Untung saja jalan tidak terlalu macet hingga mereka bisa sampai jam 9 lebih di rumah.


"Ada orang tuh bang," ucap Intan yang melihat seseorang tengah berdiri di depan rumah mereka.


Athan menyipitkan mata nya untuk melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Intan. Dan seperti nya dia mengenal orang itu.


"Kamu duluan gih, mandi habis itu tidur. Jangan nonton Drakor lagi," peringat Athan.


"Oke bang," ucap Intan yang turun terlebih dahulu dari mobil.


Intan tersenyum lebar saat melihat orang yang tengah di depan rumah.


"Kak Sophie!" Sapa Intan pada gadis itu yang dibalas lambaian oleh Sophie.


"Ka Sophie nunggu bang Athan ya, bang Athan tuh lagi masukin mobil," ucap Intan.


"Iya kaka tau, Kalian habis darimana?" tanya nya.


"Heheh habis jalan-jalan sama bang Athan," ucap Intan.


"Kaka udah lama, kok gak masuk?" tanya Intan.


"Kakak cuma bentar ko, cuma mau ngasih ini sama dokter Athan," ucap nya menunjuk berkas yang Intan tidak tau


isinya.


"Em yaudah, aku masuk duluan yah ka," ucap Intan yang dingguki oleh Sophie.


Setelah Intan masuk muncul lah Athan yang tampak semakin tampan di hadapan nya.


Pria itu memakai baju santai sekarang, berbeda dari hari-hari yang biasanya dia lihat.


"Ada apa?" tanya Athan dengan to the point.


"Em, aku hanya ingin memberikan ini lada dokter," ucap Sophie menyerahkan laporan nya.


Athan mengambil nya, itu adalah laporan yang dia minta kepada Sophie.


"Kenapa harus kemari? kamu bisa memberikan nya besok di rumah sakit," ucap Athan.


Athan juga tidak menyuruh nya untuk terburu-buru untuk membuat laporan tersebut. Apalagi ini sudah malam hanya untuk mengantar sebuah laporan.

__ADS_1


"Gapapa dok, tadi saya lagi diluar sekalian aja mampir ke rumah buat ngasih, besok takut lupa," ucap Sophie.


"Oh oke," ucap Athan.


"Em yaudah kalo gitu saya pamit pulang," ucap Sophie.


"Hati-hati," ucap Athan pada gadis itu.


"Sophie!!" panggil Vandra dari rumah.


Athan memutar bola mata nya malas dan berdecak. Untuk apa saudara nya itu keluar dan malah memanggil Vandra.


"Kata Intan kau kemari, " ucap pria itu.


"Ah iya, mau ngater laporan ke dokter Athan," ucap Sophie.


"Kukira kau mau menemui ku," Vandra menaik turunkan alis nya.


"Ayo masuk, kenapa malah diluar. Bang Athan juga kok gak ngajak tamu masuk sih," Vandra langsung menarik tangan Sophie untuk masuk ke dalam.


Athan menatap tajam ke arah tangan Vandra yang menggenggam tangan Sophie.


Pria itu lantas ikut masuk kedalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.


Tak menghiraukan Vandra dan Sophie yang kini duduk berdua di ruang keluarga.


Sophie tersenyum masam melihat kepergian Athan.


"Tidak usah dipikirkan, dia memang seperti itu, mau hanya harus berusaha lebih keras lagi. Jika kau berhasil, sifat nya akan berubah drastis padamu, sama seperti pada Intan atau mungkin lebih," ucap Vandra yang mengerti kegundahan hati gadis itu.


"Kau yakin sekali jika aku bisa, dia sangat sulit untuk mu tangani," keluh Sophie menatap tv yang tengah menyala di hadapan nya.


"Ya karena dia juga menyukai mu, dia hanya gengsi, lihat saja tadi, wajah nya saat menatapku karena menarik tangan mu seakan mengatakan jangan menyentuh milikku,"


"Kau bisa saja, ah iya aku tidak melihat om dan Tante. Mereka kemana,"


"Mereka sedang honeymoon ke luar negeri." jelas Vandra.


"Wah, apa kalian akan memiliki adik lagi?" tanya Sophie yang membuat mata Vandra membulat.


"Hell no, aku tidak ingin memiliki adik lagi, apa kata orang. Umurku saja sudah berapa sekarang," ucap Vandra yang tak bisa membayangkan nya.


"Iya juga, Tapi kan pasti lucu, cantik sama ganteng, soalnya om sama Tante juga bibir unggul," ucap Sophie.


TBC q

__ADS_1


__ADS_2