Possesive Man

Possesive Man
Part 79


__ADS_3

Seperti biasa nya, Jesi dan Intan selalu mengambil tempat duduk di pojokan kantin. Agar jauh dari keramaian.


"Mau makan apa ya," gumam Intan sambil mengetuk-ngetuk jari nya di meja.


"Permisi ka," ucap dia orang siswi yang seperti nya adalah adik kelas mereka.


Kedua gadis itu membawa makanan serta segelas minuman di tangan mereka.


"Ini buat Kaka nya," ucap mereka dan meletakkan nasi goreng spesial serta minuman nya di hadapan Intan sama juga Jesi.


"Hah, ini buat kita? yang bener aja,' ucap Intan tidak percaya. Tadi nya dia berpikir jika kedua nya ingin bergabung melihat meja kantin yang memang sudah cukup penuh.


"Iya ini untuk ka Intan," ucap salah satu gadis itu memberikan secarik notes.


"Kami pergi dulu ka," ucap kedua nya dengan cepat, Intan padahal masih memiliki banyak pertanyaan.


"Wah apaan tuh Ntan isi surat nya. Kayaknya ini dari yang kasih makanan nya deh," ucap Jesi yang kini kepo akan isi surat nya.


For Intan


Dimakan ya cantik


"Widihh cantik gak tuh, wah Ntan kamu punya pengagum rahasia, busett diam - diam Intan ini banyak yang incar," seru Jesi yang heboh saat membaca isi surat nya.


"Tapi dari siapa coba, masa iya sih?" tanya Intan seraya memutar mata nya menelusuri kantin.


"Udah sih Intan, itu artinya dia tuh suka sama kamu, sampe dikirim makanan segala," ucap Jesi yang sudah mulai memakan makanan nya dengan sangat Santai.


"Eh, kok dimakan. Kita belum tau Jes siapa yang ngasih. Gimana kalo ini dikasih apa-apa nya," ucap Intan yang negatif thinking. Bagaimana tidak, dia bahkan tidak kenal siapa jelas orang yang mengirimkan nya ini.


"Buktinya aku baik-baik aja, udah lah makan aja mumpung gratis'," ucap Jesi tertawa kecil.


Melihat Jesi yang terlihat lahap dan memang tidak kenapa-kenapa sontak membuat Intan menjadi ikut lapar apalagi melihat hidangan yang berada di depannya kini terlihat mengunggah selera.


Intan dengan berpikir dua kali akhirnya memakan nasi goreng tersebut.


"Eum, enak," ucap Intan.


"Bener kan yang aku bilang ,tidak kenapa-kenapa, sering-sering deh begini," Seru Jesi

__ADS_1


Tanpa kedua nya sadari, ada satu pasang mata yang mengawasi mereka atau lebih tepatnya ke arah Intan yang terlihat begitu menyukai nya.


Dia tersenyum tipis lalu meninggalkan kantin setelah memastikan Intan sudah memakan nasi goreng yang sudah di belikan nya.


***


"Kita naik mobil?" tanya Ayyara saat Steven malah membawa nya ke arah parkiran.


"Heem," dehem Steven.


"Kamu ngajak aku bolos? really? padahal katanya gak boleh bolos," cibir Ayyara.


Pria itu selalu mengingatkan nya untuk selalu tetap masuk kelas. Dan lihatlah sekarang pria itu sendiri yang malah menyuruh untuk bolos kelas.


"Gapapa sesekali, kan bareng aku. Kalo bukan bareng aku ya gak bole," ucap Steven.


"Itu dulu, sekarang kita kan udah berakhir," ucap Ayyara.


Steven sontak menghentikan langkah kakinya.


"Gak ada kata berakhir Aya," desis Steven yang tidak suka akan penuturan dari gadis nya itu.


"Daddy bilang begitu," ucap Ayyara tak mau kalah.


Kini keduanya benar-benar bolos, untung saja satpam sekolah bisa diajak bekerja sama dan Steven memberi sedikit kompensasi hingga pintu dibuka untuk mereka.


"Kita akan ke rumah pohon," ucap Steven ketika sudah berada di mobil.


"Hah beneran?" tanya Ayyara dengan mata yang berbinar. Sudah lama mereka tak kesana.


Steven hanya sekali mengajak nya untuk ke rumah pohon. Pria itu kerah berjanji akan membawa nya kembali kesana dan ini lah yang ditunggu oleh Ayyara.


"Iya, kamu seneng?" tanya Steven seraya mengemudikan mobil nya dengan pelan.


"Iya," angguk Ayyara dengan antusias. Steven tersenyum melihat nya, akhirnya dia bisa melihat lagi wajah gembira gadis nya itu.


Ayyara menatap penuh minat jalanan di depan nya. Gadis itu menjadi sangat bersemangat bahkan melupakan sejenak kejadian yang menyakitkan untuk nya.


"Boleh bukakan jendela nya," pinta Ayyara.

__ADS_1


Steven tentu sja mengangguk, dia tak dapat menolak permintaan Ayyara yang cukup sederhana dan mudah dia lakukan.


Ayyara akhirnya menurunkan kaca jendela mobil Steven. Menikmati terpaan angin yang mengenai wajah nya.


"Woah," Ayyara berteriak antusias, untung nya tak banyak pengguna jalan di sekitar mereka dan hal itu membuat Ayyara nampak santai untuk mengeluarkan wajah nya.


"Aya, No, jangan keluarkan kepala mu itu berbahaya," ucap Steven yang khawatir.


Ayyara sama sekali tidak menghiraukan dan malah semakin menjadi.


Steven yang geram pun membanting setir nya ke pinggir jalan dan seketika mobil yang mereka naiki berhenti.


Steven memandang sang kekasih dengan tajam. Demi apapun dia hanya takut gadis itu kenapa-kenapa.


Sedangkan Ayyara hanya diam tanpa berani menatap manik milik hitam Steven. Ayyara meringis pelan, jika Steven sudah marah akan sangat menyeramkan bahkan tak bisa membuat diri nya berkutik.


"Look at me," tekan Steven saat Ayyara tak mau memandang ke arah nya.


Perlahan Ayyara mengalihkan pandangan nya ke hadapan Steven dan dapat dia lihat betapa menyeramkan nya wajah pria itu yang sedang menahan amarah.


"Kau tau apa kesalahan mu sayang," tanya Steven yang di balas anggukan oleh Ayyara. Ini memang smash nya, dengan seenak nya membuka jendela dan mengeluarkan kepala nya tanpa tahu jika itu akan berbahaya untuk nya, terlebih lagi udara yang cukup kencang.


"Maafkan aku," ucap Ayyara.


Setelah nya Ayyara memekik terkejut, ketika Steven memindahkan tubuh nya ke atas pangkuan pria itu.


Ayyars bergerak gelisah mencoba untuk melepas dirinya. Ini pertama kali untuk nya duduk tepat di pangkuan Steven membuat dia sedikit tidak merasa nyaman.


"Diamlah sayang, atau kau akan membangun kan sesuatu yang berada disana," ucap Steven dengan nada yang berbahaya.


"Lepasin aku dulu, kamu kenapa jadi kayak gini sih," ucap Ayyara.


pria itu seperti orang yang berbeda sekarang dan tatapan nya yang aneh.


"Aku ingin menunjukkan sifat lain ku padamu Aya, kuharap kamu mau menerima nya. Aku juga akan menjelaskan semua yang telah terjadi padamu saat kita sudah sampai di rumah pohon. Aku tidak akan membiarkan mu pergi dari ku Aya, tidak akan. Meski kamu akan tidak menyukai sifat ku nanti nya," bisik Steven tepat di telinga Ayyara.


"Lepass," ucap Ayyara mencoba menyingkirkan tangan besar Steven yang kini melingkari pinggang nya.


"Not that easy sayang," bisik Steven kembali dengan nada rendah nya.

__ADS_1


Steven yang dulu nya bahan tak berani untuk sedekat ini lada nya sekarang malah berbuat lebih.


Pria itu dengan berani mengigit kecil cuping telinga Ayyara, hingga gadis itu meringis karena nya.


__ADS_2