Possesive Man

Possesive Man
part 50


__ADS_3

"Pelan-pelan bang, lo kasar banget sih, itu alkohol" desis Fedric seraya meringis saat Athan sedang mengoles punggungnya dengan salep  dan alkohol . Punggung Fedric sangat terlihat jelas menampilkan garis-garis cambukan belt dari Fathan, bahkan sampai ada yang berdarah.


"Tahan saja, tidak usah banyak bicara," balas Athan yang kembali fokus dengan kegiatannya. Athan benar-benar dengan telaten mengurus semua luka yang ada pada tubuh Fedric.


"Oles ini ke wajahmu," ucap Athan memberikan alkohol untuk luka yang ada di wajah Fedric.  Fedrik tanpa banyak kat langsung menerimanya karena memang wajahnya msih terasa sangat perih.


"Shhh ****, daddy mukulnya keras banget lagi," umpat Fedrik dengan nada yang sangat kesal sekali. Bahakn dia tak punya kesempatan untuk membalas sama sekali.  Tenaga pria itu masih jauh lebih kuat dibandingkan dengannya, walaupun pria itu sudha mulai berumur.


"Apa yang kau lakukan sampai daddy semarah itu?" tanya Athan yang menanyakan pertanyaan yang sedari tadi tersimpan dalam otaknya.


"Cih, aku tak ingin membahsanya, aku yakin pasti kau sama dengan daddy, aku sangat yakin kau pasti juga akan menyalahkanku ,"decih Fedrick. Meski Athan tak sering menghabiskan waktu dengan Intan dan Sania tapi Fedrik pernah melihat bagaimana perlakuan Athan pada Intan, abannya tersebut seperti sudah mengannggap Intan sebagai adiknya juga.


"Apa ini ada hubungannya dengan INtan dn tante Sania?' tanya Athan kembali.


"Ofcourse, karena kedua  wanita kesayangan daddy  yang berada dirumah ini." Jawab Fedric yang membuat Fathan mengangguk mengerti


"Kau sudah tau daddy seperti itu? kenapa masih mengulangi  kejadian yang sama. Kau menjelek-jeklekkan mereka lagi didepan daddy. Itu sama saja kau bunuh diri bodoh," sentak Athan. Padahal Fedrik sudah pernah diberi pelajaran saat memberikan kata pedas pada Sania, dan hal itu malah dilakukannya lagi.


fedrik sama sekali tidak kapok untuk ribut dengan fathan, selalu saja ada masalah. Athan memijit kepalanya yang pening, padahal pekerjaannya dirumah sakit juga banyak dan masalah perusahaan juga sama sekali belum mendapatkan titik terang.


"Tapi bang, Daddy terlalu berlebihan pada mereka, daddy bukan cinta sama wanita itu, dia hanya terobsesi," ucap Fedrik. Dia selama ini memperhatikan bagaimana Fathan dengan Sania. Benar-benar sangat berlebihan.


"Biarkan saja, yang penting daddy menemukan kebahagiannya,"


Athan tak pernah melihat Fathan sebahagia itu sebelumnya, pria itu bersikap hangat saat Sania dan Intan muncul. Setidaknya mereka juga akan mendapatkan nya walaupun Fathan lebih banyak memeberikannya pada Sania dan juga Intan.


Mendengar hal itu membuat Fedric memutar bola matanya malas. Menyesal membahas masalah itu dengan Athan karena jawaban Athan sudah dia duga, Athan juga pasti membela mereka dan ucapnnya ternyata benar.


"Aku tau yang kau pikirkan, aku juga merasa iri pada Intan dan sania, tapi apa dengan begitu daddy akan melihat kita? tidak, ikuti saja alurnya dan jalani kehidupanmu seperti biasa dan jangan kembali membuat ulah. Kau sudah bukan anak-anak lagi!" ucap Athan lalu menyimpan semua perlengkapan nya.

__ADS_1


"Sudah selesai, kau hanya perlu istirahat, dan jangan ke markasmu sebelum lukamu mengering, aku harus kemabli kerumah sakit sekarang" peringat Athan.


"PAdahal hari ini aku ada jadwal balapan," gumam Fedrik.


"Jangan coba-coba," ucap Athan menatap Fedrik dengan tajam.


"Baiklah, aku akan menyuruh Mark saja jika begitu," Fedrik lalu mengambil ponsel yang berada dalam saku celananya berencana untuk menghubungi adiknya tersebut untuk menaggatikannya.


Bisa malu The Boys jika dia membatalkan pertadingan itu.


"Yaudah sana, kenapa masih dikamarku," usir Athan dengan nada yang tidak bersahabat.


fedrcik memandang sinis pada Athan, namun dia taak mengatakan apapun dan memutuskan untuk keluar


"Hem, terimakasih telah membatuku" ucap Fedric lalu bangkit dan berjalan secara perlahan keluar dai kamar milik Athan.


'Kau abang yang paling menyebalkan didunia," balas Fedrick yang ikut-ikutan berteriak.


"Hei! tutup pintunya!" pekik Athan.


"Fedrik aku bilang tutup pintunya sialan," ucap Athan.


Fedric kembali lagi dengan wajah datarnya lalu menutup pintu kamar milik Fathan dengan sangat keras hingga menimbukan bunyi yang kuat.


"dasar, anak itu, " ucap Fathan mengelus dadanya sabar.


***


"Ini kuncinya bu," ucap pemilik kontrakan pada sania.

__ADS_1


"Terimakasih ya bu," balas Sania seraya tersenyum.


"Ya bu, semoga betah ya, jika ada aapa-apa langsung hubungi saya saja," ucap pemilik kontrakan tersebut lalu meninggalkan sania sendiri.


"Akhirnya aku menemukan rumah untuk kutinggali bersama dengan Intan," gumam Sania yang sudah mendapatkan kontrakan. Meski tidak besar namun cukup untuk menampung dirinya dengan Intan. Bahkan rumah mereka yang dulu terbakar lebih besar daripada kontrakan yang dia pilih.


Namun sania merasa bersyukur, karena dia berhasil mendapatkan kontrakan yang lumayan murah. Yang harus dia pikirkan adalah untuk mencari uang untuk sekolah Intan. Uang yang dia dapatkan dari hasil di toko kue milik Fathan yang diurusnyaa sebagian digunakannya untuk membaar kontrakan selama 1 tahun penuh.


Dengan begitu dia bisa tenag dan tak memikirkan masalah kontrakan selama 1 tahun ini.


Sania kemudian bergegas membereskan semua barang-barang yang telah dibawanya. Dia harus menjemput Intan ke rumah temannya secepatnya. Intan pasti nanti akan bertanya-tanya maa dari itu Sania harus menyiapakan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada Intan.


Setelah selesai dengan acara beres-beresnya, Sania kemudian membersihkan dirinya untuk segera menjemput putrinya. Satu-satunya penyemangat dan alasan dia msih bertahan sampai sekarang.


Sania menghela nafasnya dia harus kembali mengulang semua nya dari 0 kembali.  Tak mudah bagi Sania, saat kehilangan suaminya padahal saat itu dia masih membutuhkan nya dan Intan yang masih berumur dua tahu8n.


Sania bukan  juga berasal dari keluarga yang berada begitu juga dengan mendiang suaminya dahulu. Mereka hidup pas-pasan saat itu. Sania yang saat itu tidaak bekerja dan hanya mengandalkan suami karena merawat Intan dirumah.


Namun takdir berkata lain, suaminya harus meninggalkan dia selamanya dari dunia bersama dengan putrinya. Keadaan memaksa Sania harus bekerja dan banting utlnag demi kelangsungan kehidupannya bersama dengan Intan.


Keluarga? entah dimana mereka semua, Saat Sania membutuhkan bantuan, keluarganya sendiri pun tak mengelurkan tangan nya semua sibuk dengan kehidupan masing-masing. Apalagi keluarga dari pihak suaminya yang saat suaminya  sudah tiada, mereka seperti tak menganggap Sania dan Intan sebagai bagian dari keluarga tersebut.


Tanpa sadar Sania meneteskan air matanya mengingat masa pahitnya dahulu. Untung saja dia naik ojek jadi tak ada yang melihatnya.


Dia sangat sering memesan gojek seklain berkeliling untuk menghilangkan sedkit beban yang ada dalam pikirannya. dan ya itu cukup berhasil karena Sania meyuakainya.


"Terimakasih ya pak," ucap Sania memberikan beberapa lembar uang.


Dan disinilah dia sekarang, dirumah Ayyara. Sania memang mengetahui alamat dari Ayyara karena dia pernah menanyakan pada Intan saat Intan mau menginap disana. Dia tentu perlu tau dimana lokasi Intan akan menginap.

__ADS_1


__ADS_2