Possesive Man

Possesive Man
Part 137


__ADS_3

"Dimana Ayyara!"


Steven langsung menoleh ke arah wanita paruh baya yang cukup di kenal nya itu.


"Mom," lirih nya,


Juli langsung menghampiri Steven dan menanyakan bagaimana keadaan Ayyara sekarang.


"Steven, keadaan Ayyara gimana, dia baik-baik aja kan. Kenapa Ayyara bisa sampe masuk rumah sakit steven," tangis wnaita itu pun pecah saat itu juga.


Bagaimana mungkin dia bisa tenang saat mengetahui putri nya sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.


"Maaf mom, maaf karena gak bisa jaga Aya," ucap Steven memeluk wanita paruh baya itu.


"Ayyara akan baik-baik aja kan Stev, dia pasti bakal baik-baik aja kan," lirih wanita itu.


"Ofcourse mom, dia wanita yang kuat, aku yakin Ayyara pasti akan bertahan," ucap Steven meyakinkan Juli meski dirinya sendiri juga butuh untuk di yakinkah seperti itu.


"Dek," Mark mengusap pundak gadis itu yang terlihat khawatir.


"Temen kamu lagi diperiksa. Don't worry." ucap Mark.


Tak beberapa lama dokter yang menangani Ayyara pun akhirnya keluar setelah mereka semua menunggu.


Arsen yang juga sudah sampai sedari tadi memijit kepalanya yang pusing menunggu.


Bahkan sedari tadi pria itu mondar mandir seperti gosokan yang sedang berjalan.


"Bagiamana keadaan putri saya dok?" tanya Arsen langsung.


"Putri anda cukup banyak menghirup gas nya, untung saja segera di bawa dan segera mendapatkan pertolongan medis jika tidak maka dia tidak akan bisa diselamatkan," ucap dokter tersebut membuat semua nya lega.


"Meski begitu, putri anda mengalami gangguan pada paru-paru nya sehingga dia harus memakai oksigen untuk beberapa hari ini," ungkap dokters tersebut.


paparan dari gas memang dapat mempelambat kinerja dari paru-paru hingga mengurangi kadar oksigen dalam tubuh.


"Apa kami sudah bisa melihat putri kami dok?" tanya Juli

__ADS_1


"Boleh, namun hanya dua orang saja," ucap Dokter tersebut lalu pamit dari sana.


Arsen dan Juli akhirnya masuk terlebih dahulu. Steven ingi sekali masuk sekarang.


"Sabar Stev, entar gantian, itu pun kalo dibolehin," ucap Mark memelankan suara nya di akhir kalimat.


Steven mengusap rambut nya kasar, ada Arsen disini dan pasti pria itu tidak akan membiarkan nya begitu saja.


Bahkan tadi saja pria itu menatap nya dengan tatapan tidak suka dan bermusuhan.


Saat pintu kembali terbuka, Steven hendak menyelonong masuk namun tentu saja Arsen tidak membiarkan nya masuk denhan mudah.


"Kamu pikir kamu mau kemana ha!" ucap Arsen menahan tubuh Steven.


"Aku ingin melihat Ayyara dad," pinta Steven dengan nada yang memohon.


"Sudah saya katakan jangan memanggilku seperti itu lagi, dan kamu tidak akan saya ijinkan untuk melihat putri saya, sebaik nya kamu pergi sekarang atau saya akan menyuruh petugas untuk menyeretmu secara paksa dari sin!" ancam Arsen dengan tajam.


Steven tidak menghiraukan nya sama sekali, dia tidak takut karena sih terbiasa dengan Arsen yang seperti itu.


Karena melihat Steven yang tak menyerah membuat Arsen memanggil petugas.


Pertugas memang langsung datang saat mendengar keributan disana.


"Tolong jangan membuat keributan di sini, banyak pasien dan akan membuat mereka tenganggu," ucap petugas.


"Tolong usir dia dari sini pak, dia membuat keributan," ucap Arsen menunjuk Steven.


Petugas tersebut mengangguk dan hendak menahan tangan Steven namun di sentak oleh Steven.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri," ucap Steven yang langsung pergi.


"Mas udah," ucap Juli pada Arsen.


"Aku tidak akan membiarkan nya mendekati putri kita lagi," ucap Arsen penuh tekad.


"Intan sama Ayyara mau liat Aya tidak?"

__ADS_1


"Boleh Tan?" tanya keduanya.


"Boleh," ucap Juli.


Intan dan Jesi akhirnya masuk kedalam. Sebenernya mereka tidak tega dengan Steven yang terlihat begitu ingin melihat Ayyara.


Mereka bisa melihat bagaimana khwatir nya Steven namun apa boleh buat, mereka Sama sekali tidak berhak ikut campur dengan keputusan yang dibuat oleh kedua orang tua Ayyara.


Fedrick mengode Mark dan yang lain nya agar ikut pergi juga dari sana.


"Tapi Intan masih di dalam bang," bisik nya.


"Kita tunggu mereka di depan," balas Fedrick.


"Em Tan, om, kami mau pamit, semoga Ayyara cepat sembuh," ucap Daffa mewakili.


Juli tersenyum pada mereka. "Terimakasih sudah datang," ucap Juli.


Mereka berempat pun akhirnya keluar dari sana dan beralih ke parkiran rumah sakit.


"Steven seperti nya sudah pergi." ucap Ma.rk


"Tidak, aku yakin dia masih berada disini," ucap Fedrick.


"Gue mau pulang, kalian Mash mau disini ?" tanya Fedrick.


"Kayaknya balik deh bang, Mak gue udah nelpon dari tadi, apalagi gue d ketahuan bolos, daripada entar kena marah lagi," ucap Marcel.


"Gue juga kayaknya pulang juga bang," ucap Daffa menimpali.


"Mark?"


"Nunggu in Intan bang, kalian duluan aja," ucap Mark yang dingguki oleh mereka.


"Be careful," ucap Mark sambil melakukan salam ala lelaki.


"Duh panas banget di sini, gue kayak orang bego aja sendiri dimari," ucap Mark yang akhirnya memilih masuk kembali ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2