Possesive Man

Possesive Man
Part 78


__ADS_3

"Yeu, gimana sih, kamu kan blokir nomor sama semua medsos nya Steven," ucap Jesi.


Bagiamana caranya Steven akan menghubungi gadis itu jika kenyataan nya seperti itu.


"Iya sih, tapi kan kalo udah tau kayak gitu harusnya kan ada usaha buat nemuin dan jelasin semua sama aku. Mana Daddy masih marah lagi sama dia. Daddy juga udah gak setuju sama percaya lagi sama Steven," sedih Ayyara menelungkup kan kepala nya di meja.


"Dia nyariin kamu tau Aya, kemarin dia bahkan kesini. Aku bilang sama dia buat kasih kamu waktu ya aku pikir kamu butuh waktu buat jauh sama dia sebentar eh gak taunya kamu ternyata kangen berat. Tau gitu kemarin aku minta dia langsung nyamperin kamu aja," jelas Jesiie.


"Hah! yang bener? jangan bohong Jes, kamu gak perlu hibur aku gitu,"


Jesi berdecak kecil. "Seriusan, kemarin pas aku nunggu Atlas dia Dateng pas kamu udah balik sama Intan,"


Jesi jadi teringat akan Atlas. Bagiamana keadaan pria itu sekarang. Dia langsung disuruh pulang oleh Rita tadi malam. Jesi sempat menolak namun Atlas juga menyuruh nya untuk pulang, karena kasian pada nya jika menunggu


Padahal itu bukan lah masalah besar untuk Jesi. Dia malah ingin sekali untuk menemani pria itu. Tapi pria itu tetap ngotot untuk menyuruh nya dan tak suka jika dia sampe bolos sekolah hanya karena menjaga nya.


Saat hendak mereka akan melanjutkan acara gibah mereka, tak lama guru datang membuat ke tiganya menjadi diam kembali begitu juga dengan Ayyara yang membalikkan badan nya kembali ke arah depan.


Di belakang guru tersebut terdapat Mark yang juga baru saja masuk. Entah dari mana pria itu terlebih dahulu.


Mark memilih kursi di di samping Intan. Pria itu tidak menyapa Intan seperti biasa nya.


Pelajaran les pertama adalah fisika membuat Intan frustasi karena dia sama sekali tidak mengerti fisika dan tak pernah menyukai pelajaran tersebut.


Intan mengehela nafas kasar beberapa kali karena sama sekali tidak mengerti apa yang di jelaskan.


"Stts Jes kamu ngerti nggak?" bisik Intan pelan agar tidak di dengar oleh guru yang sedang mengajar.


"Enggak ngerti aku, coba tanya sama Ayya," ucap Jesi yang juga menggaruk kepala nya karena tak tahu cara mengerjakan nya.


"Aya lagi ngerjain, entar aja deh gak enak lagi serius gitu dia, tinggal minta aja entar," kekeh Jesi menyengir.


Untung saja ada Ayyara di antara mereka bertiga. Ayyara termasuk anak yang pintar. Jika ada tugas yang tidak mereka mengerti maka Ayyara lah jalan terakhir kedua nya. Beruntung nya mereka memiliki Ayyara.


Intan melirik ke arah Mark yang juga terlihat sangat serius dalam mengerjakan soal nya.


Mark seperti nya sadar jika di tatap oleh Ayyara, Mark lantas menoleh ke arah Intan


Intan gelagapan dan langsung menoleh ke arah lain. Intan meruntuki dirinya, entah apa yang ada dipikiran Mark sekarang.

__ADS_1


***


Intan menggembung kan pipi nya saat Mark langsung keluar dari kelas selepas bek istirahat berbunyi.


Intan benar - benar merasa kehilangan sosok Mark yang selalu ada untuk nya. Baru sehari saja Intan rasanya ingin menangis karena rindu. Intan tidak tau sampai berapa lama dia bertahan.


"Masih marahan sama Mark ya? "


"Emang iya kalian marahan, kok aku gak tau," ucap Ayyara.


"Heum, aku sama mom udha gak tinggal bareng mereka lagi. Kami udah ngontrak," ucap Intan dengan nada yang lesu.


"Aku ngerti, Tante Sania udah pernah bahas hal itu sama aku dan Jesi," ucap Ayyara menatap Jesi.


"Benarkah? kapan ?" tanya intan


"Belum lama, waktu jemput kamu dari rumah Ayyara kemarin, Tante Sania ngomongin hal itu."


Intan merenung, ternyata mommy nya sudah lama merencanakan untuk pergi. Pantas saja kemarin mereka langsung dapat kontrakan ternyata Sania sudah mengurus nya terlebih dahulu.


"Kita ke kontrakan Intan deh nanti habis pulang sekolah, " ajak Ayyara.


"Memangnya ada apa dengan Atlas, kok bisa masuk rumah sakit?" tanya intan.


"Iya kemarin dia kecelakaan waktu mau jemput aku," cicit Jesi.


"Jangan bilang kalo kamu merasa bersalah? ayolah gak ada yang mau hal itu terjadi kan, yang penting kan Atlas nya masih hidup," ucap Ayyara menepuk bahu Jesi pelan.


"Iya sih, tapi tulang nya dia pada patah dan harus dioperasi," ucap Jesi.


"Yaudah kalo gitu kita kesana aja hari ini, mommy juga gak ada dirumah hari ini. Besok aja ke rumah Intan nya," usul Intan.


Bagiamana pun juga Atlas sudah menjadi teman mereka juga. Terlebih pria itu juga dekat dengan Jesi.


"Yaudah deh, bareng aja nanti. Aku bawa mobil," ucap Ayyara.


"Mentang-mentang lagi gak ada Steven yah, coba aja kalo dia tau. Kena marah kamu tuh," kekeh Intan.


"Biarin aja, orang dia gak peduli sama aku," ucap Ayyara.

__ADS_1


"Siapa yang gak peduli hemm,"


Mata Ayyara melotot saat melihat Steven yang kini sudah berada di kelas nya.


"Widih Dateng juga, kalo gak Dateng tadi nya mau gue pelet si Aya, gue kira udah gak ada yang punya," ucap Dafaa.


"Diem lu," sentak Steven sedangkan Daffa tersenyum miring.


"Tapi bener tuh Daf, gas aja Daf. Gua dukung lu daripada Aya sama yang suka nyakitin ya kan. Aya mau kan tinggal pilih kok. Sama gue juga boleh deh," ucap Marcel ikut menimpali membuat Intan dan Jesiie tertawa karena melihat wajah merah Stevan yang terlihat marah.


"Sekali lagi lu pada ngomong, gue keluarin dari The boys," ancam Stevan yang membuat Marcel dan Daffa terdiam seketika tak menyahut kembali.


"Ikut aku bentar yah," ucap Steven dengan sangat lembut.


"Gak boleh, Aya mau bareng sama Intan dan Jesi ke kantin," ucap Intan.


"Yaelah, Intan bentar doang teman nya Ama gue," ucap Steven.


Intan menyipitkan mata nya," awas aja kalo macam-macam lagi," ucap Intan.


"Siap, gak lagi gue. Temen - temennya Intan pada galak semua soalnya," gumam Steven pelan.


Mata Steven kembali beralih kepada Ayyara sepenuh nya.


Pria itu kini benar-benar memusatkan pandangan nya hanya pada Ayyara. Obat serta semesta nya.


"Kamu mau kan, please," ucap Steven dengan tatapan yang sangat memelas.


"Iya," singkat Ayyara yang membuat Stevan mengembangkan senyum nya.


"Yuk," ucap Steven. Ingin sekali dia langsung merangkul Ayyara seperti biasa nya. Tapi karena kondisi mereka yang masih belum baik, membuat Steven mengurungkan niat nya.


"Jangan sakiti Aya lagi," peringat Intan yang di acungi jempol oleh Steven.


"Kita ke kantin sekarang yuk," ucap Intan.


"Woke, aku juga udah laper nih," ucap Jesi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2