
"Astaga Intan, sumpah deh aku speechless," heboh Jesii yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sebelumnya.
Intan yang dia kenal sebagai anak yang kalem dan gak pernah kasar sama orang lain terlihat berbeda saat berhadapan dengan Bela dan kawan kawan.
Kejadian di gudang tidak bisa dia lupakan sama sekali.
Saat dia, Steven dan Araya hendak membantu Intan yang ternyata hendak dibully, mereka malah dikagetkan dengan Intan yang melawan dan membalas mereka dengan brutal.
Untung saja ada Steven saat itu yang memisahkan Intan dengan Bela, jika tidak Bela bisa saja babak belur. Karena Intan tidak seperti biasanya dan seperti bukan Intan yang mereka kenal.
Bahkan sekarang Bela dan teman-teman nya kini masih harus berhadapan dengan Mark dan juga Steven yang menemani Mark agar tidak lepas kendali pada Bela.
Saat mengetahui bahwa adiknya di-bully, Mark langsung marah dan tanpa kata langsung menyeret Bela dan kedua teman nya. Mark hendak memberikan ketiga nya pelajaran, padahal ketiga nya sudah diberikan pelajaran oleh Intan terlebih dahulu.
"Ck, berhentilah berjalan kesana kemari Jesi!" ucap Ayyara yang pusing melihat tingkah sahabat nya tersebut.
"Gak bisa Aya, Lo gak liat tadi si intan kaya reog, ih sumpah masih gak nyangka gue Ntan, Lo keren sumpah. Lo benar benar teman gue emang," sahut Jesiie yang akhirnya duduk disebelah kiri Intan dengan Ayyara yang juga duduk disebelah kanan Intan.
Arayya kini tengah sibuk mengompres pipi Intan dengan hati-hati menggunakan air dingin yang diberi oleh petugas PMR tadi.
Sesekali Intan meringiss saat merasakan perih di pipinya yang masih terlihat memerah.
"Intan kesel tau sama mereka, jadi gitu deh. Intan gak suka," ucap Intan.
"Bagus, kamu tuh emang harus lawan orang yang semena-mena, jangan biarin kamu diinjak-injak. Aaa Intan gue udah gede," seneng Jesi memeluk Intan dari samping. sedangkan Intan hanya terkekeh geli.
"Nih Ntan, minum obat pereda sakit nya. Biar perih nya mendingan," Ayyara menyerahkan sebuah obat pada Intan.
__ADS_1
Intan menerima nya dengan ragu dan membolak-balik kan kemasan obat tersebut.
"Astaga Ntan, itu bukan racun. Ragu amat tinggal minum doang," cerocos Jessi yang diangguki oleh Ayyara.
"Eum bukan gitu Jesi, aku tuh gak kan suka makan obat. Pahit!" rengek Intan.
"Ck, ya iyalah Intan, namanya obat ya pahit,"
"Udah, minum aja. Intan langsung minum airnya," balas Ayyara.
Intan akhirnya mengangguk dengan pasrah.
"Dek," Teriak Mark yang datang dengan buru-buru menghampiri nya dengan Keenan yang mengikuti di belakang.
"Uhuk" intan terbatuk keselek, karena terkejut dengan kedatangan Mark yang tiba-tiba muncul.
"Astaga sayang, pelan - pelan," ucap Mark memegang air minum Intan dan menepuk punggung Intan dengan pelan.
"Maaf," sesal Mark yang merasa bersalah.
Lagi dan lagi dia gagal dalam menjaga adiknya tersebut. Mark menjadi merasa tidak pantas menjadi seorang abang.
Menjaga satu adik saja dia tidak bisa dan dia tak bisa menolong saat Intan tengah dilanda masalah. Dirinya selalu terlambat.
"Maafin abang, Abang gak bisa Intan dengan baik," sendu Mark.
"Abang jangan ngomong gitu, Abang tuh Abang terbaik buat Intan. Bang Mark yang Ter thebest. Makasih udah mau peduli sama Intan," ucap Intan dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Heum, masih sakit? Merkea benar benar sangat keterluan, seperti nya ya g tadi masih kurang," gumam Mark melihat pipi Intan yang masih terlihat memar.
"Udah bang, gak usah diperpanjang. lagian tadi Intan udah puas ko balas mereka," ucap Intan.
Mark menaikkan alisnya, dia benar-benar penasaran kenapa Intan bisa sesenang itu. Dia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Steven padanya, jika Intan polos yang dikenal nya berlaku kasar lada Bela dan yang lainnya.
"Tapi kalo Daddy tau..."
mati gue . ucap Mark dalam hati.
Memikirkan Fathan membuat Mark memikirkan apa yang akan dilakukan sang daddy padannya.
"Bener juga tuh, haha bakalan kena bogem lu ma Daddy Lo Mark," sahut Steven tertawa apalagi melihat raut wajah Mark yang kini memucat.
"Eum, Abang tenang aja kalo soal itu. Nanti aku nginep di rumah Aya atau Jesi aja. Boleh kan? sampai pipi Intan gak keliatan memar lagi," pinta Intan pada kedua sahabatnya.
"Yeu, pake nanya, kayak sama siapa aja," kata Jesi. Dia malah senang jika Ayara dan Jesi jika selalu berkunjung dan menginap.
"Yaudah dirumah aku aja gimana, " ucap Ayyara.
"Oke setuju, asikk nih. Dah lama juga kita gak tidur bareng," semangat Jesi.
"Udah kan, Abang gak usah khawatirin itu lagi, hehe tapi Intan minta tolong anterin baju sama buku-buku punya intan ke rumah Aya yah bang," ucap Intan ya g langsung diangguki oleh Mark tanpa pikir panjang.
Dia menghela nafas lega saat ada solusinya. Artinya dia akan aman dan tak akan mendapatkan masalah dirumah.
Pasalnya bukan cuma Daddy nya yang akan memberi nya pelajaran karena lalai dalam menjaga Intan, namun si sulung Athan juga pasti akan menghajarnya.
__ADS_1
TBC
TBC