
"Sayang bangun hey," Fathan menggoyang tubuh Sania yang masih terlelap dalam tidur nya. Wajah wanita itu terlihat lelah.
Dia tahu jika Sania sangat lelah setelah dia gempur habis-habisan. Fathan juga menepati janji nya yang membuat Sania sampai pingsan. Fathan tidak main-main dengan ucapan nya. Bahkan sampai Sania hampir menangis tadi tetapi Fathan tetap tidak menghentikan nya
Sania masih baru saja tidur memang tapi Fathan tetap harus membangun kak wanita itu untuk membersihkan tubuh nya. Tak mungkin Fathan membiarkan Sania tidur dalam kondisi badan yang penuh keringat.
Fathan sebenar nya tidak tega untuk membangun kan Sania namun sudah hampir menjelang malam.
Dan dia tak ingin Sania melewatkan jam makan malam nya juga..
Karena Sania belum bangun akhirnya Fathan turun terlebih dahulu dan membersihkan seluruh tubuh nya dari keringat yang juga menempel di tubuh nya.
Pria itu juga langsung mengatakan pada pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua
"Siapkan makan malam dan Jahan lupa buatkan sup juga,"
"Iya tuan,"
Semua anak-anak belum pulang ke rumah dan Fathan yakin jika semua nya sudah makan diluar.
Setelah selesai, Fathan kembali ke kamar nya untuk membangun kan Sania.
Fathan berjongkok dan melihat wajah Sania yang begitu polos saat tertidur.
Begitu amat cantik jika seperti itu. Fathan tak akan pernah berhenti dalam mengangumi Sania yang sudah mengambil seluruh hati nya tanpa bersisa. Fathan mengusap lembut pipi wanita paruh baya itu.
"Kau sangat cantik sayang, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku," bisik Fathan dengan parau.
Tak percaya jika orang yang di depannya kini sudah benar-benar resmi menjadi milik nya seutuh nya.
"Sayang, bangun," ucap Fathan tepat di telinga wanita itu.
Karena tidak mempan sama sekali, Fathan akhirnya mengecup seluruh wajah Sania berulang-ulang.
Dapat Fathan rasakan jika Sania merasa terganggu namun Fathan tetap melanjutkan kegiatan nya.
"eugh," lenguh Sania.
Wanita itu merasa risih saat merasakan basah di permukaan wajah nya.
Sania ingin mendorong apa yang sedang di atas wajah nya, namun tidak bisa.
Perlahan Sania mengerjapkan mata nya dan membuka nya.
Hal yang pertama dia lihat adalah wajah Fathan yang tersenyum manis ke arah nya.
Cup
__ADS_1
Terakhir Fathan mengecup bibir Sania cukup lama untuk menyalurkan perasaan nya. Tidak ada nafsu di dalam nya.
"Maaf membangun kan mu sayang, tapi kau harus makan malam dulu okey. Nanti kamu bisa melanjutkan tidur mu," ucap Fathan menyingkirkan anak-anak rambut Sania yang menghalangi wajah cantik itu.
"Sudah jam berapa?" tanya Sania dengan suara yang agak serak khas bangun tidur.
"Sudah jam 7 malam sayang," ucap FAthan seraya melirik jam yang berada di meja nakas.
"Aku masih mengantuk dan tubuh ku pegal semua, ini semua karena mu," Rajuk Sania yang mengembung kan pipi nya.
Fathan terkekeh mendengar nya. "Siapa suruh menantang ku heum,"
"Aku kan hanya bercanda," balas Sania tak mau kalah.
"Baiklah, baiklah. Aku yang salah. Maafkan aku sayang, aku tak bisa mengontrol diriku terhadap mu," ucap Fathan namun dia tak menyesal sama sekali.
"Sekarang bangun lah, kamu bersih kan dirimu. Atau mau aku yang mandikan," ucap Fathan menaik-turunkan alis nya menggoda.
"Tidak perlu repot-repot tuan, terimakasih. Saya bisa sendiri," tolak Sania.
Karena jika Fathan ikut ke kamar mandi akan lain ceritanya. Bisa-bisa dia tidak jadi mandi dan melanjutkan hal yang tadi mereka lakukan.
Sania sudah hapal dengan Fathan.
Mengerti akan pemikiran Sania membuat Fathan tersenyum geli.
Sania mengangguk kecil. Dia melilit tubuh polos nya menggunakan selimut.
Sania kesusahan karena merasa nyeri di bagian bawah nya dan karena selimut juga yang menghalangi pergerakan nya.
Fathan menggeleng kepala nya. Bisa-bisa nya Sania masih malu terhadap diri nya. Padahal Fathan sudah melihat semua nya.
Melihat Sania yang masih berusaha tanpa meminta bantuan nya membuat Fathan bangkit.
Dia akhirnya melepaskan selimut Sania hingga tubuh itu kembali polos
Mata Sania melotot kaget," Fathan apa yang kau lakukan!" pekik Sania.
Fathan tidak menghiraukan nya dan langsung saja menggendong Sania ke dalam kamar mandi.
Dia tau jika Sania tidak bisa berjalan dengan baik karena merasakan sakit.
Fathan langsung menurunkan Sania ke dalam bathub mandi dan mengatur suhu air menjadi hangat.
"Aku bisa sendiri Fathan, kamu bisa keluar," ujar Sania.
"Biarkan aku membantu mu sayang, aku berjanji hanya mandi, tak ada kegiatan apapun," ucap Fathan dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Fathan juga tak ingin berlama-lama pasal nya sebenarnya perut nya juga sudah keroncongan sedari tadi.
Fathan memulai dengan mencuci rambut Sania dengan telaten.
Beberapa menit berlalu Fathan menepati janji nya yang hanya memandikan Sania.
Walaupun Fathan harus menahan gairah nya, dia tak ingin egois hanya karena kebutuhan nya saja.
Mati-matian Fathan menekan nafsunya apalagi melihat Sania yang tidak memakai apa-apa Sekarang.
Setelah selesai Fathan keluar terlebih dahulu menunggu Sania mengganti pakaian nya.
"Sudah?" tanya Fathan.
"Kemari, duduk disini," ucap Fathan yang sudah memegang pengering rambut milik Sania.
Sania pun duduk di meja rias sesuai dengan arahan yang dikatakan oleh Fathan.
Setelah Sania duduk manis, Fathan langsung saja mengering kan rambut wanita nya itu.
Sania tersenyum melihat Fathan dari meja rias nya. Astaga dia benar-benar teramat bahagia memiliki Fathan yang sudah begitu baik pada nya meski terkadang pria itu juga menyebalkan.
"Aroma rambut mu sangat wangi sayang, aku sangat menyukai nya," ucap Fathan.
"I know," jawab Sania.
"Bagaimana dengan anak-anak, apa mereka belum pulang?" tanya Sania.
"Hem, belum sayang, biarkan saja. Nanti juga mereka akan pulang. Dan Intan aman di rumah sahabat nya. "
Fathan ingin sedikit memberikan kebebasan kepada Intan agar gadis itu tidak terlalu stress setelah mendapat banyak pelajaran tambahan dan Kahi akan mengikuti ujian.
Fathan tak ingin sampai Intan merasa terbebani akan hal itu.
"Baguslah jika begitu," ucap Sania menjadi tenang.
"Kuharap Intan bisa masuk bersama dengan Mark,"
"Jangan khwatir kan hal itu, Intan dan Mark pasti bisa sayang. Ada Vandra dan Fedrick yang membimbing mereka juga,"
Sania mengangguk kecil, dia teramat senang dengan Fedrick yang sudah membuka hati pada nya dan juga Intan.
Perubahan yang diberikan Fedrick begitu terlihat dan Sania senang akan hal itu.
Fedrick ternyata anak yang penyayang dan juga perduli walaupun sikap nya terkadang cuek.
Tapi Sania tau jika sebenarnya hati pria itu baik.
__ADS_1
TBC