
"Wah, keren nih," decak putra dari Fathan Ardiansyah itu.
Dia benar-benar kagum dengan apa yang sedang dia lihat sekarang.
Fathan benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan lengkap bahkan sampai mansion pun sudah disediakan oleh pria itu.
"Wahhh keren, gede Banget," ucap Intan mengerjapkan mata nya.
Gadis itu kini sedang bersama dengan keluarga baru nya untuk pindah ke rumah yang dikatakan oleh Fathan.
Entah mengapa pria itu ingin tinggal di tempat yang baru padahal rumah pria itu yang sebelum nya sudah amat besar. Dan sekarang pria itu malah membeli mansion.
Athan terkekeh melihat wajah Intan yang begitu takjub. Begitu amat lucu Dimata nya.
"Kamu serius? kita bakalan tinggal disini? apa ini tidak terlalu besar untuk kita, lagi pula rumah mu yang kemarin cukup besar?" tanya Sania dengan beruntun.
"Satu-satu saja bertanya nya sayang," ucap Fathan yang tersenyum tipis mengerti akan apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.
"Tapi--"
"Stssss, aku tidak mau mendengar apapun.Ini sama sekali tidak berlebihan. Aku memang sudah merencanakan hal ini sejak aku mengenal mu dulu sayang ,So this is for you. Hadiah untuk pernikahan kita," ucap Fathan.
"Ekhem, disini bukan cuma kalian aja, ada kita loh dad," ucap Mark menyadarkan kedua nya.
"Kamu itu diam saja Mark, kau tidak diajak. Ayo sayang." ucap Fathan menarik lembut tangan Sania yang berada di genggaman nya.
Tiba-tiba saja pria paruh baya itu langsung menghentikan langkah kaki nya saat mengingat sesuatu.
"Kalian cari kamar masing-masing, Daddy sudah memberi nama di pintu. Daddy Sudah menyuruh orang untuk mendesain nya sesuai dengan kesukaan kalian masing-masing. Kamar kalian semuanya berjejer di lantai dua," ucap Fathan lalu melanjutkan langkah nya.
"oke," ucap Fedrick lalu mengikut kedalam. Pria itu mengantungi kedua tangan nya berjalan dengan santai.
Karena semua barang-barang tidak dibawa oleh mereka sendiri, melainkan dibawa oleh para pekerja yang sudah ada di mansion.
Pria itu akan betah disana karena desain rumah yang bagus dan juga halaman yang luas dan terdapat banyak lampu dan hiasan di jalan menuju mansion mereka.
"Yey, aku sudah tidak sabar," ucap Mark yang berlari mengikuti Fedrick.
"Yuk dek, bang," ajak Vandra.
"Duluan," suruh Athan.
Athan lalu memandang Intan yang masih melirik kesana kemari. Seperti nya Intan masih belum cukup puas dengan apa yang di lihat nya.
"Yuk dek," ucap Fathan menyadarkan Sania.
__ADS_1
"Eh ayo bang, hehe maaf Intan gak fokus. Yang lain udah pada masuk yah. Intan sampai tidak sadar." kekeh Intan yang begitu terlena.
Tak pernah di bayangkan oleh nya akan tinggal di rumah yang sebesar itu.
Hidup nya kini menjadi begitu berubah drastis setelah bersama dengan keluarga itu.
Hidup nya yang dulu begitu sederhana kini menjadi bisa menikmati apa yang dia mau. Intan benar-benar merasa bersyukur dan beruntung sekali bertemu dengan keluarga itu. Entah kebaikan apa yang sudah dia lakukan di masa yang lalu sampai bisa menerima semua ini sekarang.
"Kamu senang heum?" tanya Athan.
Intan mengangguk antusias, dia tak bisa membohongi perasaannya.
"Terlihat sekali yah bang," ucap Intan.
"Yes, dan Abang senang liat nya. Ayo kita cari kamar baru kita," ucap Athan menggadeng Intan.
Sesekali Intan bernyanyi ria untuk mendeskripsikan kebahagiaan nya.
"Silahkan dari sini tuan, nona,"ucap salah satu pelayan pada kedua nya.
"Ada lift nya yah," ucap Athan.
"Ada tuan,"
"Right baby, Abang juga gak nyangka Daddy bakalan menyediakan lift dalam mansion ini," balas Athan yang kini sudah menaiki lift tersebut.
"Kenapa baby?" tanya Athan saat melihat Intan menghentikan langkah nya selepas keluar dari lift.
"Enggak bang, Intan cuma kagum aja Sama interior nya. " Intan menggeleng - geleng kan kepalanya.
Entah sudah berapa kali dia berdecak kagum seperti itu.
Mata Intan begitu dimanjakan dengan mansion yang cukup mewah dengan pilar-pilar yang cukup tinggi.
Keduanya lalu perlahan berjalan melihat yang mana kamar milik mereka.
Beberapa telah di lewati dan terdapat nama saudara Mereka yang lain nya.
"Wah ini kamar Intan, kamar Abang yang itu," tunjuk Intan pada kamar yang di depan pintu kamar nya.
"Yes kau benar baby, masuk lah ke kamar mu dan lihat lah kedalam nanti abang bakalan kesana nyusul kamu, Abang juga mau lihat-lihat kamar abang," ucap Athan mengelus rambut Intan dengan lembut.
"Oke bang," ucap Intan masuk kedalam kamar nya.
Lagi dan lagi dia dibuat kagum dengan interior kamar nya yang terlihat mewah.
__ADS_1
Terdapat kasur king size disana dan kamarnya jauh lebih besar daripada kamar nya di rumah Fathan dulu.
"Wah lemari kain nya ini kah? bagus banget," decak Intan kagum saat melihat lemari kaca yang tersusun rapi.
"Kok banyak yah?" tanya Intan pada dirinya sendiri melihat lemari yang berjejer.
Dia kembali ke arah kasur nya yang banyak berbagai macam boneka.
Intan senang sekali, Fathan benar-benar tau apa kesukaan nya.
intan tak bisa membohongi perasaannya hanh teramat begitu bahagia pada hari ini.
Intan dengan excited nya kini menuju ke arah balkon. Intan memekik kesenangan karena terdapat balkon di kamar nya.
Intan membuka jendela kamar nya sama berjalan menuju depan untuk menghirup udara yang menyejukkan.
Disana juga disediakan kursi serta meja untuk Intan bersantai.
Intan sampai merentangkan tangan nya menikmati sepoi-sepoi angin yang menerbangkan rambut nya.
"Indah bukan, jadi Intan bisa habisin waktu deh disini kalo lagi bosan," ucap Mark yang menghampiri Intan.
"Bang Mark," ucap Intan membalikkan badan nya,"
"Are you happy?"
"Yes, Intan seneng banget bang Mark Seneng banget," ucap Intan tersenyum lebar.
Mark ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan di wajah Intan.
Dia sama bahagia nya seperti Intan, Mark benar-benar bersyukur sekali keluarga nya telah lengkap dan menjadi hangat.
"Intan boleh bawa Aya sama Jesi kan kesini bang?" tanya Intan.
"Ya tentu bisa dong sayang, gak bakalan ada yang larang kalo intan mau bawa temen, apalagi jika teman dekat," ucap Mark.
"Iya Intan tau, tapi kan Daddy gak suka ada orang asing kerumah," ucap Intan.
"Memang nya Jesi dan Aya orang asing? kan bukan, Daddy juga sudah pernah bertemu mereka kan, kalo kamu bilang Daddy pasti diizinin kok,"
"Iya sih bang," ucap Intan
"Udah gak usah pikirin itu, yuk kebawah abang udha laper. Kita panggil yang lain," ajak Mark pada Intan.q
TBC
__ADS_1