
Asap rokok kini berterbangan di antara pria yang tengah berdiri di atas rooftof sekolah.
"Lo mau?" tawar Steven lada Mark sambil memberikan rokok milik nya.
"Tidak, gue bukan perokok," kesal Mark saat Steven memberikan benda itu kepada nya. Padahal jelas-jelas pria itu sudah tau.
"Lo gak mau mencoba nya, ini enak. Bisa membuat mu tenang sejenak," ucap Steven menghembuskan asap rokok nya di depan Mark.
"Tidak, terimakasih. Untuk mu saja, gue sama sekali tidak tertarik. Kesehatan ku lebih penting," elak Mark sedikit menjauh karena dia tidak menyukai bau rokok tersebut.
"Padahal Daddy lo suka merokok, Fedrick juga," ucap Steven.
"gue bukan mereka."
"Jangan mengalihkan pembicaraan sekarang, ada apa sebenarnya dengan mu dan kekasih mu itu?" tanya Mark.
Steven mengedikkan bahu nya, " kami sudah berakhir," jawab nya.
"Really, sungguh? padahal dulu lo begitu gila saat orang tua nya menyuruh lo untuk melepaskan nya dan sekarang semudah itu kau melakukan nya? sungguh tak bisa dipercaya. Si bucin Steven?" ucap Mark yang ragu.
"gue tidak ingin dia dalam bahaya, Fedrick benar, musuh kita banyak dan dari mereka sudah banyak yang mengenal Aya, jika mereka tau gua sudah putus mereka pasti tidak akan berani menganggu Ayara," jelas Steven dengan berat hati, Mark bisa melihat nya .
"Begitu yah, sudah kuduga. Lo masih mencintai nya, makanya gua tidak percaya Lo putus begitu saja,"
"Jangan bilang pada mereka Jika itu adalah alasanku, bilang saja karena dia yang ingin pindah ke luar negeri pada Intan dan Jesi. Aku yakin Intan pasti menanyakan nya padamu right?"
"Pindah?"
"Hem, dia akan bersekolah di luar negeri," jawab Steven dengan lesu.
"Wah, itu berat,"
"Tidak sama sekali, malah itu semakin aman. Dia tak perlu berada di sekitar berandal seperti ku," ucap Steven kembali.
"Apa lo sudah rela jika Ayara menemukan orang lain nanti, bayangkan jika Ayara memiliki kekasih baru lalu mereka menikah terus mereka memiliki anak dan hidup bahagia," kompor Mark.
"****, tidak akan kubiarkan," marah Steven menatap tajam ke arah Mark. Dia tidak menyukai fakta yang satu itu.
"Wooo, santai bro, tapi kan Lo yang bilang tadi jika akan melepaskan nya, ya Lo gak boleh egois dong," sela Mark.
__ADS_1
"Gak, dia gak boleh sama pria lain, gue gak rela," ucap Steven yang mulai panas.
Mark menggeleng-gelengkan kepala nya bingung.
"Gak ngerti gua sama jalan pikiran Lo, "
"Biarin aja, jika ada yang mendekati nya tidak akan gua biarin, enak aja. Ayara punya gua," tekan Steven padahal dia sendiri yang sudah memutuskan gadis itu.
Namun tetap saja, setelah 2 tahun menjalin hubungan, perasaan nya terhadap Ayara tetap masih sama sampai sekarang. Dan akan dia pasti kan perasaan nya akan sebesar itu meski mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi sekarang.
"Gimana sih, katanya udah putus, gak punya pendirian banget," ucap Mark yang tak habis pikir lagi.
"Terserah gue lah, gue gak bisa bayangin Ayara gue sama orang lain,"
Hanya membayangkan saja mampu membuat darah Steven serasa mendidih. Kepala nya langsung panas memikirkan nya
"Lo egois sih kata gue, " ucap Mark pada Steven.
Seharus nya jika memang pria itu sudah memutuskan hubungan mereka, Steven sudah tidak seharus nya untuk menghalangi hubungan gadis itu dengan orang baru, Ayyara menurut nya berhak dan bebas memilih.
Dan Steven tidak boleh mencampuri urusan gadis itu lagi karena mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.
"I know, tapi gue tetap gak perduli." balas Steven.
"Nanti ke markas, Fedrick yang suruh," ucap Steven mengalihkan pembicaraan mereka ke topik yang baru.
"Ngapain?" tanya Mark, Abang nya itu tak mengatakan apapun pada nya saat di rumah tadi.
"Ngebahas soal orang dalam kita yang berkhianat,"
"Loh kenapa ke markas, kan kata bang Fedrick cuma kita bertiga doang yang tau," ucap Mark yang bingung.
"Gue sama Fedrick udah Nemu orang nya," Steven tersenyum smirk dan mematikan rokoknya dan membuang nya.
"Seriusan, siapa?" Mark menaikkan alis nya tanda bertanya.
"Lo akan tau nanti, makanya Lo harus Dateng, Lo sering absen, jangan mentang-mentang Lo adik dari ketua geng ini ye," sinis Steven pada pria itu.
"Ya kan Lo tau, gue kudu urus Ade gue dulu kalo enggak entar Daddy gue marah, bisa berabe," ucap Mark.
__ADS_1
"Tapi gue penasaran siapa orang nya serius deh," ucap Mark yang tidak sabar.
"Lo bakalan kaget Mark, gue yakin itu," ucap Steven.
***
"Aya entar balik bareng siapa?" tanya Jesi.
"Barengan sama supir aku."
"Gimana kalo kita jalan-jalan dulu, buat temenin Aya, daripada galau terus," ide Jesi pada mereka.
"Sekarang?" tanya Intan.
"Iya, emang kenapa Ntan, kamu gak bisa yah," kata Jesi.
Intan menggeleng. Dia tidak mungkin tidak ikut untuk menghibur teman nya yang sedang bersedih tersebut.
"Bisa kok, Intan bisa tapi nanti kalo Abang aku ikut emm boleh gak? soal nya tadi pagi di janjiin jalan bareng, maksudnya Intan biar barengan aja," jelas Intan.
"Abang kamu yang mana dulu nih," ucap Ayyara. Dia sama sekali tidak masalah akan hal itu.
"Bang Athan," jawab Intan yang membuat mata Jesi berbinar.
"Sungguh, wuu gas lah, kapan lagi jalan bareng dokter tampan," Senang Jesi yang masih terkagum dengan Abang dari teman nya itu.
"Ingat kamu tuh bukannya udah punya Atlas ya," ingat Ayyara.
"Lagian dia belum jelas, dia belum ngomong apa-apa sama aku sampe sekarang tapi perlakuan nya kayak udah sama pacar. Berasa digantung aku tuh, jadi gapapa lah lirik sana sini orang masih jomblo," ungkap Jesi dengan jujur.
"Yaudah Abang kamu kapan Dateng nya nih Ntan, aku udah gak sabar cuci mata," Jesi menaik turunkan alisnya yang mendapat geplakan dari Ayyara.
"Ya kan nanti Jes, habis pulang sekolah, orang ini kita masih belum keluar dan masih ada kelas kan," ucap Intan.
"Ah lama banget deh, berasa nunggu setahun Kalo begini, waktu nya kenapa berjalan lama sekali coba," ucap Jesi.
"Udah ah kita ke kelas aja, bentar lagi masuk, aku gak mau bolos lagi, tadi aku udah melewatkan kelas pertama," ajak Ayyara pada keduanya.
"Tapi mata kamu masih bengkak banget tuh Aya, entar kalo di tanyain guru gimana," ucap Intan yang melihat ke arah mata Ayyara yang masih terdapat sisa air mata pula.
__ADS_1
"Gapapa, entar aku cari alasan nya," ucap Ayara.
TBC