Possesive Man

Possesive Man
Part 67


__ADS_3

Steven yang melakukan perjalanan dari rumah ke sekolah setelah satu jam lebih akhirnya tiba juga di depan kelas.


"****, seperti nya aku terlambat," ucap Steven mengusap wajah nya saat melihat sekolah sudah mulai sepi dan tak banyak lagi siswa yang berlalu lalang.


Pria itu akhirnya turun dari mobil seraya melihat ke kanan dan ke kiri berharap gadis yang sedang dia cari masih berada disana. Steven memiliki harapan yang besar untuk itu.


Hingga ia menemukan seorang yang terdekat dengan Ayyara. Hanya gadis itu aja tali tidak dengan Ayyara nya.


"Jesi," panggil nya saat melihat gadis itu yang sedang menunggu kehadiran seseorang.


Jesi menatap nya dengan sinis, tatapan nya sangat tidak bersahabat dan Jesi mengabaikan panggilan nya dan lebih memilih memandang ke arah lain daripada dirinya.


"Jes," panggil nya lagi seraya melambaikan tangan nya di depan gadis itu.


"Lo mau apa lagi hah! cari Ayyara. Dia udah pulang," sentak Jesi pada Steven. Kesal rasanya melihat Steven berada di dekat nya mengingat pria itu sudah menyakiti sahabat nya.


"Tolong bantuin gue Jes," pinta Steven.


"Buat apa?" datar Jesi.


"Please Jes, Lo tau kan gue cinta sama Aya, lu sama Intan udah jadi saksi perjalanan gua sama Aya," ucap Steven mengingat kan agar gadis itu mau membantu nya untuk menemui Ayyara dan meminta maaf serta memperbaiki semua nya.


"I know, gue aja gak nyangka Stev apalagi Aya, dia percaya banget sama Lo Steven. Dia taruh semua kepercayaan nya sama lu dan lu malah ngehancurin kepercayaan yang udah dia kasih sepenuh nya buat lu."


"Gue saat itu mabuk Jes, gue gak sadar," bela Steven.


"Really? oke kalau benar Lo emang mabuk saat itu. Tapi bagaimana dengan soal Lo yang jadi wakil ketua geng motor, dan lu bahkan ke club' Stev," Jesi menatap tak percaya Steven yang dia tahu adalah pria yang baik.

__ADS_1


"Gua tau itu, itu emang gue yang sebenernya. Tapi gue udah lama masuk itu bahkan sebelum pacaran sama Aya," jujur Steven.


"Wah, lu main nya cantik banget sampe gak ketauan smaa Ayara. Gila! tapi lu udah nipu gadis sebaik Aya tau gak," ketus Jesi hendak beranjak namun tidak dibiarkan oleh Steven untuk pergi begitu saja.


Pria itu menciptakan karakter yang paling baik nya di hadapan Ayyara sampai tak tau bagaimana kebiasaan buruk lainnya.


"Yash, but that's my hobby, gue juga gak ngelakuin hal diluar batas, so tolong bantu gue buat pertemuan gua sama Aya. Dia blok semua medsos sama no gua," Pinta Steven yang hampir frustasi.


"Itu lu yang salah Stev, harus nya lu kasih tau sama Aya. Aya pasti bisa ngertiin. Tapi lu malah lebih nutup diri lu dari Aya sedangkan lu selalu maksa dia dan ngekang dia. Aya selalu cerita semua hal ke lu tanpa ditutupi karena lo bilang kan ke dia kalo komunikasi adalah kuncinya tapi lu gak ngelakuin hal itu. " jelas Jesi dengan panjang lebar.


"Gue terlalu takut Aya gak bisa Nerima diri gua yang itu," lirih Steven. Itulah alasan nya dia tak memberitahu tentang kelakuan buruk nya. Dia takut jika Ayyara meninggalkan nya dan tak menerima nya lagi. Ketakutan nya sangat besar, dia tak mau Ayyara pergi dari nya.


"Ck, kalo takut kenapa ngelakuin," keluh Jesii.


"Karena gue suka dunia itu," balas Steven tanpa ada kebohongan di dalam nya.


"Oke, sekarang gue ngerti, lu harus perbaikin hubungan lu sendiri stev bukan minta sama gue, gue gak bisa bantu. Semua keputusan nya ada di Ayyara, tapi bukan berarti gue dukung ku tetap ada di dunia lu itu, kalo bisa ya Lo kurangin atau lebih baik ya lu bisa


"Lu jangan temuin dia dulu, dia masih butuh waktu. Tapi tenang aja dia gak bakal pergi Stev. Tau gak lu, tadi dia bahkan Sampe nangis - nangis karena kangen sama lu yang biasanya selalu ada sama dia. He still love you, dia udah bergantung sepenuhnya sama Lo Stev," Jesii menepuk bahu pria itu.


"Good luck, jangan sia-sia ini kesempatan itu. Hati dia masih sama lu , lu hanya perlu meyakinkan dia kembali, kalo udah merasa baikan dia pasti ngomong sama Lo. Lo yang lebih tau Aya kayak gimana." lanjut Jesi.


"Thanks Jes, sekarang lu mau kemana,kenapa lo belum balik sedangkan Intan dan Aya udah," tanya pria itu Apalagi sekolah sudah mulai sepi.


"Gue lagi nunggu orang," ucap Ayyara.


"Siapa? lu udah ada cowok ya, PJ lah," ucap Steven yang kini sudah bisa santai.

__ADS_1


"Dih pala lu, Sono balik," usir Jesi pada pria itu.


"Ciee entar lagi Lo udah kagak jadi nyamuk nya gue sama Aya, kok gua aga sad ya gak ada lagi yang jadi nyamuk nya gue," kekeh Steven.


"Selagi lagi Lo ngomong, gue tampol Lo yeh," sentak Jesi yang mulai agak kesal dengan Steven yang menjahili nya.


"Dih galak banget, gue jadi penasaran sama cowo lu," balas Steven.


Karena akhirnya gadis yang tak pernah memiliki hubungan spesial dengan lelaki manapun itu kini memiliki seseorang.


"Kepo," Jesi mengeluarkan muka julit nya.


"Yaudah, gue balik dulu kalo gitu. Tolong jagain Aya selama gue gak sama dia yah," pinta Steven.


"Pasti lah, dia kan sahabat gue, sebelum lu ngomong gitu pasti gue bakal lakuin," jawab Jesi. Itu sudah menjadi tugas nya menjadi seorang sahabat bukan.


Steven mengangguk kecil, dia bersyukur Ayyara memiliki teman-teman yang begitu peduli terhadap gadis nya. Dengan begitu rasa khwatir nya bisa berkurang sedikit. Teman-teman Ayyara bisa dipercaya.


"Hati-hati lu," ucap Jesi pada Steven.


"Yoi, lu juga," ucap Steven lalu kembali ke dalam mobil nya dan meninggalkan pekarangan sekolah.


"Huft, kok lama banget sih, mana panas lagi," keluh Jesi sambil melihat ponsel nya. Dia sudah menghubungi Atlas sedari tadi namun pria itu tak bisa dihubungi sama sekali.


Pesan dan panggilan nya sama sekali tidak di jawab oleh pria itu. Setidaknya memberikan kejelasan pada nya, biasa atau tidak menjemput nya hari ini agar dia bisa pulang sendiri.


Jika begini dia jadi menunggu dengan tidak pasti. Takut nya saat dia sudah pulang pria itu malah jadi datang.

__ADS_1


"Gue tunggu bentar lagi deh, apa dia kenapa-napa ya dijalan. Aduhh, semoga gak deh," doa nya dalam hati.


Jesi akhirnya memilih untuk berteduh daripada berdiri seperti orang bodoh di gerbang sekolah.


__ADS_2