Possesive Man

Possesive Man
part 7


__ADS_3

Setelah perbincangan nya dengan Fathan tadi kini Sania akan segera pulang dengan Intan yang akan diantar Fathan.


Sania sempat menolak namun Fathan yang keras kepala tidak mau permintaan nya ditolak alhasil dia hanya pasrah saja.


Kini Sania menghampiri Intan sambil menunggu Fathan yang ingin mengambil kunci mobil.


Sania tak sengaja melihat Fedrick, dia tersenyum ramah pada anak itu namun Fedrick hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya.


Sania menghela nafas melihat nya. "Yah, mungkin Fathan benar, tak mudah untuk menerima orang baru hadir dalam kehidupan sendiri."


"Intan," panggil Sania pada Intan yang tengah asik dengan Mark.


Sepertinya Mark sangat menerima kehadiran Intan terbukti dari pria itu yang selalu membuat Intan senang dengan nya.


"Hai mom,"


Sania mengerjapkan matanya saat mendengar panggilan itu, sebab panggilan itu sekarang tidak keluar dari mulut Intan namun oleh Mark yang sedang berada di samping Intan.


Intan juga menoleh ke arah Mark saat Mark mengatakan ucapan itu.


"Tidak bolehkah?" ucap Mark lirih. Pasalnya dia ingin sekali memiliki seorang ibu dalam hidupnya meski dia tak mendapat kannya dari ibu kandung nya.


Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, Mark mengetahui hal itu karena menguping pembicaraan Daddy nya dengan abangnya.


Mark sempat menyalahkan dirinya sendiri bahkan pernah berniat untuk menyusul ibunya, untung saja Abang nya Athan yang merupakan anak sulung menghentikan rencana bodoh Mark.


Pita itu bahkan menenangkan nya dan mengatakan jika kematian ibunya bukanlah salah nya. Beruntung nya dia memiliki Abang dan daddy yang selalu ada bersama nya.


Meski begitu Mark tetap membutuhkan kasih sayang seorang ibu, dia hanyalah seorang anak yang ingin merasakan kasih sayang itu juga.


Intan melihat kesedihan Dimata Mark, dirinya tidak tega tentu saja.


"Boleh, Intan mau berbagi mommy ko sama bang Mark, iya kan mom. Boleh yah!" pinta Intan mengeluarkan jurus andalannya dengan menunjukkan raut memelas dan wajah imutnya.


"Ekhem, jika Intan tidak keberatan, mommy juga tak akan keberatan," ucap Sania yang membuat raut wajah Mark kembali berbinar mendengar nya.


"Yes! terimakasih mom," Senang Mark memeluk Sania dengan erat. Sania membalas pelukan itu membuat Mark semakin senang.


Intan yang tidak mau jika hanya Mark yang dipeluk, menyelonong masuk diantar kedua orang itu, Sania melepas pelukannya dan melihat Intan ya g menatap nya juga dengan pandangan tidak bersalah.


"Intan mau dipeluk juga," adunya. Sania tertawa dan kembali memeluk kedua anaknya itu. Sania mendapatkan anak baru sepertinya.

__ADS_1


Ketiganya tak sadar jika mereka tengah diperhatikan oleh 2 pasang mata. Satu diantaranya senang dan satu diantaranya menatap ketiganya dengan sinis.


Fathan menghampiri mereka, Fathan mendengar seluruh ucapan mereka, dia sangat senang jika Mark menyukai Sania dan juga Intan.


Fathan ikut bergabung dalam pelukan itu membuat ketiganya langsung melepaskan pelukannya.


"Kok dilepas, padahal Daddy baru bergabung," ucap Fathan yang mendapat ejekan dari Mark.


Sania memutar bola matanya malas sedangkan Intan tertawa kecil melihat raut wajah Fathan yang nampak kecewa.


"Yasudah lah kalau begitu, ayo masuk," ucap Fathan membuka mobilnya.


Sania hendak masuk dengan Intan namun tangan nya ditahan oleh Fathan. Pira itu menarik dirinya dan membuka pintu untuknya lalu mendorong Sania lembut ke kursi depan. Sania hendak protes namun Fathan langsung menutup pintu.


Intan masuk di kursi belakang diikuti Mark.


Fathan yang melihat putranya masuk menaikkan alisnya.


"Aku juga mau mengantar mommy dan adikku," ucap Mark seakan tau maksud dari tatapan Fathan pada nya.


"Padahal bang Mark tak usah repot-repot, kan ada om Fathan,"


"Daddy?" tanya Intan.


"Ya sebagai simbiosis mutualisme, karena kamu udah mengijinkan Mark memanggil mommy pada mom mu maka Daddy akan melakukan hal yang sama. Kamu boleh memanggil om dengan sebutan Daddy," jelas Fathan.


"Halah, gak usah bawa-bawa Mark deh, sok-sok an simbiosis mutualisme," ketus Mark.


"Diamlah, daddy tak mengajakmu,"


"Mommy, bolehkah? Intan juga mau punya Daddy. Duku disekolah Intan diejek karena tak punya Daddy, Intan dibilang anak haram nah sekarang jika om Fathan mau jadi Daddy aku, nanti kau bisa bilang sama teman-teman jika aku juga punya Daddy," jelas Intan tanpa sadar membuat ketiga orang itu menggeram amarah.


Sania marah mendengar nya hatinya teriris, bagiamana bisa ada mulut orang sejahat itu, padahal mereka tidak tau faktanya sama sekali.


"Siapa yang bilang begitu?" bilang sama abang biar bang kasih pelajaran," desis Mark.


Fathan juga bahkan mencengkram setir mobilnya mendengar ucapan Intan, dia akan mencari orang yang sudah berani mengatakan hal buruk itu Pada intan.


Fathan menarik napasnya dalam dan menghembuskan napasnya pelan untuk menetralkan emosinya.


Melirik ke arah Sania yang menunduk dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Fathan tersenyum dan mengelus wajah Sania .


"Jangan terlalu banyak dipikirkan, aku akan mengurus nya,"


"Sudah, yang penting sekarang Intan udah punya Daddy kan. Nanti Intan harus tunjukkan siapa orang yang ngomong gitu sama Daddy dan bang Mark hair mereka tau jika Intan punya Daddy bahkan punya Abang yang keren oke," ucap Fathan menoleh kebelakang untuk melihat Intan.


Intan mengangguk dengan semangat. Mark mengelus rambut indah milik Intan lalu melirik ke arah Fathan yang juga sedang melihat nya.


Fathan tersenyum miring dan Mark tau akan maksud senyuman itu. Mark mengangguk.


Fathan kemudian melajukan mobilnya dari kawasan rumah'nya untuk mengantarkan wanita nya dan juga princess nya.


Fedrick melihat mobil milik Daddy nya semakin menjauh dari rumah. Menatap datar mobil itu sampai tak terlihat.


Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu oleh Intan. Karena dia bisa bangun siang tanpa harus dibangun kan oleh Sania terlebih dahulu. Intan mengambil jam gereja siang maka dari itu sekarang dirinya bisa bersantai sebelum pergi ke gereja.


Hari ini Intan juga akan menghabiskan waktu dengan kedua temannya. Jessie dan juga Ayyara. Mereka janjian sore ini.


Intan turun ke bawah hendak membantu mommy nya, sebelum mommy nya pergi ke rumah Daddy Fathan. Mengingat Fathan menjadi Daddy nya membuat hati Intan menjadi hangat.


"Mom, good morning," ucap Intan mengecup pipi Sania yang sedang memotong daging.


"Morning honey," balas Sania.


"Mom jam berapa kerumah Daddy?" tanya Intan.


Sania menoleh sekilas ke arah Intan, masih terdengar aneh bagi nya jika Intan memanggil Fathan dengan sebutan daddy. Sania belum terbiasa dengan itu.


"Tidak lagi sayang,mom tak bekerja disana beberapa hari. Sepertinya,"


"Loh kok gitu? Daddy memecat mommy yah, jahat sekali Daddy," sentak Intan.


"Hey, bukan begitu, Daddy akan banyak pekerjaan dan akan pergi ke luar negeri ya jadi begitu deh. Terus kalo mom kerja disitu pas daddy gak ada yang ada nanti Fedrick Marah-marah lagi sama mom," balas Sania yang tak sepenuhnya berbohong.


Fathan memang akan melakukan perjalanan ke luar negeri entah sampai kapan, pria itu menuntut jawaban atas pernyataan nya yang ingin menikahi Sania saat Fathan sudah pulang.


"Hah! Daddy mau pergi kerja ya, is ko gak bilang Intan sih," adu Intan.


"Nanti akan dikasih tau, sudahlah sini bantu mommy," ucap Sania memberikan sayuran untuk dibersihkan oleh Intan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2