
Disninlah Sania dan Intan sekarang, kedua wanita itu sudah berada di depan apartemen milik Athan.
Pria itu seperti nya memang tidak main-main dengan perkataan nya. Athan tak menerima penolakan dan tetap membawa mereka kemari.
Sekarang mereka tengah menunggu untuk anak buah Athan memasukkan barang-barang mereka.
"Sudah selesai semuanya?" tanya Athan pada beberapa anak buahnya.
"Sudah tuan," jawab mereka serempak.
Athan mengangguk senang. "Baiklah kalian boleh pergi, nanti akan saya transfer ," ucap Athan yang diangguki beberapa orang berbadan besar itu.
"Baik tuan," ucap mereka lalu berlalu pergi.
"Nah sudah, ayo masuk," ucap Athan mengajak Sania dan Intan.
Intan berdecak karena apartment milik Athan ternyata sangat luas dan sudah di lengkapi dengan fasilitas - fasilitas lainnya.
"Apartemen ini ada dua kamar, aku harap kalian suka dan nyaman untuk tinggal di sini," ucap Athan.
"Terimakasih banyak, maaf jadi merepotkan," ucap Sania yang merasa tidak enak.
"Jangan berkata seperti itu mom, kalian bukan lah orang asing bagi ku. Jadi ini adalah hal yang wajar saja," terang Athan.
"Wah makasih Abang, Intan suka heheh, jadi gak panas-panas lagi deh tidurnya. Soalnya kadang Intan gak bisa tidur," cerita Intan yang membuat Sania menatap Intan menyesal.
memang di kontrakan Mereka hanya ada satu kipas kecil saja, karena Sania hanya bisa membeli itu.
"Sekarang gak harus panas-panasan lagi kan," ucap Athan mengelus puncak kepala Intan.
Tidak sia-sia dia keras kepala mengajak Sania dan Intan untuk tinggal di apartemen nya. Sedih rasanya saat Intan mengatakan hal itu.
Athan merasa tidak berguna jadi nya, syukurlah jika Intan menyukai apartment itu dan yang lebih bagus nya, dia bisa lebih sering kemari untuk melihat keadaan mereka.
Athan melihat jam tangan nya.
"Ehm, Athan gak bisa berlama-lama lagi disini seperti nya mom, Aku harus ke kantor Daddy sekarang," ucap Athan.
Sebenarnya dia masih ingi menghabiskan waktu lebih banyak namun kerjaan nya di kantor juga banyak terlebih dia hanya mengambil libur satu hari di rumah sakit.
"Baiklah, jaga dirimu. Jangan terlalu lelah bekerja, ingat lah untuk berisitirahat katakan pada Fathan juga," ingat Sania.
Sania merasa khawatir pada Fathan yang memang terkadang tak memperdulikan dirinya sendiri demi kepentingan pekerjaan nya.
"Kenapa mommy tidak bilang sendiri saja," Athan menaikkan turun kan alisnya.
__ADS_1
"Bukan kah Abang mau pergi?" tanya Intan yang membuat Sania terbatuk bangga karena Intan mengerti akan keadaan nya.
"Hahaha iya, baiklah. Abang pergi sekarang, Abang akan merindukan mu," ucap Athan mencubit kecil hidung Intan.
"Iya dong, soalnya kan Intan memang ngangenin," ucap Intan.
"Iya deh," ucap Athan.
"Aku pergi dulu, jika ada apa - apa telpon Athan aja ya," ucap Athan sembari menyalim tangan Sania.
"Hati-hati ya,"ucap Sania yang diangguki oleh Athan.
"Kamu mau kemana Ntan?" tanya Sania.
"Mau anterin bang Athan sampe kemobil," balas Intan.
"Tidak perlu, nanti kamu capek. Abang bisa sendiri kok," ucap Athan lembut.
"Eum yaudah deh, abang kalo udah nyampe kabarin ya," ucap Intan.
"Siap," ucap Athan.
Athan senang sekali jika Intan mengatakan seperti itu. Athan bahkan sampai hapal karena setiap berpergian atau mau kemana pun, gadis itu selalu menanyakan kabar.
Athan pulang dengan wajah yang sangat berseri-seri dan sangat bersemangat.
Di setiap langkah menuju kantor dan ruangan sang Daddy, Athan belum lelah untuk menahan senyum nya.
Arah yang biasa nya begitu cuek bebek kepada karyawan kini menyapa satu persatu karyawan kantor yang berpapasan dengan nya.
Hal itu tentu mengundang banyak tanya dari pra karyawan yang melihat perubahan dari Athan yang begitu signifikan.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu Athan langsung masuk ke dalam ruangan Daddy nya.
Fathan yang menyadari kehadiran seseorang ke ruangan nya kian mendongkrak hendak memarahi orang yang tidak sopan dan asal masuk saja.
Namun saat melihat Athan yang masuk pria itu mengurung kan niat nya.
"Lain kali jangan lupa untuk mengetuk pintu," ingat Athan.
"Hem," dehem Athan yang kini duduk di kursi yang berada di depan Fathan.
"Ada apa dengan mu?" tanya Fathan sambil menaikkan alisnya melihat Athan yang duduk di depan meja nya.
Putra nya itu juga sedari tadi tersenyum sendiri membuat Fathan heran dengan Athan.
__ADS_1
"Coba Daddy tebak?" ucap Athan.
Fathan berdecak malas. "Jika tidak penting pergilah, kerajaan ku masih banyak dan kau seharusnya membantu ku tapi malah kelayapan," dengus Fathan.
"Daddy tidak asik, baiklah akan aku beritahu pada Daddy dan ini sangatlah penting dad, aku sangat yakin jika Daddy tidak akan menyesal jika mendengar kan apa yang aku katakan nanti," jelas Athan dengan semangat.
"Heum langsung saja," ucap Fathan yang sedang malas untuk berbasa-basi untuk sekarang ini.
"Jadi aku tadi ke kontrakan mommy dan Intan," ucap Athan lalu menghentikan ucapan nya untuk menanti reaksi Fathan.
Benar saja Fathan langsung menghentikan tangan nya yang sibuk lalu menurunkan kaca mata nya.
"Kau bilang apa tadi? mommy?" tanya Farhan memastikan jika pendengaran nya tidak salah.
"Yes," angguk Athan.
"Untuk apa kau kesana dan dari mana kau tau alamat kontrakan mereka?" tabya Fathan karena hanya dia dan beberapa Bodyguard nya yang tau.
"Cih, itu sangat lah gampang, tentu saja dari supir Daddy. Daddy memasang begitu banyak cctv di rumah, apa Daddy melupakan fakta yang satu itu," dedak Athan.
"Heum terus? apa mereka baik-baik saja?" tanya Fathan.
"Hais kenapa tidak lihat sendiri saja sana. Gak Daddy gak mommy sama aja,"
"Maksud mu?" tanya Athan yang tidak mengerti.
"Ya, mommy juga menitip pesan tadi. Doa bilang jangan terlalu keras bekerja nya dan ingat kesehatan. Begitu kata mommy," kata Athan mengatakan hal yang Sania ucapkan pada nya sebelum pulang.
Hati Farhan menjadi hangat mendengar nya. Benarkah Sania mengatakan hal itu. Itu artinya Sania masih perduli kepada nya.
"Benarkah? kau sedang tidak menghiburku kan?" tanya Fathan.
"Terserah Daddy saja kalau tidak percaya," acuh Athan.
"Ah satu lagi, sekarang mereka tidak tinggal di kontrakan itu lagi. Aku sudah membawa mereka ke apartemen milik ku," ucap Athan.
"Daddy payah, aku saja bisa membujuk mereka masa Daddy gak bisa sih, mending Daddy cepetan bergerak sebelum pria yang bernama Daniel itu yang start lebih dulu," peringat Athan.
"Seperti nya memang harus begitu, tak ada gunanya aku melepas mereka. Hari ku semakin panas setiap hari nya," ucap Fathan yang menggeram
"Nice, itu baru Daddy ku, jangan menyerah dad. Aku tidak suka saat Diaman Daddy hanya bisa pasrah saja dan berhenti berjuang, jika Daddy menginginkan sesuatu Daddy harus melakukan apa saja untuk mendapatkan nya bukan?" ucap Athan tersenyum miring.
"Kau benar," ucap Farhan dengan senyum smirk nya.
TBC
__ADS_1