
"Aku mau melihat yang itu," tunjuk Jesi lada salah satu kuda yang berwarna hitam legam. Kuda itu terlihat begitu besar dan gagah.
"Pilihan yang sangat bagus nona, dan kebetulan itu adalah milikku," bangga Atlas seraya membusungkan dadanya.
"Sombong sekali," ucap Jesi sedangkan Atlas hanya tertawa kecil menanggapi.
"Namanya adalah Fort, artinya kuat," ucap Atlas sambil mengelus kuda tersebut.
"Wah, warna bulu nya hitam sekali," ucap Jesi yang hanya berani melihat kuda tersebut, karena sejujurnya dia merasa takut.
"Tentu saja, dia termasuk dalam muda Friesien, dia berasal dari Belanda dan memang biasanya kuda Friesien kebanyakan berwarna hitam." jelas Atlas.
"Aku pernah melihat nya di film-film barat," seru Jesi melihat seksama pada muda milik Atlas.
"Tunggu sebentar, aku akan mengeluarkan nya," ucap Atas membuka pintu kandang Fort.
Jesi reflek sedikit menjauh dari Atlas.
"Kemarilah, dia tidak akan menyakitimu. Aku tak akan membiarkan nya tak usah taku, ada aku," ucap Atlas.
"Kemarikan tangan mu," ucap Atlas lalu setelahnya Atlas menuntun Jesi untuk naik.
"Akh Atlas, aku takut. Bagaimana jika dia tiba-tiba berlari. aku tak bisa," ucap Jesi yang gemetar.
"Tak apa," Atlas segera naik dan kini posisinya Jesi berada rapat didepannya.
Atlas melingkar kan tangannya dan menarik tali yang melekat di leher Fort.
Karena posisi mereka yang terlampau dekat, Jesi harus menahan nafasnya karena merasa tidak nyaman. Apalagi Atlas seperti tenaga sedang memeluk nya sekarang.
"Relax," ucap Atlas tepat ditelinga Atlas.
"Kuda nya tidak keberatan kan, kasian," ucap Jesi.
"Haha tidak Jesi, dia kuda yang kuat," kekeh Atlas.
Perlahan Atlas akhirnya menunggangi Fort dengan Jesi. Pertama kali untuknya naik kuda bersama perempuan.
"How do you feel?" tanya Atlas saat kudanya sudah mulai berjalan.
"Not bad, ini menyenangkan, dari dulu aku selalu ingin naik kuda dan baru sekarang bisa kesampaian. Thank you Atlas," Jesi berteriak senang sambil merentangkan tangannya.
"You are welcome," ucap Atlas. Entah mengapa dia jadi merasa senang saat melihat tawa bahagia Jesi. Biasanya Jesi dan dirinya akan selalu berdebat jika bertemu.
Tak pernah terlihat olehnya Jesi yang penuh tawa seperti ini. Ada desiran aneh di dadanya. Atlas ingin mencoba menyangkal perasaan nya seperti biasanya namun saat ini dia tak bisa membohongi itu.
Atlas akhirnya kalah, dia telah jatuh pada Jesi.
__ADS_1
***
"Yey, akhirnya bisa make bareng," seru Mark kesenangan. Tak menyesal dirinya pulang cepet kerumah hari ini. Pasalnya semuanya kini tengah berkumpul.
"Sudah sangat lama, aku bahkan lupa kapan kita berkumpul seperti ini," gumam Vandra terharu.
"Cih lebay," sahut Fedrick.
"Berisik," ucap Athan.
Sania tersenyum melihat itu. Entah mengapa dia juga ikut merasakan senang. Biasanya dia hanya makan berdua dengan Intan namun Sekarang, terlihat ramai dan menyenangkan.
Fathan mengangguk mengiyakan. Merasakan senang yang lebih setelah kehadiran Intan dan Sania.
"Mommy gak bakalan hilang Ki dad, sampai diliatin Mulu," ucap Mark yang melihat Fathan selalu mencuri pandang kepada Sania yang tengah fokus dengan makanannya.
Mark heran, apa kepala Daddy nya tidak cape serial kali habis menyuap makan kedalam mulutnya, setelah akan segera menoleh kearah mana dimana Sania duduk.
Fathan hanya diam, tak ingin terlalu menanggapi sindiran putranya yang mulutnya lemas sekali. Pantas saja tidak ada perempuan yang mau dengan Mark.
Fathan juga tak mengerti anak-anak nya yang berbicara di meja makan. Ternyata makan sambil berbicara satu sama lain tidak buruk juga. Selama ini Fathan selalu menegaskan pada mereka untuk tidak bersuara saat sedang makan di meja makan.
"Hahaha, Daddy udah jadi bucinable," sahut Vandra.
"Dasar lebay," cibir Fedrick lagi yang membuat Mark dan Vandra kesal dengan pria itu.
Mark langsung diam cemberut, jika sudah mendapatkan petuah dari Fathan, maka ia tidak akan berani melawan.
"Dek, kamu mau nambah?" tanya Fathan pada Intan yang tidak terganggu akan ocehan para adiknya.
Gadis itu hanya diam memperhatikan sambil memakan makanannya.
"Gak bang, Intan udah kenyang," tolak Intan dengan halus sambil tersenyum.
Setelah acara makan selesai. Seperti biasanya Fedrick akan langsung meninggalkan meja makan dan pergi kekamarnya.
"Dad, aku akan kerumah sakit sekarang, aku ada urusan sebentar," ucap Athan pamit pada pria itu.
"Oke, hati-hati," ucap Fathan.
"Tan, em aku pamit dulu," ucap Athan pada Sania.
Athan juga menyempatkan untuk mencium pipi Intan yang tengah bersama dengan Vandra dan Mark.
"Hati -hati Abang ," sahut Intan.
Dan kini Vandra dan Mark kini berebutan untuk mengajak Intan bermain bersama.
__ADS_1
"Intan sama abang Mark aja ya, jangan sama bang Vandra, dia bau ," ucap Mark.
"Dih mu kali, intan yuk nonton bareng Abang aja. Temenin abang nonton berbie,"
mendengar jika Vandra menonton film barbie membuat tawa Intan meledak. Lucu rasanya mengetahui laki laki ternyata juga menonton film barbie.
"Abang nonton Barbie, seriusan?" tanya Intan tak percaya.
"Ya memang apa salahnya, Abang Suka sama film nya." sahut Vandra.
"Yaelah masa nonton Barbie, main game aja lah Kuy," ajak Mark mengambil PlayStation dan memberikan nya pada Intan dan Vandra.
"Hayuklah gass, yok dek sini dekat Abang," ucap Vandra menepuk kursi disampingnya.
"Em bentar, Intan pengen ambil cemilannya dulu," ucap Intan segera berlari kearah dapur.
"Princess jangan berlari," tegur Fathan.
"Sorry dad," cengir Intan lalu memelankan langkahnya.
Saat Fathan ingin bergabung dengan anak-anak nya, dering ponselnya mengurung kannya.
Tangan Fathan terkepal dan rahang nya mengeras saat menerima telpon itu. Sania mengernyit, ada apa sebenarnya.
"Hei, ada apa? tanya Sania.
Fathan yang mendengar suara lembut itu segera mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum kembali.
"Ada masalah dikantor, aku juga sepertinya harus pergi sekarang,"
Fathan langsung memasukkan handphone nya kedalam saku celana dan menyempatkan untuk mencium kening Sania.
Lalu dengan langkah besar dan sedikit berlari, Fathan segera meninggalkan rumah untuk menuju kantor.
Vandra dan Mark saling melirik satu sama lain.
"Semoga aja gak terjadi apa-apa, Abang liat gak tadi wajah Daddy yang bahan emosi," ucap Mark.
"Hem, sepertinya ada sesuatu," sahut Vandra, karena ia paham betul bagaimana sifat Daddy nya. Fathan tak kerah bersifat grasak-grusuk jika memang tidak mendesak, apalagi tadi eskpresi Fathan terlihat sekali sedang menghawatirkan sesuatu.
"Bersikaplah biasa, mom dan Intan tak perlu tau," ucap Vandra yang diangguki oleh Mark.
"Buset banyak amat tuh bawaannya, Adek lu tu," ucap Vandra menggeleng geleng kan kepalanya melihat Intan yang membawa berbagai macam makanan ringan.
"Kalo bang Athan Liat pasti kena marah tu bocil,"
TBC
__ADS_1