Possesive Man

Possesive Man
Part 32


__ADS_3

"Ekhem."


Terdengar suara deheman dari Steven yang kini duduk bersama dengan kekasihnya dan temannya serta tuan rumah dan juga ibunda Intan.


Terasa sangat akward dan tegang karena merasakan aura yang dingin dan tak enak dari pemilik rumah. Sejak kedatangan mereka, kentara sekali jika sang tuan rumah tak menginginkan kehadiran mereka disana, terlihat dari tatapan nya yang sinis dan tajam.


Sania yang ikut merasakan ketegangan diantara mereka menyenggol tangan Fathan.


"Kau membuat mereka takut," ucap Sania.


"Apa benar begitu?" tanya Fathan menaikkan alisnya menatap ketiga ank mudah yang masih lengkap dengan seragamnya yang rapih.


"Heheh gak ko om, " ucap Jessie.


"Baguslah, saya tidak makan orang. Lalu untuk apa kalian dijam sekolah kemari? apa orang tua kalian tau?" tanya Fathan sarkas. Kesal sekali rasanya karena rencana awalnya adalah untuk mengajak kedua wanita kesayangan nya untuk refreshing.


"Mau ketemu Intan om, boleh kan tan?" tanya Steven pada Sania.


"Boleh, siapa yang larang? Intan nya masih ganti baju tuh bentar lagi pasti turun," balas Sania.


"Kita ganggu ya Tan?" ucap Jessie tak enak setelah menyadari jika Fathan dan Sania sudah berpakaian sangat rapi.


"Sangat menganggu," desis Fathan yang dihadiahi pelototan oleh Sania. Bukannya terlihat marah, eskpresi itu malah membuat Fathan terkekeh.


"Terimakasih sudah datang, tapi seharusnya kalian tidak membolos, kan bisa pas pulang sekolah ketemu Intan," ucap Sania seraya memberi pengertian.


"Maaf tan," ucap ketiganya berbarengan.


"Tak apa, Tante ngerti kok, Tante sangat senang Intan punya teman sebaik dan sepeduli kalian. Terimakasih ya," ucap nya dengan tulus.


"Harus dong Tan, kan kita ini bestfriend," Kata Jessie.


"Mommy, Daddy, Intan udah siap," teriak Intan sambil berlari menuju ruang tamu.


"Intan jangan lari!" tegas Fathan. Gadis itu sudah sering sekali ditegurnya namun Intan selalu keras kepala membuat nya harap-harap cemas. Bagaimana jika Intan terjatuh saat menuruni tangga tersebut. Fathan tak bisa membayangkan nya.


"Hehe maaf dad, wah ada kalian disini," Ucap nya dengan ceria sambil memeluk satu persatu temannya itu.


"Kalian ikut bolos juga,"


"Em mau liat kabar kamu aja, soalnya kata Mark rumah kamu kebakaran," ucap Ayyara yang membuat Intan yang tadinya ceria kini menampilkan raut wajah sedihnya kembali karena mengingat rumah'nya yang terbakar beserta isinya.


Fathan menggeram karena melihat raut wajah intan yang sedih kembali, padahal dia sudah berusaha untuk membuat Intan melupakan masalah itu.

__ADS_1


"Iya, semuanya hangus," lirih intan. Ayyara dan Jessie kompak mengelus bahu gadis itu karena posisi Intan berada ditengah mereka sekarang.


"Kalian harus pergi ke sekolah sekarang, sepertinya masih sempat," ucap Fathan terdengar mengusir ketiganya.


"Kayak nya udah gak sempat dad," balas Intan dengan melihat jam tangannya.


"Udah, biarin mereka dulu, niat mereka baik buat hibur Intan," bisik Sania pelan agar tak terdengar oleh mereka.


"Tapi--"


Belum sempat Fathan membalas ucapan Sania, wanita itu sudah mengajaknya untuk beranjak.


"Nikmati waktu kalian," seru Sania seraya memegang tangan Fathan. Bisa dia dengar Fathan yang menggerutu dibelakang nya.


Sania membawa Fathan kembali kekamar milik pria itu. Bukan untuk melakukan hal yang aneh melainkan untuk melihat pemandangan lagi hari dari balkon kamar Fathan yang lumayan besar.


Sania menyukai nya, terlampaui menyukai nya, taman bunga dirumah Fathan dapat terlihat jelas dari balkon. Sania baru menyadari nya saat bangun tadi.


"Aish, mereka sangat menganggu. Jika bukan teman Intan pasti sudah kupaksa mereka untuk keluar," dengus Fathan.


"Kenapa kau terlihat sangat kesal?"


"Ayolah, padahal aku sudah menyiapkan jadwal dan tempat yang akan kita kunjungi hari ini."


"Kau niat sekali," balas Sania terkekeh.


"Tentu saja, aku sudah lama merencanakan nya dari dulu. Aku selalu membayangkan jika aku akan mengajak kalian berdua diwaktu yang tepat. Dan pada saat inilah waktu nya dan lihatlah sekarang. Semuanya tinggal rencana."


"Mereka tak akan lama, kita bisa pergi setelahnya," tawar Sania.


"Heum," dehem Fathan kini memeluk wanita itu.


"Aku masih marah, aku juga marah padamu," terang Fathan sembari menelungkup kan wajahnya dibahu wanita itu.


Menghirup dengan Lamat aroma wanita itu yang sangat wangi.


"Aku? emang apa salahku? aku tak melakukan apapun." Bingung Sania.


"Sungguh? coba ingat-ingat kembali sayang,"


"Aku tak tau," ucap Sania yang membuat Fathan lantas melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Sania agar menjadi menghadap padanya.


"Baiklah aku akan memberi tahumu. Kau masih bertemu Daniel kan?" tanya Fathan dengan nada serius.

__ADS_1


Dapat dia lihat raut wajah terkejut dari Sania.


Dia ingin melihat apa Sania akan berbohong padanya atau tidak.


"Darimana kau tau hal itu?" tanya Sania.


"Sudah kubilang aku memiliki banyak mata sayang. Jadi itu benar atau tidak."


Sania menggigit bibir bawahnya dan dengan pasrah akhirnya dia mengangguk.


"Good, aku senang kamu jujur sayang, tapi aku tetap tidak mengabaikan yang satu ini. Karena aku sudah mengingatkan mu sebelumnya." ucap Fathan dengan nada lembut.


"Maaf aku berjanji padanya untuk menemani nya membeli kado untuk keponakan nya dan setelah itu dia kecelakaan. Aku hanya ingin menjenguk nya saja, lagipula dia mengalami kecelakaan saat pulang sesudah bersama aku dan Intan," jelas Sania yang membuat Fathan tersenyum dalam hati.


Bukan Karena merasa senang akan apa yang dia lakukan dengan Daniel tapi karena kejujuran dari Sania. Dia semakin yakin untuk menjadikan Sania sebagai pasangan hidupnya.


"Tapi, apa perlu aku menyuapi nya? aku saja belum pernah kau suapi," ucap Fathan yang kini kesal mengingat kembali foto ya g dikirimkan oleh Carlos padanya.


"Maaf, lagipula kau kan sebenarnya tak berhak marah, kita belum ada hubungan apapun," cicit Sania pelan.


"Apakah itu sebuah kode? kau ingin aku meresmikan hubungan kita?" tanya Fathan sambil menaik turunkan alisnya menggoda Sania.


"Bukan begitu," ucap Sania mengalihkan pandangannya.


"Tak perlu malu, katakan kau mau kapan. kita bisa langsung menikah. bagaimana dengan bulan depan ? aku akan segera menyiapkan nya semuanya." terang Fathan dengan enteng seperti tidak ada beban sama sekali.


Sania tercengang mendengar nya, mulutnya sampai terbuka. Bagaimana bisa secepat itu menyiapkan semuanya.


"Are you crazy?"


"No, aku sangat serius sania. Aku ingin secepatnya memiliki mu hanya untuk ku saja."


ucap Fathan sambil menatap telak pada mata Sania yang juga memandang nya.


"Fedrick?" tanya Sania menghatirkan pria itu.


"Tak usah pikirkan Dia, pelan-pelan kita bisa membuat nya mengerti."


"So, Will you marry me?" tanya Fathan.


"Kau melamarku di balon kamar mu. ucap Sania terkekeh.


"Kau tak suka? baiklah besok akan kubiarkan acara untuk ini. Aku akan memberikan mu hadiah besok," ucap fathan mengedipkan sebelah matanya lalu dengan senyum yang mengembang dia meninggal kan Sania yang masih terpaku.

__ADS_1


TBC


__ADS_2