Possesive Man

Possesive Man
part 19


__ADS_3

"Aduh sabar Weh, udah kayak narik sapi aja," kesal Jessie saat kedua sahabat nya itu menariknya ke rooftof sekolah.


Intan dan Ayyara saling menoleh, lewat kode mata mereka bisa saling mengerti dan keduanya kini kembali menarik Jessi.


Sedangkan Jessie hanya bisa pasrah saja.


Kini dirinya di disuruh duduk di kursi yang berada di rooftof sedangkan kudanya berdiri dengan bersedekap dada sambil menatap Jessie penuh curiga.


"Buset, gue berasa disidang," gumam nya.


"Jelaskan!" ucap Ayyara telak.


"Jelasin apa coba, bel istirahat bunyi tiba-tiba udah narik aku kesini," bingung Jessie.


"Jessie gak usah pura-pura gak tau, itu loh Masalah yang kemarin malam," sahut Intan.


"Ouhh, itu ya,".


"Sebenarnya Keenan itu tunangan aku," ucap Jessie.


Intan dan Ayyara terdiam sejenak. Jessie baru memberi tahu lada mereka sekarang, bagaimana jika Keenan dan Atlas.tak datang kemarin. Jessie pasti akan tetap menyembunyikan nya dari mereka berdua.


"Eh denger dulu, aku gak bermaksud buat Rahadian dari kalian," jelas Jessie yang panik melihat keduanya tak merespon dan hanya menatap nya dalam diam.


"Jadi?" tanya Ayyara.


"Yah cuma perjodohan biasa, aku gak suka sama Keenan, Keenan juga gak suka sama aku, kita lagi ngeyakinin orang tua kita aja jika hubungan kami tak akan berhasil. "


"Oalah, gitu tapi kenapa Jessi gak mau kan bang Keenan baik dan ganteng," ucap Intan.


"Aku gak harus menyukai orang hanya karena ganteng doang Intan, aku maunya yang kaya Aya gitu saling cinta akhh iri banget sama Ayyara," ucap nya menoleh ke arah Ayyara.


"Benar juga, perasan itu gak bisa dipaksain. Jadi selanjutnya gimana Jes?" tanya Ayyara.


"Ya yang pasti itu bakal batal, doain yeh," pinta Jessi.


"Boleh, siapatau nanti bang Keenan jadi punya kau," ucap Intan terkekeh.


"Kamu suka sama dia ya!" tuduh Ayyara sedangkan Intan mengangguk polos.


"Wow, intan kamu dah gede, eh tapi aku gak tau dia tuh kayak gimana, aku masih belum kasih restu," ucap Ayyara.


"Tenang aja, Si Keenan baik kok, " sahut Jessie meyakinkan.


"Astaga sayang!!" teriak Steven yang datang bersama dengan Mark dan langsung berlari ke arah Ayyara.


Ketiganya terkejut karena teriakan dari Steven tersebut.


Mark tersenyum tulus dan melambaikan tangannya pada Intan.

__ADS_1


"Abang," ucapnya menghampiri Mark.


"Abang panik tau tadi kamu gak ada dirumah, untung aja bibi masih tau tadi." ucap Mark mengelus puncak kepala adiknya itu.


"Iya bang maaf, tadi aku bareng Ka Athan soal nya Abang tadi masih tidur," ucap Intan tak enak.


"Gapapa yang penting kamu baik'-biak aja. Udah makan? kok langsung kesini," tanya nya serius.


"Hehe belum bang," cicit Intan.


Mark mengehela nafas. "Kali ini Abah maafin lain kali awas Aja, aku kasih tau Sama Daddy!" ancam Mark.


"Jangan bang, iya Intan juga mau makan kok," ucap Intan.


"Yaudah Kuy, biarin aja tuh si Aya sama si Steven. Ayok Jes entar lu jadi nyamuk," ajak Mark dan mereka pun meninggalkan pasangan itu di rooftof.


"Kenapa langsung kesini?" tanya Steven dengan wajah yang datar.


Ayyara menyengir tidak jelas, dia benar-benar melupakan soal Steven karena kepo akan Jessie.


Dia bahkan tak menunggu Steven terlebih dahulu.


"Belum makan kan?" tanya Steven memastikan.


"Iya,".sahut Ayyara pelan menoleh ke arah lain karena tak berani memandang Steven yang sedang mode marah.


"Yaudah Ayo makan," ucap Steven langsung beranjak sedangkan Ayyara mengekor di belakangnya.


"Serem amat muka laki Lo," bisik Jessie pada Ayyara.


"Hem dia marah," ucap Ayyara lesu.


"Kamu sih gak kasih tau dia dulu," ucap Jessie menyediakan makanan nya.


Steven mendengar ucapan mereka, lalu dia pergi memesan makanan.


"Tenang aja Aya, nanti juga steven gak marah lagi," ucap nya.


"Bener tuh," sahut Mark yang sudah tau tabiat Steven yang amat bucin dan posesif akut jika menyangkut Ayara.


Ayara mengangguk hingga akhirnya orang yang mereka bicarakan kini sudah muncul dan langsung duduk.


Tapi pria itu hanya membawa satu saja. Dengan tenang Steven memakan makanannya tak memperdulikan Ayyara yang tengah menatap nya.


"Kok punya Ayara gak dipesan sih Steven?" tanya Intan.


"Biarin aja, kayaknya gak laper makanya langsung pergi ngurus hal lain tanpa isi perutnya," ucap Steven cuek.


Ayyara mengerti jika pria itu tengah marah, dia akhirnya ingin memesan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Steven datar saat melihat Ayyara akan segera beranjak.


"Pesen makan," cicit Ayyara.


"Duduk," pintanya dengan tegas.


"Tapi --"


"Duduk Aya," Desis nya memotong ucapan Ayyara yang belum tersampaikan.


"Cuaca nya lagi hot banget ini, pindah aja yuk," ucap Mark tanpa kata membawa Intan.


Jessie mengikut tentu saja karena dia tak mau menganggu kedua sejoli itu.


Dia hanya tak ingin ikut campur dengan urusan pribadi Steven.


Dia yakin jika Steven bisa mengurus nya.


"Ini ka," ucap salah satu adik kelas mengetrupsi Steven dan Intan yang hanya diam.


"Hem , makasih," ucap Steven memberikan beberapa lembar uang merah.


"Waduh makasih ka," ucapnya kesenangan lalu segera pergi.


"Nih makan," Steven meletakkan nya tepat di hadapan Intan.


Ayyara menggigit bibirnya, dia tak tau mau berbicaraapa, dia hanya takut mendapatkan balasan cuek dari Steven yang tak biasa padanya lagi.


"Makan Aya, mau disuapin?" tawar Steven menaikkan alisnya.


"Jangan kayak gitu, aku takut kamu marah dan cuek, apalagi muka datar kamu itu," ucap Ayyara menjelaskan kegundahan nya.


Steven menghela nafasnya, dia harusnya mengerti akan gadisnya itu, dia tak boleh egois dan terlalu mengekang Ayara. Tapi Steven masih belum bisa melakukan nya.


Apalagi dirinya yang panik saat menghampiri Ayyara ke kelasnya dan tak menemukan gadis itu, bahan ponselnya pun tak bisa dihubungi.


Steven juga tak mau gadisnya itu melewatkan makan, dia tak mau Ayyara terkena maag . Dia tak mau itu terjadi, Steven tak mau kehilangan wanita yang dia cintai lagi seperti kehilangan ibunya yang juga meninggal karena memiliki sakit maag parah.


"Oke, tali sekarang kamu makan yah," ucap Steven melembutkan suara nya.


Ayyara tersenyum. "Aku gak bakal ulangin lagi serius, tadi aku cuma lupa," cengir Ayyara.


"Lupa ya, awas aja besok-besok alasannya lupa lagi, aku hukum kamu," balas Steven.


"Siap kapten," seru Ayyara.


"Kamu gak boleh abaiin kesehatan kamu Aya, kayaknya kau harus lebih ekstra ngawasin kamu." ucap Steven final. Ini demi kebaikan gadis itu terserah orang-orang bilang jika dirinya terobsesi dengan Ayyara bahkan bucin atau segala macamnya.


Menurut nya Ayyara lebih lebih penting daripada omongan orang-orang itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2