
"Dad," panggil Fathan seraya mengetuk ruang kerja pria itu. Karena tak mendapat panggilan Athan membuka pintunya dan tak menemukan Fathan juga disana.
"Kalo gak disini, pasti di kamar Intan," gumam nya.
Fathan segera berjalan menuju kamar Intan dan membuka pintu kamarnya sedikit dan benar saja Fathan ada disana, duduk sambil memperhatikan Intan yang sedang tidur.
"Ada apa? apa sekarang kau sekarang beralih pekerjaan menjadi penguntit?" tanya Fathan.
"We need to talk!"
Athan mengucapkan nya sambil berbisik karena takut akan membangunkan Intan.
Fathan yang mendengar nada serius itu lantas mengangguk, sebelum keluar dari kamar dia menyempatkan mengecup kening Intan lalu perlahan-lahan menutup pintunya.
"Ada Apa?"
"Fedrick ditahan polisi."
Fathan mengernyit mencoba menajamkan pendengarannya, berharap apa yang dia dengarkan salah.
"Apa katamu!" ulang Fathan.
"Fedrick dikantor polisi karena balap liar," jelas Athan.
Fathan menggeram mendengar nya, belum selesai masalah yang satu sekarang timbul masalah yang lainnya. Untung saja dia gak memiliki sakit riwayat jantung.
"Anak itu benar - benar! jika para klayen dad dan pegawai daddy mengetahui nya, entah mau ditaruh dimana muka Daddy memiliki anak berandalan sepertinya."
"Dad, kumohon jangan terlalu keras pada mereka," pinta Athan.
"Jangan mencoba mengatur ku Athan," desis Fathan.
"Dad, tak tahukah Daddy mengapa mereka seperti itu! Daddy tak pernah memperhatikan kami, mommy pun tidak, saat mommy hidup pun kalian berdua hanya fokus untuk bekerja dan bekerja,"
"Terkadang aku sangat iri dengan Intan dan juga ibunya, Dad terlihat sangat menyayangi mereka padahal dad tak punya hubungan apapun dan baru bertemu. Bahkan Dad lebih menyayangi mereka dibandingkan kami berempat." Athan akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya yang sudah dia tahan sejak lama.
Selama ini tak pernah dia mengatakan hal itu karena dia harus bersikap tegas dan kuat didepan ketiga adiknya. Mencoba untuk memperhatikan ketiganya walaupun dia sibuk sekalipun.
__ADS_1
"Dad hanya tahu untuk menghukum kami jika melakukan kesalahan saja dan itu karena laporan dari anak buah dad, Dad tak pernah mengawasi kami secara langsung bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya kita berkumpul bersama,"
Setelah mengatakan hal itu Athan langsung berlalu dari hadapan Fathan yang masih terdiam kaku.
Fathan mengerjapkan matanya setelah kepergian Athan. Athan memang benar, sejak kecil Fathan sangat jarang memperhatikan mereka semua dan lebih fokus pada pekerjaan nya. Dia akan lebih sering pulang malam. Fathan merasa jika semua putranya akan aman walaupun dia tinggalkan karena banyak pengawal dan bibi yang menjaga mereka.
Tapi Fathan melupakan jika mereka juga memerlukan kasih sayang darinya. Bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi saja.
Fathan mengehela nafas, dia tak pernah memikirkan nya sama sekali, karena menurutnya anak laki-lakinya tak memerlukan itu tapi ternyata dia salah besar. Fathan jadi merasa bersalah. Namun dia tak mau langsung mengatakan nya karena gengsi nya pada mereka. Fathan tak pernah bersikap manis ataupun lembut pada mereka dan akan terasa menggelikan jika Fathan tiba-tiba langsung perhatian pada keempat nya.
Fathan memanggil beberapa pengawalnya.
"Siapkan mobil ku, kita akan menjemput Fedrick,"
Salah satu dari mereka mengangguk dan langsung berlari untuk menyiapkan mobil.
Fathan menuruni tangga, dan ternyata tinggal Mark yang berada disana.
"Athan dimana?" tanyanya.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan ikut," sahut Athan.
"Terserah kau saja," ucap Fathan. Dia mencari Athan tadinya hanya untuk menanyakan alamat saja.
***
"Ada penjelasan?" tanya Fathan pada Fedrick yang tengah berdiri dihadapannya sekarang.
Fedrick telah dibebaskan, awalnya Fathan ingin membiarkan Fedrick bermalam disana selama beberapa hari namun diurungkan nya.
Dia memutuskan untuk membayar uang untuk keluar nya. Sekarang Fathan ingin mencoba mengerti dengan anak-anak nya dan membangun komunikasi diantara mereka. Sepertinya itu bukan ide yang buruk.
"No," balasnya cuek.
"Kalau begitu, kau akan ikut bersama mereka, kau dan Mark akan segera diantar malam ini," ucap Fedrick menunjuk pengawal nya yang sudah bersiap sejak tadi.
__ADS_1
Fedrick membulat kan matanya, demi apa pun dia tak ingin kembali lagi ketempat itu.
"Aku tak mau," bantah Fedrick.
"Dad sedang tidak menawarkan Fedrick, ini perintah," ucap Fathan.
"Dad, untuk kali ini saja! bisakah Daddy memberikan nya kesempatan?" ucap Athan.
"Tidak,"
"Kupikir Dad merasakan sedikit saja ras bersalah saat aku mengatakan hal tadi," ucap Athan dengan nada datar.
"Fine! hanya untuk kali ini saja aku lepaskan kalian,"
"Dan satu syarat, pastikan kau dan Mark tak membuat ulah lagi, ku tak mau mendengar ada tawuran dan segala macamnya ," ucap Fathan.
"Jadi aku masih bisa menjalankan club' motor ku dad?" tanya Fathan.
"Selagi yang kalian lakukan tidak diluar batas dan mengikut-ngikut hal yang buruk, jika itu terjadi lagi Daddy sendiri yang akan membubarkan nya bagaimana pun caranya," ucap Fathan segera pergi dari sana.
Fedrick menaikkan alisnya. "Bagaimana bisa? biasanya Daddy nyanyian tipe orang yang suka mereka ajak bernegosiasi, sekali A maka tetap A.
Athan tersenyum tipis setidaknya Daddy-nya sedikit berubah pada mereka sekarang.
"Apa yang kau katakan pada nya? bingun Fedrick. Fedrick tau betul jika Fathan tak suka tentang hal geng-geng an dan berpenampilan berandalan dan lihatlah sekarang. Jujur Fedrick merasa senang, sekarang dia tak perlu untuk bersembunyi sembunyi lagi jika ingin ke markas.
"Kau tak perlu mengetahui nya, seperti tadi yang dibilang Daddy tadi. Jangan membuat ulah atau mencelakai orang lain apalagi karena geng itu kau terjerumus hal yang diluar batas. Aku juga tak akan memaafkan mu dan membantumu jika hal itu terjadi lagi," ingat Athan sambil menepuk pundak Fedrick.
"Tentu saja bang, aku akan mengingatnya, tali nakal dikit boleh lah," ucap Fedrick yang mendapat pelototan dari sang Abang.
"Segera selesaikan kuliahmu dengan benar, aku pergi dulu, hati-hati dan jangan lupa obati lukamu itu kau terlihat semakin jelek," ucap Athan segera pergi.
"Hanya tinggal satu saja sekarang, Daddy sudah mulai membuka diri. Apa aku harus menyetujui Daddy dengan Sania dengan begitu keluarga ini akan semakin lengkap," gumamnya seraya berpikir.
Bukan tanpa alasan hal itu Singgah dipikiran nya. Selama ini dia suka mengawasi Intan dan Sania. Keduanya memiliki energi yang positif dan ceria.
TBC
__ADS_1