Possesive Man

Possesive Man
Part 101


__ADS_3

Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Fathan biasa nya tak suka jika disuruh untuk menunggu.


Namun sekarang pria itu melakukan hal itu hanya untuk Sania.


Pria itu kini duduk di sudut kamar dengan meminum kopi milik nya seraya menunggu untuk wanita nya bangun dari tidur nya.


Pandangan nya tak pernah luput dari wanita itu. Tak bosan-bosan nya Fathan untuk menatap wajah yang begitu menenangkan itu.


Sampai wanita nya mulai melakukan pergerakan kecil. Fathan begitu yakin jika Sania akan segera bangun dari tidur nya.


Dan benar saja Sania merasa terusik dari tidur nya.


Mata cantik yang selalu di sukai nya itu mengerjap pelan. Bola mata nya memutar memindai dimana dia berada.


Sampai pada akhirnya mata indah itu bersinggungan dengan mata yang tajam.


"Sudah bangun sayang, apa mimpi mu indah?" tanya Fathan tanpa beranjak.


Sania lantas langsung duduk seraya memegang kepala nya yang mungkin pusing. Seperti nya karena efek dari obat tidur yang fathan berikan.


Fathan akhirnya beranjak dan memberikan segelas air panas yang sudah disediakan nya tadi.


Meminum nya sedikit dan ternyata air nya sudah tidak terlalu lama lagi. Fathan akhirnya yakin memberikan air hangat tersebut pada Sania.


Sania menerima nya karena memang dirinya sudah merasa haus juga. Dia tak ingin sok-sok an untuk tak menerima nya disaat dia membutuhkan hal itu.


Mata Sania kembali mengerjap pelan saat merasakan kedua tangan kekar milik Fathan yang kini memijit kening nya.


"Apa disini sakit?" tanya Fathan.


"Kau tak perlu melakukan nya," ucap Sania menahan tangan Fathan.


"Diamlah," ucap Fathan segera menyingkir kan tangan Sania yang menghalangi kegiatan nya kemudian melanjutkan apa yang dia lakukan.


Sania akhirnya tidak menolak lagi karena tak anda gunanya melawan Fathan yang keras kepala.


Lama kelamaan Sania menikmati pijitan dari Fathan. Begitu enak dan juga menenangkan.


Perlahan pusing yang di dera nya sejak tadi mulai menghilang diganti dengan perasaan yang nyaman.


"Terimakasih," ucap Sania.


"Hem," ucap Fathan yang kini duduk disamping Sania.


"Intan ada dimana, aku yakin jika kau juga membawa nya. Ini pasti ulahmu," ucap Sania.


Fathan terkekeh pelan saat Sania yang sudah mengetahui dirinya.

__ADS_1


"Intan aman, dia sedang bersama dengan Athan dan yang lain nya," ucap Fathan.


"Aku akan segera pulang," ucap Sania.


Fathan mendatarkan wajah nya saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir wanita nya.


"Tidak akan ada yang pulang dari rumah ini," ucap Fathan.


"Mana bisa begitu,"


"Bisa! jangan mengatakan hal seperti itu lagi padaku Sania. Demi apapun aku tak mau mendengar kau ingin pergi lagi dariku apapun itu alasan mu," ucap Fathan dengan nada yang tegas.


"Mengapa?" tanya Sania.


"Mengapa apanya lagi Sania? apa perkataan ku kurang jelas?" Fathan berusaha sabar.


"Mengapa kau melakukan ini semua?" tanya Sania.


Fathan mengacak rambut nya frustasi. Pria itu berkali kali menghembuskan nafas nya dengan kasar.


Lagi dan lagi Sanai selalu meragukan dan mempertanyakan semua yang telah dia lakukan untuk wanita itu.


"Look at me," ucap Fathan yang kini memegang kedua pipi Sania gar menatap nya.


Sania menelan ludah nya dengan susah payah karena wajah mereka begitu dekat. Saat hendak menarik wajah nya Fathan tak membiarkan nya dan malah menyatukan kedua kening mereka.


"Aku mencintaimu Sania, aku mencintaimu.Sungguh! tak bisa kah kau melihat nya heum, apa kau tak bisa membuka hatimu sedikit saja untuk ku. Aku gila Sania, Aku mencintai mu dengan begitu gila nya," lirih Fathan.


Pria itu menarik wajah nya dan memalingkan wajah nya kesamping dan mengusap air mata nya.


"Tidak," ucap nya yang kini menetralkan raut wajah nya.


Fathan berdiri dan hendak meninggalkan Sania sendiri.


Bug


Sania memeluk tubuh pria itu dengan mendadak hampir membuat Fathan terjungkal ke depan.


Sania memeluk pinggang pria itu dengan erat menggunakan kedua tangan nya. Seakan tak mengijinkan jika Fathan harus pergi.


Persetan dengan semua nya, Sania tak ingin mengelak lagi. Dia tak akan memperdulikan omongan orang lain tentang diri nya lagi.


Sedangkan Fathan terdiam membeku di tempat nya. Bahkan untuk melanjutkan langkah nya dia tak bisa karena ini terlalu mengejutkan.


Sania memeluknya dengan erat. Salahkah Fathan mengartikan pelukan itu. Bisakah dia berharap lebih.


"Aku... a.. aku.."

__ADS_1


Sania meruntuki mulut nya yang tak bisa diajak kerjasama. Padahal dia sudah mengumpulkan niat dan keberanian nya untuk mengungkapkan apa yang dirasakan nya selama ini,tapi sekarang dis malah dilanda gugup.


Fathan membalikkan badan nya membuat Sania harus melepas pelukan nya.


Namun sedetik kemudian itu tak bertahan lama karena sekarang wanita itu kini malah memeluk Fathan dari depan dan menenggelamkan wajah nya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Sania," panggil Fathan dengan lembut.


Hei, tak tahukah Sania jika perlakuan wanita itu membuat jantung nya maraton tidak aman.


"Kau merasakan nya," tanya Fathan.


"Bagaimana detak jantung ku saat bersama mu Sania," ucap Fathan lagi.


Sania refleks menempelkan telinga nya pada dada pria itu yang cukup keras.


Benar saja Jantung pria itu berdetak dengan begitu kencang nya.


Lalu dia membandingkan nya dengan milik nya sendiri. Sama, dia merasakan hal yang sama.


Hal itu tak luput dari pandangan Fathan, bagaimana lucu nya respon wanita itu saat mengetahui detak jantung nya juga.


"Jadi?" tanya Farhan.


Sania menggigit bibir nya pelan, mengapa dia menjadi seperti remaja yang sesak dimabuk asmara sekarang.


"Sania,"


"Aku juga mencintai mu," ucap Sania sedikit keras lalu berlari dari tempat itu karena malu.


Beruntung nya sekarang pintu itu tidak dikunci membuat Sania leluasa untuk melarikan diri.


Sania menutup wajah nya yang kian memerah.


"Sania apa yang kau katakan, **** bodo amatlah yang penting aku sudah mengungkapkan semua perasaan ku selama ini," ucap Sania yang tetap berjalan tak tentu arah di rumah Fathan.


Entah bagaimana respon Fathan dia tak tahu hanya saja sekarang dia harus menetralkan dirinya.


Beban di hati nya kini terangkat begitu saja. Lelah rasanya dia harus menyukai Fathan secara diam-diam. Sania merasa lega saat dia sudah mengeluarkan apa yang di tahan nya selama ini.


Mendengar pengakuan cinta dari Fathan untuk kesekian kali nya untuk nya, membuat Sania begitu terharu dan merasa begitu dicintai. Dia juga merasa menjadi wanita yang beruntung.


Sania tak melihat ada kebohongan di mata Fathan saat mengatakan perasaan nya pada nya membuat Sania menjadi yakin.


Dug


Karena tidak fokus Sania menabrak dinding di depan nya.

__ADS_1


"Auhhh, sakit sekali. Siapa yang membuat dinding ini," gsrutu nya mengusap kening nya yang merasa sakit.


TBC


__ADS_2