Possesive Man

Possesive Man
Part 12


__ADS_3

"Kemarilah, tidur bersamaku," ajak Fathan menepuk ranjang disana.


"Tidak, aku mau pulang," bantah Sania lalu mengambil tasnya.


"Sudah malam, besok saja lagipula Intan tak ada dirumah kan,"


Fathan akhirnya menarik Sania hingga berbaring disampingnya. Dia tak mau mendengar alasan - alasan lainnya dari Sania.


"Kita tak boleh begini Fathan," omel Sania mencoba melepaskan rangkulan tangan Fathan di pinggangnya.


"Aku tak akan melakukan hal yang lebih dari ini Sania, tidurlah atau aku melakukan hal yang tak seharusnya aku aku lakukan disini," ucap Fathan memejamkan matanya.


Sania mendengus. "Baiklah, tuan pengancam,"


"Julukan yang bagus nyonya," kekeh Fathan.


***


"Kau darimana saja, seharian tidak pulang. Sekalian saja tak usah kembali," sindir Vandra pada saudara kembarnya itu.


"Bukan urusanmu," balasnya acuh dan berlalu ke kamarnya.


"Lihatlah kembaran mu itu," ucap Mark yang masih fokus pada gamenya namun mendengar Fedrick sudah pulang setelah seharian berkeliaran.


"Entahlah, mengapa bisa aku memiliki kembaran seperti nya, kaku, berandalan, menyebalkan dan tidak menyenangkan," runtuk Vandra memakan camilan nya.


"Daddy pasti memungutnya," ucap Vandra ketawa . Tali itu tidak berlangsung lama karena dia merasa aura dingin berada disekitar nya.


Ternyata Fedrick sudah berdiri disampingnya dengan jaket yang sudah bertengger di bahunya. Jaket yang melambangkan geng motor nya.


Fedrick memang memiliki club' motor dan tak jarang dia sering balapan liar tanpa diketahui oleh Fathan. Karena Vandra dan yang lainnya menyembunyikan hal itu dari Fathan.


Jika sampai Fathan mengetahui nya Maka habislah Fedrick.


"Kau mau makan," tawar Vandra kikuk sedangkan Mark menertawakan raut wajah abangnya yang menurutnya konyol saat dihadapan Fedrick.


Fedrick duduk dan menerima pemberian Vandra. "Jangan berbicara sembarangan apalagi didepanku, untung kau adikku jika tidak habislah kau!!!


"Ekhem, Yaya maaf ," ucap Vandra. Fedrick memang lahir terlebih dahulu daripada Vandra.

__ADS_1


"Kau mau balapan lagi? sungguh Fedrick ck, aku tak tahu alasan apa yang harus kukatakan untuk Daddy untuk menutupi nya lagi ,"


"Daddy sedang keluar kan? bilang saja seperti biasa jika aku menginap."


"Wah, Abang mau pergi lagi ya, gw gabung ya bang ke club' motor lo," pinta Mark.


"Diem Lu Mark, gak boleh!" sentak Vandra.


Dia tak mau Mark Seperti Fedrick cukup Fedrick saja yang seperti itu di keluarga mereka.


"Kau mau?" tanya Fedrick menaikkan alisnya .


Mark mengangguk antusias, dia sangat menyukai motor dan dia juga pernah balapan sebelumnya dan tentu saja tak ada yang mengetahui nya.


"Boleh, kau boleh ikut dengan ku,"


"Fedrick!!"


"Apa? dia yang mau. Sebagai Abang yang baik aku hanya menuruti permintaan nya," jawab Fedrick enteng


Vandra menatap tajam ke arah Mark yang malah menyengir tanpa dosa.


"Sejak kapan kau menyukai hal seperti ini, ingatlah Daddy tak akan menyukai nya. Alasan apa yang akan kau katakan.


Menginap?? hahah Daddy tau kau tak suka menginap dirumah temanmu," desis Vandra.


"Tenanglah, aku sudah memikirkan nya sejak lama, dan aku juga sudah menyukai ini sejak lama," jelas Mark tersenyum bahkan dia melupakan game di ponselnya.


"Aku akan melompat dari kamarku jika saat tengah malam untuk keluar rumah," senyum Mark mengembang saat mengucapkan rencananya itu.


Vandra mengehela nafas dia tak mau menghalangi hobi adiknya itu jika itu yang membuat nya senang.


"Terserah lah, tapi aku tak mau mendengar ada yang terluka apapun tawuran. Aku tak akan memaklumi nya jika sampai kalian terlibat ataupun bertengkar dengan geng geng motor diluar sana. Aku akan langsung mengatakan ini pada Daddy!!!" peringat Vandra lalu beranjak dan pergi meninggalkan kedua nya.


"Kau mau ikut sekarang?" kata bang Athan Daddy tak pulang malam ini,"


"Heum boleh," ucap Mark senang dan langsung beranjak mengambil kunci motor kesayangan nya.


***

__ADS_1


"Ingat, jangan berdekatan dengan pria lain selama aku tak ada disini, aku mempunyai banyak mata!!" Peringat Fathan saat dirumah Sania.


Dia sedang berada disana untuk pamit pada Sania dan Intan, pasalnya dia ada pekerjaan dan mengharukan dia keluar negeri selama 2 Minggu atau lebih.


"Iya, jika aku ingat,"


Saat mengatakan hal itu Fathan langsung menatap tajam Sania membuat Sania memelas dan minta maaf.


"Awas saja jika aku mendapat kabar jika kau masih berdekatan dengan si Daniel itu!' ketus Fathan.


"Bagiamana jika aku mendapat orderan dia pelanggan setiaku,"


"Tidak boleh, lagipula sudah kukatakan tak usah cape, aku bisa membiayai hidup mu dan juga Intan, jika kau bosan dan memang ingin bekerja kau bisa bekerja di tempat ku," jelas Fathan.


"Aku tidak mau Fathan, tak usah mengeluarkan uang untuk ku kita masih belum sejauh itu, aku akan bekerja di tempat mu saja, lagipula apa gunanya kau dirumah terus."


Fathan memang memiliki sebuah toko kue yang cukup besar, beragam kue berada disana. Fathan memaksa Sania untuk mengawasi toko kue nya.


Fathan sebenarnya sudah menjadikan toko itu sebagai milik Sania. Fathan sudah membalik nama akan toko itu dan menjadi atas nama Sania.


Namun Fathan tak akan memberitahu nya sekarang karena bisa dipastikan jika Sania akan menolaknya, demi kelancaran rencananya Fathan memutuskan untuk menyembunyikan nya sampai di waktu yang tepat dia akan memberitahu nya.


"Intann, sayang ayo cepet, Daddy Fathan nanti ketinggalan pesawat," panggil Sania.


Anaknya itu sempat merajuk dan tak mau bertemu dengan Fathan karena mengetahui Fathan akan pergi di waktu yang cukup lama menurut nya.


Dengan penjelasan Sania akhirnya Intan mengerti jika Fathan hanya bekerja dan tak akan meninggalkan nya seperti yang dia takutkan. Intan tak mau kehilangan sosok ayah lagi.


"Iya bentar mom," Intan ikut berteriak untuk menyahut Sania.


Tak lama dia datang dan langsung memeluk Fathan dengan erat. Fathan lantas memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu.


Inilah yang akan dirindukan nya nanti, Intan dan juga dengan Sania.


Fathan tersenyum hangat, biasanya saat dia melakukan perjalanan bisnis para putra nya tak peduli dia akan pergi kemana dan pulang kapan yang penting Fathan akan kembali.


Berbeda dengan sekarang, ada yang menunggu nya untuk pulang dan mengantarkan nya saat pergi bekerja jauh. Rasanya sangat menyenangkan dan membuat Fathan semakin semangat.


Fathan jadi tak ingin berlama-lama di luar negeri dan berjanji secepatnya untuk menyesuaikan pekerjaan nya agar bisa pulang lebih cepat dari yang sudah dijadwalkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2