
"Dad!" seru Intan saat melihat Fatah yang hendak menuju kekamar nya.
Kebetulan sekali Intan baru keluar dari kamarnya untuk mencari pria itu.
"Princess, ada apa heum," ucap Fathan menghampiri Intan.
"Dad, barang-barang Intan kemana ya, baju Intan juga gak ada dilemari Intan," bingung Intan. Tadinya dia ingin mengganti bajunya tapi semua lemari miliknya kosong begitu saja.
"Ah iya sayang, tadi daddy suruh beresin kamar nya Intan semuanya, biar gak ada bakteri dan debu dan Intan makin nyaman disana. Bentar lagi bakal diberesin lagi kok," ucap Fathan berbohong.
Dia tak ingin Intens mengetahui niat Sania, bisa-bisa nanti Intan akan menanyakan nya juga dan malah ikut dengan Sania.
"Begitu ya, tapi masa semua nya sih Dad , sampai kosong begitu lemari Intan," ucap Intan yang masih bingung.
"Stst ,udah yang penting kan kamar Intan nanti jadi bersih lagi," Fathan tak ingin memperpanjang pembahasan ini.
"Yaudah deh, mommy kemana dad?" tanya Intan. Dia belum melihat wanita itu sejak tadi, padahal Fathan sudah berkeliaran didalam rumah.
"Em mommy lagi gak enak badan sayang, jadi mommy sekarang lagi istirahat. Mungkin sampai beberapa hari kedepan," ucap Fathan mencari alasan. Entahlah alasannya itu bisa diterima oleh intan.
"Hah! mommy ko bisa tiba-tiba sakit, tadi mom baik-baik aja dad, Intan mau lihat mommy. Mommy sakit apa?" tanya Intan dengan beruntun dengan wajah yang khwatir.
"Mommy cuma gak enak badan aja sayang, kamu tengah aja Daddy bakal rawat mommy ko. Tapi tadi mommy bilang Intan jangan nemuin Mommy dulu, mommy khwatir kamu kena juga soalnya kamu kan sekolah besok," ucap Fathan memberikan pengertian.
"Tapi dad, aku mau ketemu mommy," rengek Intan pada Fathan.
"Besok aja ya? gimana Hem, mommy lagi tidur tadi, nanti mom kebangun. Anak Daddy pinter kan jadi nurut ya," ucap Farhan.
"Oke besok deh habis pulang sekolah, biar mom bisa istirahat sekarang,"
Fathan tersenyum dalam hati, untung saja Intan polos dan penurut.
"Tapi mom baik-baik aja kan dad?" tanya Intan yang masih belum sepenuhnya tenang. Walaupun sejujurnya intan masih merasa aneh karena Sania tadi sangat sehat.
"Iya, mommy kan orang yang kuat," ucap Fathan.
"Yaudah gih, kamu kekamar, nanti pelayan bakalan bawa semua baju-baju kamu," suruh Fathan membuat Intan mengangguk.
"Dad!" panggil Intan lagi membuat langkah Fathan yang hendak beranjak berhenti.
Pria itu kini membalikkan tubuhnya menatap Intan.
"Kenapa princess?" tanya Fathan.
"Mommy masih tidur dikamar Daddy ya?"
__ADS_1
"Ah hari ini tidak princess, mom ada dikamar yang lain." ucap Fathan.
"Ooo, oke deh," ucap Intan lalu memasuki kamarnya kembali.
***
"Mark sini Lo," panggil Fedrick pada pria itu.
"Apa?" teriak Mark yang berada dibawah sedang kan Fedrick berada diatas tangga.
"Udah buru sini, banyak nanya Lo," sentak Fedrick yang tak suka banyak omong.
"Ck, untung aja Abang, kalo enggak usah gue tendang," ucap Mark.
Pria itu baru saja pulang setelah menyempatkan dirinya bermain futsal dengan teman-teman Vandra setelah pulang dari rumah Ayyara.
Sekarang dia hendak ingin mandi dan mengistirahatkan tubuh nya ditempat tidur yang sudah menunggu nya.
"Kenapa sih?" tanya Mark malas.
"Lo balapan ya sekarang gantian gua lawan anak Devlokar, gua udah iyain kemarin, gak enak kalo tiba-tiba the boys ngundurin diri," ucap Fedrick.
"Gua ngerti nih sekarang kenapa lu nyuruh gua," ucap Mark saat melihat keadaan Fedrick yang sedang tidak baik-baik saja
Lu ngapa bonyok Mulu si bang, buat masalah apa lagi deh," heran Mark, terkadang dia bingung dengan Fedrick.
"Biasa, udah lah Sono, entar ditungguin," ucap Fedrick.
"Yahh, gua gak bisa kayak nya bang, gue cape nih baru selesai futsal, pengen tidur gua," tolak Mark.
"Ck, gak guna Lo," kesal Fedrick lalu meninggalkan Mark.
"Ye dasar, gue minta bang Keenan aja ya," teriak Mark.
"Terserah, yang penting tuh balapan kudu jadi," sahut Fedrick.
"Oke dehh, moga-moga dia mau, " ucap Mark sambil merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya.
"Halo bang, Lo yang balapan ya hari ini, gantiin bang Fedrick," ucap Mark pada orang yang sedang dia telpon.
"Dih, bocah nyuruh - nyuruh gua Lo," balas Keenan dari sebarang sana.
"Bukan gua yang nyuruh, bang Fedrick yang nyuruh, udah yah dahh," ucap Mark langsung mematikan ponselnya begitu saja tanpa mendengar kan Keenan.
"Dad!"
__ADS_1
"Oh mau sudah pulang, Vandra mana?" tanya Farhan. Mark mengernyit kan keningnya, tumben sekali Pria itu menanyakan kabar.
Tapi itu sangat bagus, jadi mereka bisa menjadi dekat kembali.
"Kekamar nya dad."
"Oh oke, ah iya Daddy mau kamu awasin Intan dan Sania," ucap Fathan to the point.
"Memangnya kenapa dad,'
"Sania kemarin mencoba kabur dari Daddy, "
"Benarkah? tapi kenapa?" tanya Mark. Jujur Mark sangat tak senang mendengar nya. Mark sudah terlampau nyaman dengan keberadaan Intan dan juga Sania di rumahnya.
Dia tak ingin jika rumah besar itu Kembali Seli seperti sebelumnya. Mark tak mau itu terjadi.
"Karena Fedrick," balas Fathan yang kembali kesan mengingat kejadian kemarin.
"Jadi Daddy yang membuat Bang Fedrick babak belur ya," tebak Mark. Sekarang dia mengerti apa yang terjadi diantara keduanya.
"Heum, dia sangat keras kepala dan menyebalkan," ucap Fathan.
"Lalu apa yang Daddy lakukan pada mommy, Daddy gak nyakitin mommy kan," Mark menatap Fedrick dengan tatapan peringatan.
"Heum, Daddy hanya mengurung nya saja," ungkap Fathan.
Fathan sangat menyukai jika bercerita pada Mark, pria itu selalu menanggapi dan mendengarkan nya.
"Apa Daddy gila? Daddy tak seharusnya melakukan hal itu dad. Jika begitu mommy bisa tertekan dan malah memilih untuk pergi nantinya," seru Mark yang tak habis pikir.
"Biarkan saja, itu hukuman untuknya, dan kau jangan berani-berani nya untuk membebaskan nya Mark, aku peringatkan kau," ucap Farhan uang sekarang mengetahui isi otak Mark.
"Tapi dad, tak harus memakai cara seperti itu. Seharusnya Daddy memberikan pengertian. wanita itu butuh perhatian dan seharusnya Daddy memperlakukan nya dengan hangat, gimana sih dad," kesal Mark.
"Sudah lah, itu bukan urusan mu, sudah sana," istri Fathan.
"Terserah deh, awas aja nanti nyesel, Mark udah bilangin,"
"Tidak akan," balas Fathan tetap kekeh dengan keputusan nya.
"Cih dasar pria keras kepala," ucap Mark.
"Aku mendengar mu sialan," umpat Fathan.
Fathan menggelengkan kepalanya, dia memiliki anak dengan berbagai macam kepribadian membuat Fathan harus lebih ekstra sabar lagi walaupun kesabaran nya sangat tipis.
__ADS_1
TBC