Possesive Man

Possesive Man
Part 68


__ADS_3

"Neng belum pulang kah, udah jam berapa ini?" tanya satpam sekolah yang sudah akan pulang. Namun karena melihat satu siswa yang masih duduk di bawah pohon depan sekolah membuat satpam tersebut mengurungkan niat nya.


Jesi melirik ke jam tangan nya, benar kata satpam sekolah, sekarang sudah jam 5 sore dan dia masih setia menunggu kehadiran Atlas yang tak kunjung datang.


"Pulang aja neng, entar lagi mau malem nih, entar pulang nya jadi kelamaan kasian kartu emang nunggu dirumah," ucap Pak Satpam.


"Iya pak," jawab Jesi dengan sangat lesu. Gadis itu akhirnya berdiri dan merenggang kan tubuh nya yang terasa agak legal karena telah kama duduk dengan posisi yang sama.


Jesi bahkan Sampai menguap karena diri nya mengantuk akibat lama menunggu.


Jesi mendesah kecewa, pria itu bahkan tak mengabari nya sama sekali. Padahal Atlas begitu ngotot saat akan mengajukan diri untuk menjemput diri nya.


"Dia pasti mau mainin gue ya, miris banget si lu Jes, kayak nya gue gak bisa dapatin pasangan deh, emang paling bener jomblo kali gue ya," gumam nya seraya berjalan dengan lesu.


sangking lesunya dia, Jesi membawa tas nya dengan menyeret nya di jalan. Sesekali dia menendang batu kerikil kecil di depan nya.


Berkali-kali dia menghela nafas nya akibat merasa kecewa.


Sampai pada akhirnya ponsel nya berbunyi. Jika tadi dia mendapatkan telpon itu pasti dia akan merasa senang.


Namun sekarang karena mood nya sudah menjadi sangat jelek, Jesi rasanya begitu malas hanya untuk sekedar mengecek siapa yang menelpon nya.


"Keenan," gumam nya pelan.


Jesi merasa heran mengapa Keenan menghubungi, padahal mereka sudah lama lost contat. Mengapa tiba-tiba.


Sekali lagi ponsel nya berdering kembali, Jesi akhirnya memutuskan untuk mengangkat ponsel nya karena merasa penasaran tujuan dari Keenan menghubungi sekarang.


"Kenapa lama sekali mengangkat nya!" ucap Keenan. sedikit berteriak hingga membuat Jesi harus menjauh kan ponsel nya dari telinga nya.


"Ada apa," balas Jesi dengan kalem.


"Nih si Atlas, kecelakaan," balas Keenan to the point.

__ADS_1


"Hah!"


" Gua bilang Atlas kecelakaan, lu budeg apa ya, lu kesini deh gue kirim alamat RS nya, dia gumamin nama lu Mulu dari tadi, Ampe bosen gue dengerin nya," ucap Keenan langsung mematikan sambungan telpon nya secara sepihak.


Hati Jesi terasa mencelos sekarang, hati nya merasa tidak tenang dan begitu khwatir akan keadaan Atlas sekarang.


Pantas saja pria itu tidak bisa dihubungi dari tadi, ternyata ada suatu hal yang terjadi pada nya.


Perasaan Jesi menjadi tidak enak, rasa bersalah kini merundung dalam hati nya. Atlas kecelakaan saat ingin menjemput dirinya. Itu termasuk salah nya juga bukan, karena jika saja Atlas Rifka menjemput nya, pria itu sekarang pasti akan baik-baik saja.


Jesi langsung memesan ojek agar segera menuju ke rumah sakit yang sudah dikirim kan alamat nya oleh Keenan.


Selama di perjalanan Jesi selalu berdoa semoga keadaan pria itu baik-baik saja. Rasa kecewa yang tadi nya menghampiri nya kini terganti kan sepenuh nya dengan rasa bersalah.


"Terimakasih banyak ya pak," ucap Jesi memberikan beberapa lembar uang pada ojek yang dia tumpangi.


Setelah nya gadis itu berlari terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit Venestria.


Untung saja Atlas di bawa ke rumah sakit itu, karena Venestria terkenal dengan pelayanan nya yang baik.


Dari jauh dia bisa melihat Keenan dan juga ibunda dari pria itu.


"Akhirnya datang juga Lo," ucap Keenan saat melihat Jesi yang baru saja sampai di dihadapan mereka.


Penampilan Jesi Sekarang sangat berantakan, rambut gadis itu sudah terlihat kusut dan sedikit acak serta masih memakai seragam dan baju nya yang sudah tak Serapi tadi pagi.


"Sayang," Rita memeluk Jesi dengan cukup erat.


Jesi merasakan tubuh wanita paruh baya itu bergetar dan wajah nya yang terlihat sendu. Tentu saja wanita itu pasti sangat khwatir mengingat putra nya yang sedang berjuang di dalam sana.


"Maafin Jes mah, kalo aja tadi Atlas gak jemput Jesi, pasti tidak begini kejadian nya," ucap Jesi dengan nada yang pelan.


Mendengar hal itu Rita langsung melepaskan pelukan nya karena tak suka mendengar penuturan dari Jesi yang malah menyalah kan dirinya sendiri.

__ADS_1


Padahal itu bukan lah salah nya, siapa yang tau kejadian nya akan seperti itu. Lagipula tak ada yang menginginkan nya bukan.


"Jangan mengatakan hal seperti itu Jesi, mamah gak suka kamu ngomong seperti itu. Atlas juga pasti gak seneng Jika denger kamu ngomong kayak begitu," ucap Rita dengan lembut.


Jesi tersenyum tipis, bersyukur nya dia bisa bertemu dengan wanita seperti Rita ini.


"Mamah udah tahu hubungan kamu sama Atlas, Keenan udah cerita semua nya sama mama," ucap Rita sambil menuntun Jesi agar duduk di kursi tunggu bersama nya.


Jesi melirik sekilas ke arah Keenan yang hanya diam sambil menyimak pembicaraan mereka.


"Kenapa gak bilang dari dulu kalo gak mau sama Keenan, kamu langsung Nerima aja perjodohan nya," ucap Rita.


Ya bagaimana mau menolak, jika orang tuanya yang meminta nya dan Jesi tak bisa menolak saat itu.


"Ternyata mau nya Sama Atlas, padahal kalo bertemu selalu aja berantem eh Gataunya malah ehem," goda Rita membuat pipi Jesi menjadi merah merona karena malu.


"Tenang aja mamah akan bicarakan sama papa nya Keenan dan Atlas untuk membatalkan perjodohan mu dengan Keenan dan mengganti nya dengan Atlas, jadi tak ada kerugian diantara kedua perusahaan kita sama sekali nantinya," ucap Rita panjang lebar sembari tersenyum. Mau dengan Atlas, Jesi tetap akan menjadi menantu nya meski tak dengan Keenan bukan.


"Nah gitu dong mah, kenapa gak dari dulu coba," riang Keenan dengan heboh bahkan pria itu sampai berdiri.


Kalo saja ini tidak ada di rumah sakit, Keenan pasti akan langsung berteriak sambil melompat lompat karena sangking senang nya atas batal nya perjodohan yang memang tak pernah dia inginkan.


Rita menggeleng-gelengkan kepala nya melihat tingkah putranya itu.


Rita juga tak ingin membuat anak-anak nya nanti menjadi tertekan karena pernikahan bukanlah hal yang mudah.


Dulu perjodohan itu memang untuk kepentingan perusahaan hingga membuat Keenan dan Jesi terpaksa mau tidak mau harus bertunangan.


Sekarang berbeda, salah satu anaknya menyukai Jesi dan pasti tak akan ada paksaan di dalamnya. Rita juga bisa melihat jika Jesi juga menyukai Atlas.


Rita merasa senang sekarang, perasaan sedih dan baru bercampur di dalam nya.


Kini mereka hanya perlu untuk mendoakan Atlas agar baik-baik saja.

__ADS_1


TBC


__ADS_2