
"Selamat siang semuanya,"
"Everybody adios," teriak anak laki-laki p yang paling bungsu.
"Kids!" peringat sang kepala keluargap saat anak-anak nya begitu berisik.bbbb
BBB.
Dia tetap Sama, tak suka ada keributan di meja makan.
"Heheh maaf dad," ucap Mark dan Vandra bersamaan setelah mendapat kan tatapan tajam dari Fathan.
"Heum," ucap pria itu menanggapi.
"Kalian bukanlah anak kecil lagi, Mark kamu sebentar lagi akan kuliah begitu pun dengan Intan. Kalian akan ujian Minggu depan right," ucap Fathan.
"Iya dad," ucap Intan.
"Daddy pengen kalian mendapat nilai yang bagus agar kalian bisa masuk ke perguruan tinggi yang sama dengan Fedrick dan juga Vandra," ucap Fathan.
Bukan tanpa alasan Fathan meminta hal itu, karena dia ingin mereka berada di sekolah yang sama.
Dan universitas yang dia pilih termasuk dalam akreditasi A dan juga untuk masuk kesana harus memiliki nilai yang cukup juga.
Fathan bahkan sudah menyediakan guru les untuk kedua nya mengikuti ujian.
Waktu untuk bermain Intan dan Mark sudah berkurang, bukan hanya dari guru les saja mereka mendapatkan pelajaran tambahan tetapi dari Vandra dan Fedrick juga.
Fedrick dan Vandra berinisiatif untuk membantu kedua adik nya untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk ke dalam perguruan tinggi.
Mengagetkan memang saat Fedrick mau membantu. Pria itu benar-benar ingin mengubah dirinya untuk keluarga nya.
"Nanti kalian ada kelas atau tidak?" tanya Fathan.
"No dad," sahut kedua bungsu itu bersamaan.
"Siapa bilang tidak ada? from me and Vandra. Kalian tidak pura-pura lupa kan?" tanya Fedrick dengan nada datar.
"Yaps, sehabis makan siang, kita akan latihan soal," ucap Vandra menimpali.
Mark dan Intan saling memandang, meneguk ludah nya kasar. Mereka hanya bisa pasrah saja.
"Okee good, sekarang kita makan, gak ada percakapan saat makan oke, " ucap Athan dengan tegas.
"Okee dad," ucap semua orang yang berada di meja makan.
Sania langsung saja mengambil kan makanan untuk suami nya dan juga anak-anak nya.
Wanita itu terlihat sangat telaten dalam melakukan nya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang," ungkap Fathan memberikan senyum tebaik nya.
Keluarga itu kemudian menikmati makanan mereka masing-masing dalam hening sesuai dengan ketentuan yang telah diperintahkan oleh sang kepala keluarga.
***
"Kalian sudah mengerjakan tugas yang aku berikan kemarin?" tanya Fedrick pada Mark dan juga Intan yang baru saja duduk di hadapan mereka.
Mark menghela nafas, ayolah mereka bar saja selesai makan dan langsung disuruh untuk belajar. Bahkan makanan yang sudah di telan nya belum sampai ke dalam perut nya.
"Bang, bentaran kenapa bang, ini kita baru aja selesai makan bang," ucap Mark yang disetujui oleh Intan.
"Oke, Abang kaish 10 menit habis itu kita mulai," ucap Fedrick dengan nada yang tegas dan tak mau dibantah.
"Cuma 10 menit doang bang, dikit bnget," ucap Inran dengan lesu.
"Atau tidak sama sekali. Apa kita mulai sekarang?" tanya nya sedangkan Vandra sudah tertawa mengejek melihat wajah Intan dan Mark yang terlihat tertekan.
"Eh, eh gak bang, yaudah deh 10 menit,"
"Oke, Abang bikin waktunya," ucap Fedrick menujuk stopwastch yang sudah diatur di handphone nya.
Intan meringis dalam hati. Dia memang senang karena Fedrick sudah mau menerima nya dan perduli terhadap nya.
Sejak Fathan dan Sania menikah pria itu benar-benar membuka hati nya untuk Intan dan Sania.
Namun saat ini entah mengapa Fedrick menjadi lebih tegas dan tak mau dibantah.
Jika pada yang lain dia masih bisa merajuk jika sedang tidak ingin dan bete maka pada Fedrick tidak akan berlaku.
"Oke, buka buku kalian sudah sepuluh menit," ucap Fedrick mengingat kan.
"Buset cepat amat, perasaan masih satu menit deh iya kan dek," ucap Mark dan Intan tersenyum masam.
"Open your book Mark," Fedrick memberikan tatapan tajam nya pada Mark.
"Iya, iya, galak banget heran," gerutu Mark membuka buku soal nya dan juga catatan nya di ikuti oleh Intan.
"Sini gue liat tugas yang mo kerjain kemarin," Vandra menagih tugas milik Mark.
"Intan," ucap Fedrick yang sudah dimengerti oleh Intan.
Gadis itu pun memberikan tugas yanh diberikan Fedrick kemarin untuk diperiksa.
Dia sebenarnya tidak terlalu yakin karena ada beberapa yang tidak dimengerti oleh Intan.
Intan berharap sekali jika Vandra yang memeriksa tugas milik nya. Karena jujur saja masih ada rasa canggung antara dia dengan Fedrick.
"Apaan nih, salah ini. Masa soal gampang gini aja lo gak bisa Mark," tunjuk Vandra pada pekerjaan milik Mark.
__ADS_1
"Gampang di lu, susah di gue. Lo bikin soal nya ga ada di google sih,"
"Ck, terus gimana nanti mau ujian. Emang pake google hah! ulang ini," ucap Vandra sambil menjelaskan kembali langkah langkah pengerjaan nya.
"Awas aja kalo salah lagi," gerutu Vandra.
Melihat Mark yang di semprot oleh Vandra, Intan yakin dia juga akan mendapatkan hal yang sama.
Intan hanya tinggal menunggu giliran nya saja.
Dan benar saja, saat Fedrick mengalihkan pandangan nya pada Intan dengan wajah datar, Intan yakin jika ada yang salah dengan hasil yang dia kerjakan.
"Hanya dua yang benar dari 10 soal," tajam Fedrick.
"Heheh," Intan menyengir tidak jelas.
"Aku tidak menyuruh mu untuk tertawa,"
"Em maaf bang, Soalnya susah dan Itna kurang ngerti," adu Intan memberanikan diri.
"Kenapa tidak bilang, kan bisa tanyakan Abang yang mana yang bemum jelas dan tidak dimengerti," desis pria itu.
Padahal dia sudah menjelaskan cara yang paling gampang pada Intan tapi ternyata gadis itu masih belum bisa mengerti.
"Intan memang lemah dalam matematika bang, maaf gak nanya smaa Abang soal nya--
"Soalnya apa?" Fedrick menaikkan alis nya.
"Soalnya Abang galak," cicit Intan memainkan jari jari tangan nya.
"Pernah dengar kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan," ungkap Fedrick.
"Mana? coba tunjukkan yang mana yang belum Intan ngerti," ucap Fedrick mencoba untuk sabar.
"Semuanya bang," ucap Intan jujur.
Fedrick tersenyum namun menurut Intan senyum itu terlihat mengerikan.
"Okey, Abang bakalan jelasin ulang lagi, dengerin dan pahami. Bisa Intan!" ucap Fedrick masih tersenyum.
"Intan coba bang," ucap Intan langsung mengambil buku dan pul pen nya.
"Kalo ada yang tidak jelas katakan pada Abang, jangan didiemin," ucap Fedrick.
"Iya," angguk intan.
Intan akhirnya mencoba untuk fokus tak ingin membuat Fedrick menjadi kesal pada nya.
Karena Fedrick sudah meluangkan banyak waktu nya untuk mengajari nya.
__ADS_1
TBC