
Siang akhirnya berganti dengan malam. Ayyara akhirnya dipindahkan ke kamar VIP atas perintah Arsen.
Dia akan memberikan yang terbaik untuk putri nya tersebut tak peduli berapa banyak biaya menginap yang akan dikeluarkan nanti nya.
Lagipula dia mencari uang memang untuk putri nya tersebut.
"Sayang, kita pulang sekarang ya, kamu pasti capek, besok pagi kita kesini lagi," ucap Arsen pada Juli.
Mereka juga harus membersihkan diri mereka masing-masing dan lagi mereka sama sekali tidak memiliki baju ganti.
Mereka juga masih mengurus BI Ina, Arsen tidak mungkin melupakan orang yang sudah lama bekerja dengan nya.
"Tapi Ayyara bagaimana mas. Dia tidak ada yang jaga," ucap Juli.
Karena teman-teman Ayyara sudah pada pulang dan tidak bisa menginap karena masih harus sekolah besok.
Arsen tersenyum lembut, mengerti akan apa yang di pikir kan oleh Juli .
"Tidak papa sayang, aku akan menyuruh Perwara untuk menjaga nya. Kita akan langsung kesini besok. Aku sudah mengambil cuti kerja," ucap Arsen pada istrinya itu.
"Tapi tetap saja, aku ingin menemani Ayyara disini mas," kekeuh Juli. Mana bisa dia istirahat tenang di rumah sedangkan putri nya masih memejamkan mata nya di rumah sakit sendirian.
"Baiklah, kita hanya mengambil pakaian kita habis itu kita kembali dan menginap disini," ucap Arsen.
"Kamu aja ya mas, gapapa kan?" tanya Juli.
"Gapapa, aku tinggal bentar ya," ucap Arsen.
Juli mengangguk. "Hati-hati, ini sudah malam,"
Setelah kepergian Arsen, Juli kembali duduk di samping putri nya itu.
Tersirat penyesalan dalam diri nya jika melihat Ayyara yang sudah sebesar ini sekarang.
Dia sudah banyak melewatkan pertumbuhan Ayyara sedari kecil. Bahkan anaknya itu diasuh oleh baby sister dan di rumah hanya di temani oleh BI Ina ataupun Steven saja yang dulu masih di percaya i nya.
"Maafin mom sayang, kamu cepat lah bangun. Mommy akan meluangkan banyak waktu untuk mu. Katanya kamu mau belajar masak kan sama bikin kue heum, nanti mommy ajarin tapi kamu harus bangun dulu." Juli mengusap rambut Intan.
Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Ayyara.
__ADS_1
Ceklek
"Loh mas kok cepet banget,' ucap Juli saat mendengar pintu yang dibuka.
Juli mengira jika Arsen lah yang Kemabli padahal ternyata tidak.
Saat dia menoleh bukan Arsen kah yang hadir di sana.
"Steven! mengapa kamu kemari!" ucap Juli.
Penampilan Steven terlihat berantakan, rambut nya juga sudah acak-acakan dan masih memakai baju yang sama seperti tadi.
"Mom, please ijinin aku buat liat Aya," harap Steven dengan tatapan memohon.
"Aku tidak akan menyakiti nya mom, aku tidak mungkin menyakiti nya," ucap Steven.
"Hanya sebentar, Arsen akan segera kembali. Mom akan tunggu di depan," ucap Juli tersenyum tipis.
"Benarkah mom, sungguh?" tanya Steven antusias.
"Ya, jika Ayyara sadar pasti dia senang ada kamu disini. Mommy tau kalian diam-diam bertemu, walaupun Arsen sudah melarang kalian berhubungan."
"Tapi.. kamu tau kan mommy masih ada rasa kecewa sama kamu, tapi bukan berarti mom melupakan semua kebaikan kamu dan apa yang sudah kamu lakukan buat Ayyara dan keluarga mom hanya karena satu kesalahan mu saja," ucap Juli berdiri dan menepuk pundak Steven.
"Terimakasih mom, terimakasih," ucap Steven terharu.
"Bergegaslah sebelum Arsen datang, yah dan semangat untuk kembali mendapatkan kepercayaan Arsen. Kau tau sendiri kan dia bagiamana," ucap Juli.
"Tentu mom," ucap Steven lalu duduk di kursi yang ditempati oleh Juli tadi dah tepat menghadap wajah Ayyara nya.
Dia senang ternyata Juli masih memiliki kepercayaan pada nya. Dia sesungguhnya sudah menyangka hal itu karena Juli adalah wanita yang berhati lembut sama seperti Ayyara.
Beruntung nya Ayyara mewarisi itu dari Juli. Jika saja gen Arsen yang lebih dominan, Entah bagiamana jadi nya dia menghadapi Ayyara.
Steven tersenyum haru dan memegang kedua tangan Ayyara.
Juli melihat itu, tatapan penuh cinta milik Steven yang selalu sama dan tak pernah berubah.
Juli akhirnya keluar dan menutup pintu nya dengan pelan, memberikan waktu untuk Steven bersama dengan Ayyara.
__ADS_1
"Maaf, maaf karena udah nyakitin kamu Aya, maafin aku atas kata-kata ku padamu saat itu," ucap Steven.
Dia sama sekali tidak pernah menginginkan untuk memutuskan hubungan dengan Ayyara.
"Seperti katamu, kita belum putus kan sayang? sebab kamu tidak menerima kata putus dari aku. Aku kangen banget sama kamu,"
"Aku kangen banget Aya, kangen suara kamu dan semua nya tentang kamu," ucap Steven.
"Aku sayang banget sama kamu Aya, maka dari itu kamu harus cepet bangun yah. Banyak loh yang sayang kamu juga, mom dan dad serta teman-teman yang lain nya juga nunggu kamu sayang," ucap Steven panjang lebar.
Rasanya menyenangkan saat dia kembali bercerita dengan Ayyara.
Ingin sekali Steven memeluk Ayyara sekarang.
Steven mengelus pipi dan mengusap bibir Ayyara yang terluka.
"Aku akan membuat mereka yang menyakiti mu menyesal melakukan ini padamu sayang, aku akan balas ini,"
"Cepet sembuh Aya, i love you," ucap Steven.
Dia hanya ingin melihat Ayyara saja, dan dia lega karena Ayyara sekarang dalam kondisi yang stabil meski belum sadar.
Steven harus segera pergi dari sini, tak ingin membuat keributan dengan Arsen sekarang.
Takut membuat yang lain nya terganggu terutama Ayyara.
"Aku akan datang lagi besok," ucap Steven mengecup kening Ayyara lama.
Meski tak rela Steven dengan langkah yang berat hati akhir nya keluar dari ruang inap milik Ayayra.
"Sudah?" tanya Juli
"Udah mom," ucap Steven.
"Maaf, kamu harus bersabar ya, mom gak bisa bantu banyak. Mom gak bisa lawan Arsen," ucap Juli.
"Bukan salah mommy, em aku boleh kan besok malam kesini lagi?" tanya Steven
"Ofcourse, mom percaya padamu," ucap Juli.
__ADS_1
TBC