
Athan menutup pintu kamar nya dengan kasar, melonggar kan dasi yang melekat di leher nya.
"Menyebalkan," desis nya.
Athan menatap wajah nya dari pantulan kaca.
"What's wrong with you Athan," ucap nya.
Athan mengehela nafas nya dan mengambil tas kerja nya. Rasanya malas sekali jika harus berpapasan dengan keluarga nya saat ini.
Tapi mau tak mau Athan harus berpapasan dengan mereka juga.
"Bang, aku bareng sama bang Mark aja yah berangkat ke sekolah nya," ucap Intan pada Athan.
Athan mengernyit kan Kening nya," Loh kenapa?"
"Kan Abang bukan nya mau anterin ka Sophie dulu, nanti Abang telat buat ke rumah sakit nya."
"Oke baiklah, mana Mark?"
"Yo, i'm here," ucap Mark yang sudah menenteng tas nya seraya memutar-mutar kunci di tangan nya.
"Kau membawa motor?" tanya Athan.
"Iya, emang kenapa bang?" tanya Mark.
"Hati-hati bawa nya jangan ngebut-ngebut," ingat Athan yang di angguki oleh Mark.
"Dah Abang, abang juga hati-hati, bawa ka Sophie loh," ucap Intan.
"Iya baby," ucap Athan mengelus rambut Intan.
"Hayuk dek," ajak Mark sambil merangkul gadis itu.
Athan memutar mata nya saat tidak melihat Sophie.
"Athan,"
"Mom," ucap Pria itu.
"Kamu belum berangkat kerja?" tanya Sania.
"Ini mah berangkat mom, aku lagi nungguin ehem Sophie," ucap Athan memelankan suara nya di akhir kalimat.
"Loh, bukan nya tadi udah barengan sama Vandra ya?"
"Hah, kapan mom?" tanya Athan.
"Barusan, mom kirs kamu tadi udah berangkat eh taunya belum jadi Vandra yang nganter Sophie pulang," jelas Sania.
"Aku tadi ngambil tas kerja ku," tunjuk Athan berusaha tersenyum di depan Sania.
__ADS_1
Tapi berbeda sekali dengan hati nya yang merasa tidak baik-baik saja sama sekali.
"Yaudah mom, aku berangkat sekarang jika memang begitu."
"Kamu tidak apa-apa kan. Are you jealous?" tanya Sania menelisik.
"No, yang benar saja. Untuk apa aku cemburu mom, cmon dia juga teman ku," tegas Athan
"Ya baiklah, jangan Sampai kamu menyesal. Tanyakan pada hatimu apa yang sebenarnya kau rasakan" ucap Sania tersenyum tipis.
Athan mengerti ke arah mana pembicaraan dari Sania ini. Athan tak ingin memperpanjang nya dan alhasil pria itu akhir nya pamit untuk segera pergi.
Athan ke garasi mobil dan mengeluarkan mobil nya. Sejenak dia melihat tas milik Sania yang masih berada dalam mobil nya.
"Aku tidak perduli," ucap nya.
Athan masih berpikir mengapa mereka pergi terlebih dahulu. Padahal jelas -jelas Vandra bisa melihat mobil nya yang masih berada di garasi mobil.
"****, apa Vandra serius dengan apa yang dikatakan nya tadi." pikir Athan yang frustasi.
Cittt
Athan merem mendadak saat hampir saja dia menabrak seseorang.
Athan mengusap dada nya dan merasa bersyukur dia tak apa-apa.
Melihat orang yang hampir di tabrak nya terjatuh karena kaget Athan pun turun dan menghampiri orang tersebut.
Wanita tersebut mendongak ke arah Athan.
"Tidak perlu, saya tidak apa-apa," ucap wanita itu mencoba untuk berdiri.
Athan tidak yakin dan dia tetap ingin membawa wanita itu ke rumah sakit.
"No, ikut dengan ku ke rumah sakit now," ucap Athan dengan nada tegas dan menuntun wanita itu untuk ikut bersama dengan nya.
wanita itu akhirnya terpaksa ikut karena Athan yang tidak ingin di bantah.
Athan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang sedang. Tak ada percakapan di antara mereka.
Hanya suara musik saja yang menemani kedua orang itu.
Saat sudah sampai di rumah sakit,Athan langsung saja membawa gadis itu ke dalam ruang rawat dan mengobati luka kecil milik wanita itu.
"Wah, kamu dokter yah," ucap wanita tersebut.
Athan mengangguk kecil," siapa namamu?" tanya Athan menatap intens lada gadis itu.
"Joice Roxelana, kau bisa memanggilku Joice,"
Kedua nya tak menyadari ada seseorang yang menatap sedih ke arah mereka.
__ADS_1
"Mengapa gadis itu bisa langsung sedekat itu dengan Athan," ucap nya dengan nada sedih seraya mengepalkan tangan nya.
Karena tidak tahan Sophie akhirnya meninggal kan ruangan itu.
Athan menoleh kan pandangan nya ke arah pintu.
Kau pikir kau saja yang bisa,batin Athan tersenyum miring.
"Dokter kenapa?" tanya Joice.
"Tidak apa-apa,' ucap nya kembali datar.
"Sudah selesai, kau boleh pulang.' ucap Athan.
Joice mengernyit mengapa pria itu dengan secepat itu berubah. Joice dibuat bingung dengan dokter muda itu.
Melihat Joice yang termenung, Athan mengedikkan bahu nya, yang jelas dia sudah mengerjakan tugas nya sebagai dokter dan mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
Athan langsung keluar dari ruangan itu. Athan kembali ke dalam mobil nya mengambil tas Sophie yang masih tertinggal di dalam mobil nya.
Pria tou mencari Sophie di ruangan team mereka namun dia tak menemukan ada nya keberadaan Sophie disana.
"Maaf sus, liat dokter Sophie tidak?" tanya Athan.
"Saya melihat dokter ke arah rooftof dok," balas Suster tersebut.
"Baiklah, terimakasih," ucap Athan yang langsung segera menuju rooftof rumah sakit.
"Udara nya sejuk, lantas saja kau betah disini," ucap Athan yang melihat Sophie yang tengah berdiri dan memandang indah nya kota Jakarta dari atas sana.
Sophie menoleh hingga tatapan mereka bertemu. Tapi tidak berlangsung lama karena Sophie memutus kan padangan nya dan kembali melihat ke arah depan.
Athan mendekati Sophie dan berdiri tepat di samping gadis itu yang berwajah datar.
Athan tak lepas dalam memandang Sophie. Tumben sekali gadis itu diam seperti itu pada nya
"Kau ada masalah?"tanya Athan.
"Tidak ada dok, dokter tidak perlu menghawatirkan saya, khwatir kan saja pasien mu itu" ucap Sophie.
Athan menaikkan alisnya dan terkekeh geli. "Tentu saja aku melakukan nya, bukan kah mengobati adalah tugas ku, aku tak bisa pilih memilih dalam menangani," balas Athan.
"Jika begitu pergilah," ucap Sophie yang terbawa emosi mungkin karena tamu bulanan nya yang hadir hari ini.
"Hem, aku hanya ingin mengembalikan ini, lain kali jangan meninggalkan barang mu," ucap Athan menyerah kan tas Sophie.
"Terimakasih," balas Sophie langusung mengambil tas nya.
Setelah selesai dengan urusan nya Athan langsung pergi tanpa berpamitan lagi.
Sophie dibuat kesal dengan nya," aish kenapa aku malah menyukai pria kaku seperti nya," keluh Sophie mengembung kan pipi nya
__ADS_1
TBC