
Setelah selesai mengeringkan rambut Sania. Kedua pasangan itu akhirnya langsung menuju ke arah dapur.
Dan untung nya semua nya sudah makanan sudah selesai di hidangkan oleh pelayan yang artinya mereka tak perlu menunggu lebih lama lagi.
"Aku sudah sangat lapar," ucap Fathan dengan jujur. Fathan sudah menahan nya sedari tadi.
Pria itu menggulung lengan baju nya sampai atas menunggu Sania mengambil kan makanan untuk nya.
"Terimakasih sayang," ucap FAthan.
Kali ini Fathan lah yang memimpin doa. Setelah nya kedua pasangan itu menikmati makanan mereka masing-masing.
Fathan lah yang paling lahap saat makan, energi nya benar-benar sudah terkuras habis. Kegiatan mereka tadi benar-benar mampu membuat perut nya kelaparan.
Sania yang lebih dulu selesai membuatkan segelas susu hangat untuk nya dan juga membuat kan teh hangat untuk Fathan juga.
Fathan langsung membawa Sania ke ruangan keluarga beserta minuman Mereka juga.
"Jangan duduk disitu," cegah Fathan saat Sania ingin duduk di kursi.
Fathan memberikan kode agar Sania duduk di pangkuan nya.
Sania yang tak mau berdebat menurut saja. Dia memposisikan dirinya menghadap ke arah Fathan.
Fathan sesekali meminum teh yang dibuat oleh Sania. Dan menurut nya itu sangat enak karena Sania sendiri lah yang menyajikan nya.
"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Farhan mengambil apa yang telah dia siap kan nya setelah mereka menikah.
"Apa?" tanya Sania yang penasaran.
"Ini, hanya hadiah kecil," Fathan memberikan sebuah amplop berwarna pada Sania.
Kening Sania mengernyit, apa pria itu memberikan uang lagi pada nya. Padahal pria itu sudah memberikan beberapa kartu untuk nya.
"Bukalah," ucap Fathan yang tersenyum lembut.
Sania menurut dan membuka amplop yang kini sudah berpindah di tangan nya.
"Tiket pesawat?"
"Heum, Kita akan ke Paris dan juga Maldives untuk honeymoon," ucap Fathan yang masih mempertahankan senyum nya.
__ADS_1
"Kenapa Hem, apa kau tidak senang?" tanya Fathan saat tak melihat reaksi apapun dari Sania.
Wanita itu malah terlihat berpikir alih-alih merasakan senang Seperti yang dia rasakan.
"Bukan itu, bagaimana dengan anak-anak?" tanya Sania.
Apalagi dengan Intan, dua Minggu lagi Intan dan Mark akan mengadakan ujian.
"Aish, jangan memikirkan nya, dirumah ini banyak bodyguard dan Intan bersama dengan keempat Abang nya. Tak ada yang perlu kamu khawatir kan sayang," ucap Fathan.
"Serahkan saja pada Athan dan yang lain nya. Aku yakin mereka bisa mengatur adik nya dengan benar," ucap Farhan kembali.
"Berapa lama kita akan kesana? bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Sania lagi.
Fathan mengehela nafas saat Sania masih mengkhawatirkan hal yang seharusnya tak perlu dia khwatir kan.
Sania terlalu banyak memikirkan hal.
"Sayang look at me," Fathan meminta Sania untuk Menatap tepat pada mata nya.
"Jangan memikirkan apapun, biarkan aku yang mengurus semua nya okey, everything Will be fine," ucap Fathan mengelus rambut Sania dengan lembut.
"Baiklah aku mengerti," ucap Sania yang membuat Fathan tersenyum.
"Wah, aku tidak sabar. Aku sama sekali belum pernah ke luar negeri apalagi ke Paris. Aku hanya bisa melihat gambar di majalah dan handphone betapa indah nya kota itu. Terimakasih banyak Fathan, terimakasih,' ucap Sania yang senang karena Fathan sudah mewujudkan salah satu impian nya.
Fathan tersenyum lembut. "Tidak usah berterimakasih, karena itu sudah menjadi tugas Ku. Katakan padaku kemana kau ingin pergi lagi, aku akan membawa kan mu kesana," ucap Fathan tanpa beban.
"How sweet," ucap Sania tersenyum malu dan menenggelamkan wajah nya pada dada bidang Fathan.
Sania akhir - akhir ini selalu menyukai cuddle dengan Fathan. Tak bohong Sania merasa teramat senang.
"Do you wanna watch something?" tanya Fathan mengambil remot.
"Tidak, aku mau seperti ini saja, aku masih mengantuk," ucap Sania.
Fathan mengangguk mengerti, pria itu membiarkan Sania memejamkan mata nya.
Tak lama Fathan merasakan deru nafas Sania yang beraturan. Pria itu tersenyum kecil saat Sania dengan mudah langsung tertidur.
"Seperti nya kamu benar-benar mengantuk Hem," kekeh Fathan.
__ADS_1
Fathan akhirnya bangkit dan memindahkan Sania ke kamar mereka.
Akan terasa pegal jika tidur di kursi seperti itu.
Dengan perlahan Fathan merebahkan tubuh milik Sania ke kasur.
Lalu Fathan ikut menyusul wanita nya itu. Merebahkan tubuh nya tepat di samping Sania.
Menarik selimut untuk nya dan juga Sania. Setelah itu Fathan langsung membawa Sania ke dalam pelukan nya.
"Sweet dream," ucap nya pelan setelah mencium kening Sania dengan lembut dan memejamkan mata nya mengarungi mimpi bersama dengan sang wanita.
***
Derap langkah kaki dari anak sang pemilik rumah terdengar di lorong memasuki mansion mewah.
Keningnya mengernyit saat mengetahui rumah yang begitu sepi.
"Kemana semua orang?" gumam nya. Dia baru saja pulang dari rumah teman nya untuk mengerjakan tugas kelompok yang akan segera di kumpulkan.
"Bi," panggil Vandra saat melihat salah satu pelayan yang lewat.
"Ya tuan muda, apa tuan membutuhkan sesuatu?" tanya nya.
Vandra menggeleng pelan. "Kemana yang lain dan dimana dad and mom,"
"Yang lain sedang diluar tuan, dan tuan besar dan nyonya seperti nya sudah di kamar,"
"Oh baiklah, terimakasih. Kamu bisa pergi," ucap Vandra.
Vandra mendudukkan dirinya di kursi dan merebahkan dirinya.
Pria itu memainkan ponsel nya.
Hingga dia dikagetkan dengan kedatangan si paling sulung.
Vandra sampai berjangkit kaget melihat Abang nya tersebut.
Vandra mendudukkan diri nya kembali dan mengucek mata nya. Memastikan jika apa yang sedang lihat sekarang itu benar atau hanya halusinasi semata saja.
"Apa?" tanya Athan dengan nada datar dan melanjutkan langkah nya seraya membawa gadis yang berada dalam gendongan nya.
__ADS_1
Vandra melempar kan handphone milik nya secara asal. Dia mengikuti Athan yang menuju ke arah kamar tamu.
TBC