
"Kau sudah bangun?" tanya Fathan pada Sania yang sedang terduduk di kasur nya.
Dia memang meminta wanita itu agar tidur bersamanya, dia tak melakukan hal yang lebih tujuannya hanya ingin memeluk wanita itu sepanjang malam saja.
Awalnya Sania menolaknya dengan mentah-mentah, namun karena dirinya memaksa maka Sania hanya bisa pasrah.
Fathan mengucek matanya dan melirik jam yang berada di atas meja disamping king size nya karena tak mendapat respon dari Sania.
"Jam 4," gumamnya.
Fathan ikut bangun dari tidurnya, dan memutar tubuh Sania agar menjadi menghadap tepat kearahnya.
"Astaga, apa kau tak tidur. Lihatlah matamu itu seperti zombie," gerutu Fathan.
"Aku tak bisa tidur, maaf membuat mu jadi terbangun."
"Kau masih memikirkan rumah mu heum?" tanya Fathan seraya mengelus rambut Sania yang digerai panjang.
"Tentu saja, bagaimana mungkin aku bisa langsung melupakannya," lirih Sania.
"Aku mengerti," ucap Fathan.
"Tidurlah kembali,"
"Tidak, sudah sangat tanggung lagipula sudah jam 4 pagi," bantah Sania yang mendapatkan tatapan datar dari Fathan.
Fathan tak tinggal diam dan menidurkan kembali Sania.
"Tidur sekarang atau kau mau kutiduri heum," ucap Fathan yang berada diatas Sania.
Sania menahan nafas karena posisinya dan Fathan agak untuk dan mereka terlampau dekat hingga dirinya bisa merasakan deru nafas pria itu yang mengenai wajahnya.
Sania tersadar dan langsung mendorong Fathan dari atas tubuhnya dan dengan cepat menarik seluruh selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku akan tidur," ucap Sania yang membuat Fathan terkekeh geli. Sepertinya sekarang dia sudah tau bagaimana cara agar Sania selalu menurut padanya.
Melihat Sania yang tidur dengan menutup selimut nya membuat Fathan langsung menurunkan selimut itu dengan susah payah akibat perlawanan dari Sania.
"Jangan menutup wajahmu saat tertidur, itu tidak baik," ucap Fathan seraya memeluk wanita nya itu dengan satu tangan nya yang selalu setia mengelus rambut wanita itu.
"Biar aku beritahu padamu, menurut medis saat tidur menutup wajah menggunakan bantal atau selimut , akan mengakibatkan karbondioksida yang kita keluarkan akan berkumpul didalam selimut dan meningkat.
"Benarkah? aku baru tahu mengetahui nya."
__ADS_1
Sania meruntuki dirinya sendiri yang suka sekali tidur dengan menutup wajahnya dengan selimut.
"Heum, jangan biasakan," gumam Fathan yang menutup matanya.
***
"Intan, are you oke," ucap Mark yang melihat Intan terdiam setelah Daddy nya memberi tahu jika rumah mereka sudah terbakar.
"Princess," panggil Fathan pelan menyadarkan putrinya itu.
Kini mereka sedang berada diruang makan, Setelah selesai dengan acara makan Fathan baru memberi tahu pada Intan yang didengar oleh keempat anaknya juga.
"Rumahnya Intan kebakar?" lirihnya tak percaya.
"Tenang dek, entar Abang beli yang baru mau gak?" ucap Athan yang mendapat pelototan dari Fedrick.
"Apa lu," sentak Athan.
Brug
Semuanya terkejut saat Intan langsung berdiri dari kursinya dan hendak berlari.
"Mau kemana dek?" tanya Mark yang kini Intan sudah berderai air mata.
Dia baru mengingat mommy nya karena dia masih shock dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fathan.
"Tenanglah princess, mommy ada disini. Mommy kamu baik-baik aja kok."
Mata langsung berbinar mendengar nya. Dia mengucap banyak syukur saat mengetahui Sania selamat.
"Syukurlah," ucap nya kembali duduk.
"Jangan harap Intan kayak gitu," ucap Intan saat melihat pandangan mereka yang melihat nya dengan tatapan kasihan, sedangkan Fedrick masih setia dengan wajah acuh tak acuh nya.
"Abang takut aja, nanti kamu ngelakuin hal aneh," ucap Mark.
"Nda kok, Intan sedih aja, mommy juga pasti sedih banget mana barang-barang kesayangan intan sama mommy dirumah itu dan sekarang udah gak ada semua," curhat nya.
"Gapapa yang penting sekarang Intan kan masih punya rumah," ucap Fathan yang membuat Intan mengernyit bingung.
"Kita, kita semua adalah rumah Intan sama mommy, dan rumah ini juga milik kalian," jelas Fathan.
"Ck," decak Fedrick meminum segelas air dan segera berlalu dari hadapan semuanya.
__ADS_1
"Aku pergi dad, aku ada kelas pagi," Pamit nya tanpa menunggu persetujuan.
"Intan jangan terlalu dipikirkan ya, Kalo intan mau apa-apa Intan langsung minta sama Abang, Abang beliin apapun yang Intan mau," ucap Athan.
"Sombong amat," cibir Mark.
"Iri kan Lo," ujar Athan.
"KIDS," tegas Fathan yang membuat keduanya berhenti berdebat.
"Intan tetap mau sekolah atau dirumah aja hari ini?" tanya Fathan. Dia tahu jika Intan masih belum baik-baik saja dan dia tak mau Intan terlalu kepikiran nantinya.
"Dad gak kekantor, kamu mau kan jalan-jalan sama dad dan mom. Kamu libur aja hari ini,"
"Wah, mau, mau, Intan mau," ucap Intan dengan semangat.
Ketiganya tersenyum, untung saja mood intan mudah dikembalikan. Hanya memberikan apa yang disukainya maka gadis itu akan langsung ceria kembali.
"Yah, gak asik dong gak ada Intan disekolah,"Rajuk Mark.
"Abang ikut aja, boleh kan dad," pinta Intan meminta jawaban dari Fathan.
Fathan memandang Mark dengan penuh peringatan memberikan kode pada pria itu agar menolak. Dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Intan dan Sania saja hari ini. Dia ingin mengembalikan senyum Kedua wanita itu.
"Hehe, Gak deh Abang mau sekolah aja, tugas Abang harus dikumpul hari ini, " elak Mark, mengerti dengan tatapan daddy nya.
"Liat tuh bang Mark gak mau ikut princess, gak usah dipaksa ya, kasihan bang Mark," ucap Fathan lembut pada Sania.
Athan tertawa pelan sembari memandang Mark dengan tatapan mengejek sedangkan Mark mengumpati Fathan didalam hatinya.
"Sana kalian pergi, nanti telat," suruh Fathan dan keduanya mengangguk dan pamit pada Fathan dan Intan.
"Bye dek," ucap Mark mengecup pipi Intan lalu setelah nya berlari kencang keluar pintu karena tak mau mendapatkan ocehan dari Fathan.
"Anak itu," kesal Fatah. seraya mengusap wajah Intan yang dicium oleh Mark tadi.
"Kenapa dad?"
"Kuman princess, Mark belum cuci tangan kan tadi," ucap Fathan negeles dan hanya dibalas oh ria dari Intan.
"Mom masih tidur ya dad,"
"Heem, kita tunggu mommy sampai bangun dulu gapapa kan, kamu siap siap dulu aja Daddy panggil."
__ADS_1
"Oke bos," ucap Intan bersenandung ria menuju kamarnya, melupakan tentang rumah nya yang sudah tak ada .
TBC