
"Eh tidak usah membawa nya," cegah Sania saat Sophie hendak membawa makanan ke meja.
"Kamu duduk saja ya, Tante gak enak loh kamu malah jadi repot gini," ucap Sania.
"Tapi Tan,"
"Udah duduk aja gih," ucap Sania yang tak menerima bantahan.
Sophie akhirnya mengangguk saja dan menuruti apa yang di katakan oleh Sophie.
Jujur saja Sophie merasa nyaman sekali saat bersama dengan Sania, wanita paruh baya itu terlihat sangat welcome dan baik.
Dia tadi sudah mengira akan mendapatkan tatapan sinis atau semacam nya. Tapi ternyata dugaan nya salah dan malah wanita itu berniat mendukung nya bersama dengan Athan.
Semudah itu Sania percaya pada nya, padahal mereka baru bertemu dan Sania bahkan tidak tahu gadis seperti apa dirinya ini.
"Kak, kemari, duduk bersama Intan," ucap Intan menepuk kursi yang kosong yang biasanya akan selalu dididuki oleh Athan.
Athan pasti tidak keberatan hanya karena sebuah kursi bukan, pasalnya masih banyak kursi yang sisa.
Semua mata langsung menoleh ke arah Sophie yang kini meneguk ludah nya kasar.
Entah mengapa langkah kaki nya menjadi terhenti saat keluarga itu memperhatikan nya sedemikian rupa.
Sophie sama sekali tidak melihat Athan disana.
Namun Sophie dapat melihat Vandra dan Intan yang tersenyum kepada nya dan dia orang lagi memandang datar kepada nya.
Sungguh tatapan dari dua pria itu berhasil membuat nya merasa terintimidasi.
Ayolah, Sophie jadi malu dan tak berani untuk duduk di sana.
"Sophie, mengapa berhenti, ayo duduk," ucap Sania yang baru datang dari dapur.
Sophie mengekor dari belakang.
"Duduk di sini saja,yang itu adalah kursi nya bang Athan," ucap Vandra.
Sophie akhir nya memilih duduk di samping Vandra yang langsung berhadapan dengan Intan dan juga Athan nanti nya.
Intan mencebikkan bibir nya saat Sophie tak duduk di samping nya.
"Kenapa tuh bibir nya monyong gitu," ucap Mark.
"Gapapa," sahut Intan.
Sophie menjadi merasa tidak enak melihat wajah Intan yang menjadi lesu.
"Nanti kan bang Athan yang duduk di situ dek, lagi pula kan ka Sophie nya duduk nya di depan Intan," ucap Sania.
"Iya deh," ucap Intan kembali tersenyum.
__ADS_1
"Who is that girl sayang?" tanya Athan yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka.
Sama dengan Fedrick dan Mark yang juga kepo akan hal itu.
Sania mengedikkan bahu nya lalu duduk di samping Fathan.
"Kamu bisa tanyakan pada Athan,"
"Athan, " tanya Fathan dengan nada yang tidak percaya.
"Sungguh?"
Sania mengangguk kan kepala nya tersenyum ke arah Sophie.
"Hai om, semua nya, salam kenal aku Sophie rekan kerja Athan," ucap nya.
"Yakin hanya teman kerja?"tanya Fathan.
"Iya om, yakin," balas Sania.
Mark menaikkan alisnya "wah, aku sampai tak bisa berkata-kata lagi," ucap nya.
"Mark, panggil kan Athan, kemana pria itu jam segini belum bangun. Daddy sudah sangat lapar," ucap Athan.
"Oke," ucap Mark yang bergegas.
Dor dor dor
"Bang, cepat dipanggil sama Daddy," ucap Mark yang tetap menggedor-gedor pintu nya.
"****, shut up Mark," teriak Athan dari dalam.
Setelah nya pria yang di panggil oleh Mark menampilkan batang hidung nya dan menatap Mark dengan tatapan tajam. Pria itu sudah sangat rapi dengan pakaian kerja nya.
Athan langsung menjitak kepala Mark dengan keras sampai membuat si empunya menjadi meringis.
"Aduh bang, sakit tau," gerutu Mark yang tak di perduli kan oleh Athan sama sekali.
"Bang, you bring a woman, wah sungguh. Akhirnya Abang memiliki pacar juga, aku pikir Abang gay," ucap Mark.
Athan langsung membalikkan badan nya setelah mendengar penuturan dari Mark hang kurang ajar.
"Jangan sok tau, aku ini pria normal," desis Athan dengan tidak santai.
"Woo, calm down dude," ucap Mark yang kini diam.
Lagipula nanti dia juga akan tahu sendiri.
Mark akhirnya menyusul Athan yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan.
Athan langsung mengambil tempat di samping Intan sebagaimana biasa nya.
__ADS_1
Dia melirik sekilas ke arah Sophie yang juga menatap nya.
Athan tak mengatakan apapun sampai akhirnya Fathan lah yang mengambil alih.
Pria itu langsung memimpin doa untuk mereka makan bersama.
Seperti biasa, jika sedang makan maka tidak ada percakapan.
Jika sudah selesai baru diperbolehkan mau mengatakan apa saja.
Selama makan Athan dibuat kesal dengan Vandra yang terlihat begitu perhatian dengan Sophie.
Pria itu bahkan mengambil kan dan memotong steak untuk gadis itu. Dan Sophie juga merespon nya dengan baik.
Athan mencoba mengabaikan namun dia tetap tidak bisa dan malah terus memperhatikan kedua orang itu.
Mark yang sadar tersenyum geli. "Euyy, ada yang panas nih," ucap nya keceplosan.
"Mark," desis Fathan yang membuat Mark menjadi diam kembali. Namun Mark menatap Athan dengan pandangan mengejek.
Dia sudah memperhatikan sedari tadi ke arah mana Abang nya itu melihat.
Fathan mengusap bibir nya menggunakan tisu lalu berdehem sebentar.
Pria itu menatap telak ke arah Athan seakan meminta penjelasan namun yang ditatap malah menaikkan alisnya bertanya.
Fathan berdecak," Apa kau tak berniat memperkenalkan gadis yang sedang di depan mu ini," ucap Fathan
"Oh, hanya teman kerja," jawab Athan dengan cuek. Dia bahkan tak repot-repot memperkenalkan Sophie kepada keluarga nya.
"Benarkah? wah jadi aku masih memiliki kesempatan yah," ucap Vandra seraya menatap intens ke arah Sophie.
Mark pura-pura tersedak ," wah boleh tuh bang, keburu di ambil orang. Gas bang, gue dukung," ucap Mark memberikan ke dua jempol nya menatap mengejek ke arah Athan.
"Gapapa kan bang?" tanya Vandra pada Athan yang memasang wajah datar.
Seketika semua nya menatap ke arah Athan, menanti jawaban dari pria itu akan bereaksi bagiamana.
"Mengapa kalian menatap ku seperti itu. Itu bukan urusan ku dan tanyakan saja pada nya dan jangan padaku," ucap Athan lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang makan terlebih dahulu.
"Yaelah, gitu doang masa ngambek bang," teriak Mark.
"Dasar anak itu, nanti orang lain yang dapat baru menyesal,"
"Biarkan saja, mungkin dia masih bingung akan perasan nya," ucap Sania mengelus bahu Fathan.
Dia bisa memaklumi Athan karena dia juga pernah merasakan hal yang sama. Melihat Athan yang menyangkal perasaan nya mengingat kan Sania akan diri nya yang dulu.
"Yes, aku juga tidak ingin terlalu ikut campur akan pilihan mereka," ucap Fathan.
Dia hanya bisa mengarahkan dan juga mendukung apa yang memang baik untuk mereka.
__ADS_1
TBC