
Arsen mengeratkan gigi nya geram melihat pemandangan di depan nya saat ini. Itu benar-benar menganggu penglihatan nya.
Dimana saat ini orang yang sangat tidak dia lihat tengah berada di ruangan putri kesayangan nya dan dengan berani nya memeluk nya seperti itu.
Juli yang melihat wajah sang suami yang tidak mengenakkan langsung memegang tangan pria itu dan dengan cepat membawa nya keluar.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku! marah Arsen yang akhirnya di lepaskan oleh Juli.
Dia sedikit merasa takut jika Arsen sedang dalam mode marah dan mood yang tidak bagus seperti ini.
"Mas, biarin aja Ayyara dan Steven tetap berhubungan, kamu gak lihat betapa bahagia nya Ayyara berada di samping Steven. Lihatlah meski kau melarang mereka tapi tetap saja kedua nya masih tetap bertemu karena mereka saling menyayangi," jelas Juli pada Arsen, berharap suami nya itu mau mengerti.
Arsen sempat terdiam dan berpikir, Juli sempat menyangka pria itu akan berubah pikiran namun ternyata sama saja.
"Tidak Juli, aku tetap tidak bisa membiarkan nya. Anak kita berada di sini karena musuh Steven. Bisa saja hal ini akan terulang kembali, apa kau tidak memikirkan hal itu hah!" ucap Arsen.
Bagaimana mungkin dia bisa tenang jika anak satu-satunya masih berhubungan pada orang yang ternyata adlssh berandalan, Arsen tidak bisa menerima itu.
Bisa saja nanti putri nya itu ikut terpengaruh dan malah ikut-ikutan dengan Steven hanya karena cinta nya itu.
"Tapi mas, Steven tidak akan membiarkan nya bahkan dia yang sudah menolong Ayyara," ucap Juli.
"Tidak Jul, aku tidak akan memberi kan nya kesempatan lagi, sudah aku bilang sejak awal, tak ada gunanya kau membujuk ku seperti ini, jadi berhentilah membela anak itu dan membuat ku kesal padamu," ucap Arsen lalu meninggalkan Juli yang masih berdiri di tempat nya.
Juli mengehela nafas nya lelah melihat kepergian Arsen, keputusan Arsen begitu sulit untuk diubah.
Jika begini dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Aduh om Arsen datang lagi," keluh Juli melihat kedatangan Arsen yang melangkah dengan cepat.
"Steven," geram Arsen.
"Untuk apa kau kemari hah! menjauh dari Putri ku!!" ucap Arsen menarik baju Steven agar menjauh dari Ayyara.
Hampir saja Steven terjengkang karena tarikan Arsen yang begitu tiba-tiba.
Jesi dan Intan saling bertatapan, seperti yang mereka duga, Arsen akan memarahi Steven.
"Dad," panggil Ayyara dengan wajah sendu dan lirih.
"Pergi dari sini, cepat pergi dan jangan kesini lagi. Aku tidak mau melihat wajah mu lagi! Ayo cepat pergi dari sini!" teriak Arsen tak menghiraukan Ayyara.
"Dad pleasee no, aku mau Steven tetap disini, Steven kamu disini aja ya," ucap nya dengan memohon.
__ADS_1
"Pergi," desis Arsen.
Ayyara menggeleng kan kepala nya ribut, baru saja dia merasa kan kebersamaan dengan Steven dan kini harus dipisahkan kembali.
Gadis itu beranjak dari ranjang nya dan hendak mencabut infus yang tengah melekat di tangan nya.
Steven melotot melihat itu, bagaimana bisa gadis nya itu begitu nekat.
"Apa yang kamu lakukan sayang, Don't do that. Jangan menyakiti dirimu sendiri," ucap Steven.
Ayyara langsung saja memeluk lengan Steven dengan kedua tangan nya.
"Kalau begitu jangan pergi, kau harus tetap disini bersamaku," ucap Ayyara sembari menenggelamkan wajah nya di lengan Steven yang tengah di peluk nya.
Arsen tentu tidak senang melihat nya.
Dengan kasar pria itu mencoba melepas kan tangan Ayyara.
"Aya lepaskan dia sekarang! Daddy bilang lepaskan!" bentak Arsen dengan keras.
"Arsen! jangan kasar pada putri kita," ucap Juli yang baru saja masuk dan begitu terkejut melihat keributan di dalam sana.
"Jangan membuat keributan Arsen, ini adalah rumah sakit, masih banyak pasien disini dan mereka akan terganggu dengan suara keras mu. Kamu mau diusir oleh satpam dari sini," peringat Juli.
"Aku gak mau, bilang pada Daddy untuk tidak meminta Steven pergi, aku cuma mau sama Steven," ungkap Ayyara kekeh dengan keputusan nya.
"Lihat itu, Steven telah mempengaruhi nya sampai menjadi pembangkang seperti ini, kau ini mau jadi berandalan juga sama seperti Steven hah? kau sudah berani melawan Daddy ya sekarang," Arsen menatap tajam ke arah Ayyara.
"Mas sudahlah, Ayyara Baru siuman," ucap Juli khawatir.
"Lepaskan dia sekarang!" titah Arsen kembali sedangkan Ayyara tetap mempertahankan posisi nya memeluk Steven.
Karena merasa dihiraukan, Arsen akhir nya kini beralih menarik Steven agar menjauh.
"No enggak," ucap Ayyara yang ikut-ikutan menarik Steven tetap dekat dengan nya.
"Ay stop," Tekan Steven yang sedari tadi diam saja.
Arsen kini melepas kan tangan Steven saat melihat Putri nya sudah tenang.
"Jangan kayak gini, kamu baru sembuh dan masih dalam tahap pemulihan," ucap Steven.
"Aku pergi ya," ucap Steven dengan berat hati.
__ADS_1
Dia tak ingin ayah dan anak itu ribut hanya karena nya.
"Kamu gak cinta lagi sama aku, kamu bilang tadi gak akan ninggalin aku lagi, kamu bohong!" ucap Ayyara memalingkan wajah nya
"No aku gak bohong, aku cuma pergi bentar aja. Cepet sembuh ya biar bisa masuk sekolah lagi," ucap Steven tersenyum.
"Kita bisa bertemu di sekolah tanpa sepengetahuan Daddy mu," bisik Steven agar Arsen tidak mendengar.
Steven menatap Ayyara yang masih enggan menatap nya.
Steven tersenyum tipis lalu melangkah kan kaki nya untuk pergi dari kamar Ayyara.
"Steven!!" Ayyara berteriak saat melihat kepergian Steven.
"Ayyara, stay still," peringat Arsen saat melihat gadis itu ingin turun dari ranjang untuk mengejar Steven.
"Tapi dad,"
"I said stay," ucap Arsen dengan penuh penekanan.
"Daddy menyebalkan," ucap Ayyara merebahkan dirinya dan menutup seluruh tubuh nya menggunakan selimut.
"Kau akan disini selama beberapa hari lagi, dokter bilang kamu masih harus dirawat inap," ucap Arsen yang membuat Ayyara membuka selimut yang tadi menutup wajah nya.
"Tidak, aku tidak mau. Aku mau pulang besok pokoknya, lagi pula aku sudah tidak papa dan sudah meras baikan," tolak Ayyara.
Sudah dikatakan jika dia sama sekali tidak menyukai yang namanya aroma rumah sakit yang penuh obat obatan ini.
Kepala nya pening jika berlama-lama disini dan membuat nya tidak nyaman sama sekali.
"Jangan membantah, ini demi kebaikan mu," ucap Arsen.
"Aku gak mau dad, aku tetap mau pulang besok, aku tidak suka rumah sakit. Please dad, kali ini tolong turutin permintaan Aya, Aya janji bakalan istirahat di rumah but gak disini," ucap Ayyara memohon.
Arsen ingin menolak sebenarnya tapi melihat wajah memelas itu membuat Arsen tidak sanggup dan akhirnya mengalah saja.
"Baiklah, kau boleh pulang besok, tapi di rumah kau harus istirahat total mengerti!"
"Oke," balas Ayara.
Dia sudah tidak sabar untuk bisa pergi ke sekolah Kembali. Tentu saja sekalian menagih janji Steven.
Seperti nya Mereka harus berpacaran di belakang Arsen.
__ADS_1
TBC