
Steven akhirnya sudah sampai di markas Alyxton.
Dia memarkirkan motor nya cukup jauh dari markas rival the boys. Setelah dipikir - pikir, benar apa yang di katakan oleh Fedrick.
Dan lihatlah sekarang, jika dia langsung masuk begitu saja, yang ada dia memang akan dihabisi sebab hanya sendirian saja.
"You are so stupid!" ucap nya lasa dirinya sendiri.
Steven melihat situasi di depan markas tersebut. Steven tidak tahu bagaimana keadaan di dalam sana berapa banyak orang yang ada di sana.
Steven merogoh kantong jaket nya, untung saja dia selalu membawa pisau lipat disana untuk berjaga-jaga jika ada masalah.
Steven tersenyum saat melihat salah satu anak Alyxton yang sedang keluar sendiri.
Steven mengendap-endap dan mengikuti nya lalu memukul nya tanpa aba-aba.
Tak memberikan waktu untuk nya hanya sekedar untuk menangkis pukulan dari Steven.
Saat orang itu sudah jatuh dan tidak sadarkan diri. Steven langsung saja menarik pria itu ke semak-semak yang ada disana.
Steven mengganti jaket nya dengan jaket milik anak Alyxton dan tak lupa memakai masker wajah.
Berharap agar tidak ada yang mengenali nya sebelum Sampai ke tempat gadis nya dengan disekap.
***
"Mark," panggil Marcel yang diikuti Daffa dengan muka panik mereka.
"Kenapa?" tanya Mark pada kedua pria yang terlihat berkeringat karena berlari.
Daffa memberikan kode lewat mata agar Mark mengikut mereka.
Tidak mungkin jika mengatakan nya langsung disaat Mark bersama dengan adiknya dan juga Jesi.
Mark mengerti akan kode itu tentu saja. "Dek, Abang pergi dulu ya, entar kalian masuk ke kelas duluan aja," ucap Mark.
"Iya bang," ucap Intan menganggukkan kepala nya.
Mark akhirnya mengikuti kedua teman nya itu yang membawa nya ke tempat parkir.
"Ngapain Lo ngajak gue kesini, ngajak bolos ya lu berdua, udah mau ujian juga. Ini juga si Dafaa, ketua macam apa lu, biasanya lu ngereog kalo ada yang ngebolos," ucap Mark.
"Ah jangan banyak bacot dulu Lo Mark," ucap Daffa.
__ADS_1
"Emang kenapa sih?" tanya Mark yang tidak mengerti kepanikan kedua orang itu.
"Fedrick tadi nelpon, Si Ayyara di culik sama Kenzie, ketua geng Alyxton. Lo tau mereka kan?" tanya nya.
Mark terkejut. "Pantas saja Ayyara tidak datang ke sekolah. Namun kata Intan gadis itu memang sudah mengirim pesan jika tidak hadir karena tidak enak badan. Bahkan Mark sempat menawari untuk ikut menjenguk sahabat adik nya itu sepulang sekolah nanti.
"Steven udah tau? kok bisa. Kata Intan Ayyara ada dirumah. Dia diculik dimana?"
"Banyak nanya Lo Mark, entar aja. Buang-buang waktu jelasin sini. Mending sekarang kita langsung ke lokasi aja. Yang lain udah pada otw. Steven udh disana sendiri, untung bang Fedrick nyusul, Steven selalu gak sabaran jika menyangkut Ayyara," ucap Daffa panjang lebar.
"Yaudah, gas sekarang," ucap Mark mencari motor nya.
Mark menepuk jidat nya saat tau jika kunci motor nya malah ketinggalan di tas nya.
"Ah ****, kunci gue di tas, Lo berdua duluan aja, entar gue langsung nyusul," ucap Mark yang langsung berlari dengan cepat kembali ke kelas.
"Kan bisa bareng Munaroh, ah udahlah kita duluan aja," ucap Marcel pada Daffa.
Keduanya akhirnya melesat meninggalkan sekolah.
"Pak, bukain pintu nya dong," ucap Daffa saat satpam menghadang mereka.
"Ga ada, ini masih jam sekolah. Kalian mau bolos?"
Dan seperti nya berhasil karena satpam tersebut langsung membuka gerbang sekolah.
"Sebentar doang ya," ucap satpam tersebut.
"Thanks pak, entar teman saya ada juga, tolong bukain ya," pesan Daffa.
Mark menghela nafas nya lelah karena berlari dari parkiran sampai ke kelas.
Dia agak cape karena harus melewati beberapa anak tangga agar bisa sampai ke kelas nya.
"Loh bang, kok udah di kelas aja.Dafa sama Marcel nya mana?" tanya Intan yang baru saja datang dengan Jesi.
Keduanya memang memilih langsung ke kelas walaupun lonceng masuk belum berbunyi.
"Ah iya di depan," ucap nya seraya tersenyum.
Mark dengan hati-hati mencair kunci motor nya dan langsung menggantungi nya dengan cepat agar tidak terlihat oleh Intan.
"Abang ke luar lagi ya," ucap Mark langsung pergi.
__ADS_1
"Aneh banget si Mark, kayak dikejar apaan aja. Buru-buru amat keliatan nya ya Ntan," ucap Jesi sedangkan Intan mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Gak asik gak da Aya ya, kayak ada yang kurang gitu kita. Gak klop," ucap Jesi.
"Iya betul, nanti pokoknya kita harus langsung ke rumah nya, beli apa ya, buah aja kali ya? tanya Intan.
"Hemm boleh, lagian Ayyara pasti nanti bilang, ngapain dibawa kan jadi bikin kalian repot, gitu," kikik Jesi mencontohkan perkataan yang biasanya selalu Ayyara katakan jika mereka datang membawa buah tangan saat bermain ke rumah gadis itu.
"Ya gapapa, kan ini posisi nya kita lagi mau jengukin Aya," ucap Intan.
"Kamu udah selesai belum pr MTK nya," ucap Intan.
"Hah pr apa Ntan, kamu jangan nambahin tugas ah," ucap Jesi yang tidak tahu ada tugas lain untuk hari ini.
"Ada tau, orang kemarin di grup kan Aya kirim habis itu dia bilang gak masuk sekarang," ingat Intan.
"Ah yang bener, kok aku gak liat Ntan," ucap Jesi yang mulai panik sekarang.
"Ada diatas, kamu gak baca kali, mungkin aja kelewatan," ucap intan.
"Aduh yang mana sih, sini buku kamu deh. Aku belum ada nyatet ini."
Jesi meruntuki dirinya sendiri yang tak benar-benar melihat kemarin. Ada banyak grup pula di WA nya membuat Jesi tidak terlalu memperhatikan.
"Ntan, ini kok banyak banget," ucap Jesi yang hampir saja menangis.
Secepat apapun dia menulis pasti tidak akan sempat karena terlalu banyak dan kelas akan dimulai sebentar lagi.
Jesi meluruhkan tubuh nya berhenti menulis. Dia sudah pasrah sekarang apa bila akan dihukum.
"Yah, gimana dong, bentar lagi masuk ini," ucap Intan.
"Dahlah Ntan, pasrah aja aku mah," ucap Jesi dengan lesu.
"Em yaudah deh, entar Intan gak bakalan ikut ngumpul tugas nya kalo gitu," ucap Intan yang membuat Jesi menoleh.
"Eh jangan, entar ada Lo malah dihukum. Lo udah cape cape nulis eh malah gak dikumpulin," larang Jesi.
"Ya biarin aja, yang penting kan ada teman nya. Masa aku biarin kamu sendiri dihukum sama dimarahi entar," ucap Intan yang tetap kekeuh.
"Aaa kok aku jadi terharu sih," ucap Jesi langsung memeluk Intan.
TBC
__ADS_1