
"Enggak ah, Intan gak mau diajarin berenang sama bang Mark, Abang kan cowo mending sama Jesi Atau enggak Aya," tolak Intan.
"Hah bener tuh, ngadi-ngadi emang lu," sentak Steven yang dari tadi menyimak.
"Lah emang salah ya, gue kan cuma pengen ajarin," gumam Mark tersenyum masam.
"Abang jangan ngambek dong, nanti kalo Intna udha jago renang, kita Poko nya kudu lomba ya," ucap Intan menantang.
"Widihh, nantangin Abang nih ceritanya,ayo deh, Abang bakal tungguin Intan sampai benar-benar bisa baru kita lomba oke.." ucap Mark yang antusias.
"Oke," Intan menampilkan jari jempolnya.
"Yuk, Aya," ajak Intan menghampiri Ayyara.
"Kamu gak mau ikutan renang juga?" tanya Ayyara pada Steven.
Steven menggeleng. "Aku lagi males main air sayang, aku bareng 2 curut ini aja," ucap Steven menunjuk Mark dan Vandra.
"Yaudah deh kalo gitu," ucap Ayyara yang kemudian beranjak dari samping Steven.
"Jangan lama-lama main airnya," peringat Steven.
"Siap bos," balas Ayyara
Kini akhirnya kedua gadis itu menyusul Jesi yang sudah dari tadi berenang terlebih dahulu.
"Jes..." panggil Ayyara pada Jesi yang duduk di pinggiran kolam renang. Gadis itu terlihat memegang ponselnya menghadap wajah seraya mengobrol.
Jesi yang melihat keduanya datang langsung segera mematikan ponselnya.
"Kalian mau main air?" tanya Jesi.
"Iyaa, bang Vandra sama bang Mark udsh gak asik, gak mau lanjut permainan nya sama Intan," adu Intan pada Jesi.
"Yaiyalah Ntan, kalo aku jadi mereka juga udah gak bakalan mau lagi. Kamu tau gak Jes, muka Vandra Ama Mark habis dibikin cemong sama Intan. Ngakak aku liatnya," Kikik Ayyara.
"Pantesan," gumam Jesi. Intan memang benar-benar jahil.
"Lah bocah, jangan lari-lari Intan!" seru Ayyara yang khwatir melihat Intan melihat intan berlari di pinggir kolam renang. Dia takut Intan terpeleset.
__ADS_1
Intan menyengir ." Maaf," ucapnya lalu beralih mengambil pelampung bebek yanh akan digunakan nya untuk bermain.
"Kamu tadi nelpon siapa?" tanya Araya dengan mata yang memicing.
"Temen," ucap Jesi seraya memalingkan wajahnya memerhatikan Intan yang sudah sibuk dengan dunianya sendiri.
"Halah bohong banget, terus kenapa telpon nya tadi langsung dimatiin pas aku sama Intan Dateng, udha gitu aku tadi sempat denger suara cowo loh," selidik Ayyara.
Jessi meringis, dia tak bisa membohongi Ayyara, karena jika sudah bertanya seperti itu Ayara akan mengorek nya sampai akar.
"Ekhem, Atlas," cicit Jesi dengan suara yang pelan namun Ayyara masih bisa mendengar nya.
"Pardon? yang benar, adek si Keenan tunangan kamu kan ? buset, selera kamu sekarang jadi berondong Jes," ucap Ayyara.
"Ish belom tau, lagian kita belum dekat-dekat banget, baru akhir-akhir ini sih, dia sering ikut sama mamah nya kerumah," terang Jesi. Jesi juga sebenarnya heran, karena sebelumnya maja pernah Atlas mau ikut, pria itu sama saja dengan Keenan.
"Hahah, lucu banget deh kalian, padahal selalu kayak tom and Jerry kalo ketemu,"
ucap Ayyara.
"Gak tau deh Ya, ikutin alur aja. Tapi yah dia tuh ternyata anaknya perhatian juga, beda banget sama dulu, julid dja nyebelin. Tapi belakangan ini dia tuh sikap nya hangat banget sama aku Aya, " curhat Jesi, sedangkan Ayyara mengangguk seraya mendengarkan cerita Jesi.
"Udah itu mah, fiks dia juga sama kamu Jes, udahlah gas aja, aku Ama Intan dukung," ujar Ayyara menaik-turunkan alisnya.
"Gak jadi sama Abang nya si Intan dong," ucap Aya lagi.
"Gak deh, dia cuek banget gak yakin aku. Dia melirik aja kagak. Mending sama yang udah pasti aja ya gaksi," balas Jesi.
Jesi memang lebih memilih pria yang mencintai nya. Dengan begitu dia bisa tau rasanya ditreat layaknya pasangan Yang selalu dia idam-idamkan. Contohnya pada hubungan Ayyara dan Steven.
"Gak bakalan jadi nyamuk nya kamu sama Steven lagi akunya. Tinggal Intan doang yang belum sold out," kekeh Jesi.
***
Bug
"Athan," sela Alaric saat melihat Athan yang langsung memberikan Bogeman mentah pada Daddy-nya sendiri.
Fathan baru saja keluar setelah mereka lama menunggu diluar dan ketika pintu tersebut terbuka dan menampilkan tubuh kekar Fathan, tanpa aba-aba Athan langsung meninju Fathan.
__ADS_1
Fathan tentu saja oleng mendapatkan serangan yang tiba-tiba dari Fathan.
Dia tak menyangka jika Athan ada disana dan langsung memukul nya.
Fathan menyentuh sudut bibir nya yang mengeluarkan darah.
"Are you crazy!!" desis Fathan.
"Daddy yang udah gila, " sentak Athan menyenggol Fathan dan langsung masuk menuju ruangan milik Fathan untuk melihat kondisi sang adik bagaimana.
"Apa yang kau lakukan Fathan, kamu membuat masalah yang baru. Bodoh, mengapa tak bis mengontrol emosimu," Maki Alaric. Sesungguhnya hanya Alaric yang bisa mengatakan dirinya bodoh, jika orang lain pasti sudah langsung dihajar nya.
"Aku menang melakukan apa, aku tak melakukan hal diluar batas," ucap Fathan sambil mengusap bibirnya yang masih mengeluarkan darah.
"Tak melakukan apa katamu? kau mengajar Fedrick didalam sana, bagaimana jika dia mati," geram Alaric lada Fathan. Dia juga jadi sangat ingin memberikan tinjauan pada pria itu.
"Bukti nya aku tidak membuat nya sampai mati. Kalian terlalu lebay, dia anak laki-laki harusnya dia tak selemah itu," ucap Fathan lalu melengos pergi meninggalkan Alaric yang lebih kekesalan seraya mengeluarkan sumpah serapah pada dirinya.
"Dasar! mengapa aku memiliki teman seperti itu sih,"
Alaric akhirnya kini ikut masuk kedalam menyusul Athan daripada mengurus Fathan yang dapat meningkatkan darah tinggi nya.
"Tolong bantu aku membawa Fedrick," ucap Athan saat melihat Alaric setelah masuk.
Alaric langsung bergegas saat melihat keadaan Fedrick yang jauh dari kata baik . Wajah pria itu babak belur serta ada luka di tubuh nya terutama di bagian punggung. Athan telah membuka baju Fedrick agar lukanya tak bergesekan.
"Astaga dia mencabukmu dengan belt," ucap Alaric tak habis pikir.
"Shhh," ringis Fedrick mengaduh sakit.
"Bawa kekamar ku saja, semua perlengkapan ku ada disana. Fedrick kau tahanlah sebentar," ucap Athan mulai membantu Fedrick berdiri.
Alaric ikut membantu merangkul Fedrick dengan perlahan.
"Aku benci pria itu," desis Fedrick dengan pelan karena wajahnya yang sakit membuat dia tak bisa leluasa untuk berbicara.
"Sudah kuduga, nikmatilah Fathan," gumam Alaric saat mendengar perkataan Fedrick.
Sepertinya kali ini kebencian Fedrick semakin membesar pada Fathan. Akan sangat sulit untuk Fathan memperbaiki nya dan mendapatkan hati Fedrick jika sudah begini.
__ADS_1
TBC