
Fathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu kini tak memperdulikan Sania yang. tenaga ketakutan karena dia ugal-ugalan.
Fathan sangat marah pada wanita itu. Sania ingin lari darinya, tentu saja Fathan tak akan membiarkan nya sama sekali.
"Kau bisa kabur kemanapun kau mau Sania, tapi ingatlah jika aku akan mengejar mu kemanapun, aku akan selalu mendapat kan mu. Jadi aku sarankan berhentilah berlari dari sisiku karena itu akan sia-sia," geram Fathan tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
"Pelan-pelan,aku masih ingin hidup Fathan, jika kau ingin mati jangan mengajakku," ucap Sania risau, jantung nya seakan copot sekarang. Karena sangking takutnya, Sania sampai memegang pegangan yang ada diatas kepalanya dengan sangat erat.
"Tidak mau," bantah Fathan yang semakin menginjak pedal gasnya.
"Kau gila, itu bisa membahayakan pengendara lainnya Fatah!" teriak Sania yang tak habis pikir.
"Diamlah, kau berisik!" ketus Fathan dan kini mulai memfokuskan dirinya menyetir.
Sania tak bisa berbuat apalagi, dia hanya bisa pasrah sekarang, berdoa agar mereka bisa sampai dengan selamat. Fathan benar-benar menakutkan jika sedang marah. Sania membenci Fathan dalam mode itu.
Akhirnya tak butuh waktu berjam-jam, kini mobil mewah miliknya sudah terparkir di halaman rumahnya. Fathan turun terlebih dahulu dan membuka pintu mobil untuk Sania.
Bodyguard nya yang tadi ikut bersamanya belum kelihatan batang hidungnya, seperti nya merak tak bisa mengejar Fathan yang mengendarai dengan menggila.
"Turun!" titah Fathan pada Sania yang masih dimobil dengan wajah yang sangat pucat. Wanita itu masih terdiam dalam duduk nya.
Dia masih syok, ini terlalu tiba-tiba, dia masih harus menguasai dirinya atas perjalanan yang membuat nya ketakutan setengah mati.
"Apa kau tuli hah!!! kubilang turun Sania!!! bentak Fathan pada Sania. Fathan sudah tidak sabar, apalagi dia baru bertengkar dengan Putranya, moodnya sekarang sangat tidak bagus.
Bentakan itu berhasil membuat Sania terjangkit kaget. Suara Fathan sangat menggelegar menandakan pria itu tengah marah besar padanya.
Nyali Sania semakin menciut dan malah tak berani untuk keluar. Apalagi melihat tampan wajah Fathan yang sangat tidak bersahabat. Pria itu menatap nya dengan wajah yang sangat datar sekali.
"Sania! kukatakan sekali lagi. Turun!! kau mau aku menyeretmu Seperi tadi hemm," ancam Fathan kembali.
Sania mengerjapkan matanya takut, mau tak mau dia harus turun. Nada.yanh dikeluarkan Fathan sangat otoriter dan seperti tak mau mendengar yang namanya bantahan .
__ADS_1
"Bagus, itu baru wanitaku," ucap Fathan yang langsung menggendong Sania seperti menggedong sekarung beras.
Sania sempat memberontak karena posisi itu sangat aneh dan tak nyaman menurutnya namun Fathan tetaplah Fathan, dia sama sekali tidak memperdulikan protesan dari Sania.
Fathan menulikan pendengaran nya, dan mengabaikan segala ocehan dan makian yang dilontarkan oleh Sania kepadanya.
Plak
"Dasar nakal, aku benar-benar menguji kesabaran ku sayang," ucap Fathan .
Dengan kesal akhirnya Farhan memukul bokong wanita itu dengan salah satu tangan nya.
Fathan tak membawa Sania kekamar nya yang ditempati Sania biasanya.
Pria itu malah membawa Sania kekamar yang belum pernah ditempati oleh siapapun dalam rumahnya.
Kamar itu dibangun seharusnya untuk menjadi kamar tamu namun selama ini Fathan tak pernah menerima tamu karena dia tak ingin memberi kan izin pada sembarangan orang untuk masuk kedalam rumahnya.
Fathan pun akhirnya membuka pintu kamar tersebut, letak kamar yang akan ditempati oleh Sania tak terlalu jauh dari kamar nya. Namun kamar yang Farhan pilihkan itu tidak terlalu besar.
Bug
Fathan mengempas kan tubuh ringkih Sania kekasur dengan tidak santai.
Hal itu berhasil membuat Sania meringis merasakan sedikit sakit pada bagian punggung nya yang terhantam.
"Apa yang akan kau lakukan?" ucap Sania yang sedikit kesal. Tega sekali pria itu pikirnya.
Fathan tak menjawab, pria itu kini terlihat sibuk membuka laci demi laci.
"Tali," gumam Sania saat melihat nya berada dalam genggaman Fathan. Otaknya kini mulai berpikir dan sekarang dia sudah tau apa yang akan dilakukan pria itu padanya.
Sania refleks langsung berlari kearah pintu namun itu tak akan ada gunanya karena ternyata Fathan telah mengunci nya sejak awal.
__ADS_1
"Kabur lah jika kamu bisa sayang," ucap Fathan mengeluarkan seringai nya dan tertawa kecil saat melihat wajah panik Sania.
Begitu lucu dimatanya, ingin sekali rasanya dia menciumi suruh wajah Sania.
"Kau tak akan kubiarkan kabur lagi dariku Sania, tidak akan lagi!" ucap Fathan dengan nada yang tegas dan serius.
Fathan lalu segera mendekati Sania dan menarik kedua pergelangan tangan wanita itu dan mengikatnya dengan kuat.
Fathan juga tak lupa untuk mengikat kedua kaki wanita itu hingga ruang gerak Sania menjadi terbatas.
Tatapan menampilkan wajah yang tak terima padanya. Tak bohong, Fathan sebenernya merasa kasihan dan tak tega sama sekali. Tak seharusnya dia melakukan hal itu pada wanita yang sangat dia cintai.
Tapi jika tidak begitu Sania akan pergi darinya, maka Fathan akan melakukan cara apapun untuk menahan Sania meski cara nya keterlaluan.
"Fathan lepaskan aku... Kau tak berhak melakukan hal ini pada ku Fathan. Aku mohon tolong lepaskan aku, tolong biarkan aku hidup dengan bebas dan tenang, aku berjanji tak akan mengganggumu dan keluarga mu,'
"Anggap saja kita tak pernah bertemu sebelumnya."
"Kau sangat berisik sayang, tapi maafkan aku heum, aku tak bisa memberikan apa yang kau minta sekarang," ungkap Fathan.
Hatinya tersentuh saat Sania memohon untuk dilepaskan. Sebegitu besar kah keinginan Sania untuk pergi dari nya.
Daripada mendengarkan hal yang tak ingin dia dengarkan lagi. Fathan akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Sania dikamar itu sendiri an dan membiarkan Sania berteriak.
"Bawakan semua barang mereka yang berada di kontrakan itu secepatnya, kutunggu dalam satu jam kedepan. Semuanya sudah harus berada dihadapan ku. Kau mengerti!!" ucap Fathan pada seseorang ditelpon.
Fathan menatap kearah pintu tempat Sania berada.
"Maaf, aku harus melakukan ini agar mau tak bisa pergi dariku. Yang terpenting aku selalu bisa melihat mu dan kau bisa bersama Ku seterusnya. Kau hanya sementara Disana, hanya sampai kau kapok untuk berniat pergi dariku," gumam Fathan.
Fathan memang terdengar gila, namun Fathan sama sekali tidak perduli. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan,. termasuk mengenai Sania juga.
Sebetulnya Fathan sangat lah sadar jika dia bersikap egois dan kekanakan .
__ADS_1
"Mengapa aku menjadi seorang yang terlihat sangat terobsesi padamu Sania, sebenarnya apa yang telah kau lakukan padaku,"
TBC