
"Ini kontrakan kita mom," ucap Intan melihat rumah yang cukup sederhana di hadapan nya sekarang.
"Iya sayang, maafin mom yah, mom cuma bisa sewa kontrakan yang kaya gini. Tidak seluas rumah kita yang dulu dan tidak senyaman rumah Fathan," sesal Sania. Seharusnya dia bisa memberikan yang tebaik untuk Putri nya itu.
"Gak papa ko mom, ini bagus ko. Yang penting Intan tetap sama mom itu udah membuat Intan bahagia dan pasti nya rumah ini akan tetap nyaman," ucap Intan menyadarkan kepala nya di bahu Sania.
Sania tersenyum melihat nya dan mengelus puncak kepala Intan. Bersyukur nya dia memiliki Intan. Untung saja Intan mengerti akan keadaan nya.
"Yaudah yuk kita masuk sayang, kita beres-beres dulu. Besok Intan kan harus sekolah. Intan harus istirahat lebih cepat hari ini," Sania menggiring Intan untuk masuk ke kontrakan yang sudah disewakan nya.
"Kamar Intan yang ini, sebelahan sama kamar mom, kamu beresin baju - baju kamu gih," ucap Sania.
"Ehm," angguk Intan memasuki kamar tersebut.
Intan tersenyum melihat kamar nya tersebut. Walaupun tak sebesar kamar nya dulu, kamar itu menurut nya cukup bagus untuk nya.
"Nanti Intan cuma perlu nambahin perlengkapan lainnya terus hias dikit kamar nya pasti cantik," ucap Intan sembari membereskan barang-barangnya.
Selepas dia sudah siap dengan kamarnya. Dia menghampiri Sania yang ternyata sekarang sudah berberes rumah.
Intan langsung membantu Sania agar pekerjaan mereka cepat selesai.
"Terimakasih sayang," ucap Sania saat melihat Intan yang inisiatif membantu nya membersihkan kontrakan.
"Heheh, soalnya Intan udah laper mom, mom mau masak apa hari ini. Intan mau bantu juga mom. Intan pengen belajar masak," seru Intan yang begitu antusias.
Intan berniat ingin bisa melakukan hal-hal tersebut. Karena kini hanya tinggal dirinya dan juga Sania saja. Intan harus bisa belajar mandiri agar tidak terlalu menyusahkan Sania saat Sania sedang sibuk atau pekerjaan lain nanti nya.
"Astaga, iya juga kita belum makan ya dari tadi. Kita makan di warung dekat sini aja kalo gitu. Nanti kelamaan kalo nunggu masak," ucap Sania.
"Memang nya tidak papa mom? keuangan kita kan lagi tidak baik-baik saja," lirih Intan. Jika mereka makan di luar itu akan boros menurut nya.
"Tidak papa, mommy masih memiliki pegangan kok. Tenang aja sayang," ucap Sania yang mengerti akan pemikiran anak gadis nya itu.
"Em okedeh mom, " seru Intan.
__ADS_1
"Terus nanti mommy jualan kue lagi ya kayak dulu," ucap Intan.
"Iya sayang," balas Sania sambil merapikan diri nya.
"Nanti Intan bantuin deh," ucap Intan memasarkan deretan gigi nya.
"Kalo lagi sempet aja sayang, bentar lagi kalian mau ujian kan," ingat Sania.
Dia tak mau terlalu membebankan putri nya tersebut.
***
"Buset, lu ngapain lari - lari kayak begitu," ucap Vandra yang baru sampai di depan rumah. Hendak membuka pintu rumah nya namun dikagetkan dengan kedatangan si bungsu Mark yang baru sampai dan langsung turun dari motor nya dengan tergesa-gesa.
Pria itu masih terlihat sangat berkeringat karena bermain basket. Vandra bahkan menggeleng kan kepala nya melihat Mark yang tidak mengganti baju nya dan malah pulang dengan masih memakai baju basket nya.
"Lu berisik banget bang, mending minggir deh lu, jaga di pintu," sentak Mark langsung berlari ke dalam ke rumah.
"Ck, itu anak kenapa sih. Aneh banget. Napa juga gua punya adek macam Mark gitu yah," gumam nya melihat tingkah Mark yang absurd.
"Berasa Sepi nih rumah, biasanya udha denger celotehan nya si intan, mommy juga mana kok pada gak keliatan sih," ucap Vandra celingak-celinguk.
Biasanya Sania jika sudah mendengar suara motor ataupun mobil mereka sampai di depan rumah, wanita paruh baya itu pasti akan langsung menghampiri.
"Apa lagi keluar ya?" tanya nya pada dirinya sendiri.
Sejenak dia melihat Mark yang berlarian dari kamar milik Sania dan Intan.
Wajah pria itu juga terlihat panik.
Vandra mengeryit kan dahinya melihat kekhwatiran di wajah Mark yang begitu kentara. Jarang sekali dia melihat wajah panik itu.
Mark terlihat turun dan menghampiri dirinya.
"Lu kenapa sih?" heran Vandra yang sudah penasaran sejak tadi.
__ADS_1
"Bang, Intan sama mom bang, mereka gak ada di kamar mereka. Barang-barang mereka juga tidak ada lagi dikamar. Tadi gue cek lemari juga karena liat kamar nya udah gak ada barang, ternyata baju mereka juga gak ada disana bang," jelas Mark dengan satu tarikan napas.
"Hah, masa iya," ucap Vandra tidak percaya.
"Iya bang, tadi juga di sekolah Intan nyuekin gua, dia bahkan gak mau liat gue, tadi pagi gak mau berangkat bareng gua terus pulang nya juga. Makanya pas selesai basket gue langsung pulang mau bicarain Masalah ini sama Intan. Tapi Intan sama mommy malah gak ada," lesu Mark yang pikiran nya sekarang berisi hal yang negatif.
Vandra terdiam," lu ada masalah sama Intan?"
"Gak ada bang, tiba-tiba aja dia kayak gitu tadi pagi. Kemarin balik dari rumah Aya kan kita baik-baik aja, terus gimana dong bang," ucap Mark yang sekarang sudah seperti orang yang frustasi.
Mark bahkan mengusap wajah nya dengan gusar.
Mark memikirkan berbagai hal yang dia lewat kemarin bersama Intan. Berpikir keras apa kesalahan nya. Dia takut jika Intan pergi karena dirinya.
Vandra tanpa menjawab lagi langsung bergegas mengecek sendiri dengan Mark yang mengekori dirinya dari belakang.
Betapa terkejutnya dia saat melihat memang sudah tak ada lagi barang milik Intan di sana.
Masih mencoba berpikir positif, Kini Vandra beralih ke kediaman Sania dan ternyata sama saja.
"Kn gue udah bilang bang, huft arghhh ini pasti gara-gara gue. Intan tadi kenapa cuek gitu ya Ama gue. Mereka kemana bang. Mommy sama intan kemana?" hanya Mark mengacak rambut nya.
"Lu tenang dulu, jangan kacau gitu anjirr," sentak Vandra yang melihat sang adik frustasi.
"Tapi bang merek agak ada bang," lirih Mark kembali seraya menghela nafas berat.
"Bang--"
"Diemm Mark, gua gak tau!!" ucap Vandra yang kini kesal. Dia juga jadi ikutan panik saat tak melihat Sania dan Intan ditambah melihat Mark yang seperti itu malah membuat nya semakin panik.
"Tanya Daddy," ucap Mark tergopoh-gopoh untuk menemui Fathan.
"Daddy dikantor," teriak Vandra yang tak dihiraukan oleh Mark sama sekali.
Pria itu tetap melanjutkan langkah nya ke ruangan kerja sang Daddy yang berada di rumah.
__ADS_1
TBC