Possesive Man

Possesive Man
Part 75


__ADS_3

"Aduhh siapa lagi sih yang ganggu tidur gua, mau tidur aja susah banget. Awas aja kalo ini dari Mark," gerutu Vandra yang tengah berbaring di kasur nya yang empuk.


Vandra tadi nya sudah akan menjelajah alam mimpi namun Karena suara panggilan dari handphone nya yang berdering dengan keras membuat dia kembali terbangun.


"Harusnya tadi gue matiin nih Hape ,pake lupa lagi buat bikin moden silent," decak Vandra meraba-raba meja nakas untuk mencari keberadaan ponsel nya tanpa membuka matanya.


Vandra membuka mata nya sedikit untuk melihat siapa yang sudah menggangu nya malam-malam begini.


"Bang Athan," gumam nya melihat nama itu yang tertera di layar ponsel nya.


"Aduhh apa gak bisa besok apa ahh, **** jam tidur gue, mana besok kelas pagi," kesal Vandra namun tetap mengangkat panggilan tersebut.


"Hah apaan!" ucap Vandra dengan nada yang tidak santai.


"Keruangan kerja Daddy sekarang, bangunkan Mark," ucap Athan langsung mematikan sambungan ponsel nya secara sepihak tanpa memikirkan Vandra yang sudah ingin sekali beristirahat sekarang.


"Arghhh," erang Vandra dengan terpaksa bangun dari tidur nya. Tau nggak rasanya dibangunkan saat lagi enak-enak nya tidur. Rasa nya benar-benar begitu menyebalkan sekali.


Vandra akhirnya berjalan dengan sedikit sempoyongan untuk menuju kamar Mark. Untung nya tidak jauh karena dia merasa mager sekarang.


Vandra sambil menguap seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal mengetuk pintu kamar milik Mark dengan brutal.


"Woy cepetan buka pintu nya!! Mark!!" teriak Vandra dengan nada yang menggema.


"Buka sekarang! Mark!" ucap Vandra seraya tetap mengetuk pintu kamar milik Mark.


"Berisik sekali," ucap Fedrick yang baru saja keluar dari kamar nya. Kamar pria itu memang bersebelahan dengan kamar milik Mark.


"Ouh Lo udah pulang ,ko gue gak liat ya, lewat mana lu," ucap Vandra.


"gue gak keluar," singkat Fedrick lalu pergi meninggalkan Vandra.


"Mukanya bonyok Mulu perasaan," gumam Vandra menggeleng kan kepala nya.


"Tuh anak juga nyebelin, kenapa orang - orang di hidup gue pada nyebelin ya," ucap Vandra mengasihani diri nya sendiri.


"Ck, woyy," ucap Vandra kembali berteriak di kamar milik Vandra.


Ceklek


"****, gak ada gunanya tadi gue teriak, ternyata pintu nya gak dikunci." ucap Vandra lalu menyelonong masuk.


Vandra tercengang melihat Mark yang tengah lesehan di lantai dengan memakai earphone yang sedang memainkan game.

__ADS_1


"Pantes aja dia gak denger," kesal Vandra. Benar-benar sia-sia diri nya berteriak tidak jelas.


Mendadak kantuk Vandra menghilang kini.


Vandra mendekati Mark dan menarik earphone yang melekat di telinga Mark.


Pria itu terkejut karena tindakan tiba-tiba dari Vandra.


"Ngapain lu ke kamar gue, main nyelonong aja lagi gak ngetuk. Gak sopan ," ucap Mark.


"Gak sopan, gak sopan. Pala kau gak sopan, gue udah teriak - teriak kayak orang utan ya dari tadi tapi lu kagak denger," gerutu Vandra.


"Oh iya gue make earphone," balas Vandra yang tetap melanjutkan permainan nya.


Vandra yang melihat itu lantas menarik ponsel nya dari tangan Mark.


"Kenapa sih lu bang, dateng-dateng malah ngereog. Balikin handphone gue. Aduhh bisa afk itu nanti gue," ucap Mark.


"No, sekarang kita harus ke ruangan Daddy. Bang Athan yang nyuruh," ucap Vandra.


"Sekarang? yang bener, bohong kan Lo, orang udah malem begini lagian pintu nya kan dijaga bodyguard," ucap Mark.


"Udah gak usah banyak bacot, ikut gue," ucap Vandra lagi.


"Wah, Bodyguard Daddy udah gak ada, mereka udah tidur ya," tanya Mark dengan tidak jelas.


"Mending lu diem dulu dah Mark sebelum gue timpuk lagi," balas Vandra mengabaikan pertanyaan yang tidak berfaedah dari Mark.


"Ga asik lu bang," ucap Mark.


Keduanya lalu memasuki ruangan dan benar saja Fathan, Athan dan bahkan ada Fedrick juga di sana.


"Loh ada bang Fedrick, tumben," ucap Mark.


"Maaf menganggu waktu kalian," ucap Fathan membuka suara.


"Emang ganggu dad, pake banget malah," keluh Vandra.


"Hem, kayak gak ada waktu lain aja," balas Fedrick.


"Aku tidak menyuruh mu untuk berbicara," ucap Farhan pada Fedrick.


Jauh dalam hati nya dia teramat merasa bersalah melihat keadaan Fedrick yang masih memiliki luka di tubuh nya.

__ADS_1


Semua luka yang masih tersisa karena perbuatan nya yang menghukum Fedrick dengan begitu keras nya.


Fedrick akhirnya diam saja daripada mendapatkan ceramah dari pria itu.


"Kau sudah mengganti perban nya?" tanya Fathan lada Fedrick.


Fedrick menaikkan alisnya, apa dia tak salah dengar. Untuk pertama kalinya pria itu menanyakan akan keadaannya..


"Sudah aku ganti,untung saja dia tidak mati," sindir Athan membuat Fathan berdehem canggung.


"Jadi alasan Daddy mengumpulkan kalian semua sekarang adalah karena Sania dan Intan sudah tidak ada disini. Serta mengenai perusahaan," ucap Fathan memulai dengan serius.


Fathan memang harus mengatakan nya sekarang karena jika besok mereka tidak bisa berkumpul seperti ini. Dia juga memiliki pekerjaan di kantor serta anak-anak nya yang juga memiliki kesibukan sendiri.


"Kau belum tau kan, jika Sania dan Intan sudah tidak tinggal di rumah ini? apa kau senang? kurasa begitu. Selamat keinginan mu sudah tercapai." ucap Farhan menatap ke arah Fedrick.


Sedangkan pria itu tidak bereaksi apapun dan malah diam saja dengan pandangan tidak terbaca.


"Kenapa dad?" tanya Mark.


Fathan akhirnya menceritakan semua yang dia katakan pada Athan tadi serta alasan - alasan nya.


"Daddy tak bisa menjemput mereka sekarang. Pasal nya perusahaan belum memiliki titik terang apapun. Penghianat nya juga belum ditemukan."


"Jadi Daddy minta pada kalian untuk kerjasama nya. Kita akan sibuk untuk beberapa bulan kedepan untuk menggaet beberapa investor dan mengembalikan semua kerugian perusahaan. Hitung-hitung kalian belajar apalagi untuk Fedrick dan Vandra yang sebentar lagi akan lulus kuliah," jelas Fathan dengan panjang lebar.


"Mengapa susah sekali untuk Daddy menangkap penghianat nya," tanya Fedrick.


"Kau pikir semudah itu? dia begitu hebat dalam menyembunyikan semua nya,' balas Fathan. Orang itu seperti nya memang lah orang dalam. Mengingat semua bukti tertuju pada beberapa orang di perusahaan nya yang sangat dia Percya.


Tali Fathan tak mau asal menuduh begitu saja, dia harus memerhatikan kebenaran nya terlebih dahulu.


"Kalo begitu Mark setuju untuk bantu Daddy bekerja agar bisa secepat nya jemput mom dan Intan ," ucap Mark penuh tekad.


Dia begitu senang saat Fathan mau berubah pikiran. untuk sekarang dia akan memberikan waktu untuk Sania dan Intan menikmati keseharian mereka


Fathan tersenyum tipis, Mark begitu antusias jika dia membahas soal Intan dan juga Sania.


"Mereka tinggal dimana?" tanya Fedrick yang hanya diam menyimak sedari tadi.


Ke-empat orang disana menatap Fedrick tidak percaya. Pria itu baru saja menanyakan orang yang tidak disukai nya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2