Possesive Man

Possesive Man
Part 45


__ADS_3

"Ini rumahnya? tanya Vandra pada Mark saat mereka sudah sampai di kompek perumahan yang cukup elit. Vandra berdecak kagum melihat interior rumah tersebut karenalumayan mewah dengan gaya rumah yang American.


"Pinter juga adek gue nyari temannya,  mantep banget deh si Intan. Emang kudu gitu," cetus Vandra.


"Banyak bacot lu bang, udah buka pitnunya cepet!" tukas Mark pada Vandra.


Vandra menatap julid kearah Mark dan menekan central lock mobil hingga Mark bisa membuka pintunya. Pria itu beranjak lebih dahulu dan meninggalkan Vandra yang masig hendak memarkirkan mo


"Bukan adek gue," sisnis Vandra yang melihat Mark meninggalkannya.


Vandra lalu bergegas dan menyusul Mark, soalnya dia tidak tahu menahu akan wilayah rumah teman Intan.


"Abang," seru Intan saat melihat Mark yang telah tiba bersama dengan Vadra.


"Bang Vandra juga ikut ternyata," lanjut Intan.


"******, abang gabut dirumah," cengir Vandra lalu stelahnya Vandra menyipitkan matanya menatap aneh ke arah wajah Intan atau lebih tepatnya ke arah pipi Intan.


"Loh, muka kamu kenapa itu," heran Vandraa memegang wajah Intan dan melihatnya dengan seksama.


"Shhh," lirih Intan saat Vandra memegang pipinya yang memerah.


"Dek ini kenapa?tanya Vandra yang muali serius kali ini.


"Siapa yang buat ini hem, Intan!" geram Vandra saat melihat keterdiaman Intan.


"Mark," ucapnya yang kini menoleh ke arah Mark.


"Eum, Intan kena bullly bang," cicit Mark pelan. Saat Vandra dalam mode yang serius Mark akan berhati-hati, karena dia tak terbiasa karena  biasanya  Vandra bertingah ceria dan terkadang konyol.


"Jangan maraah bang, Intan udah bales kok, bang Mark juga udah bales mereka," ucap Intan akhirnya membuka suara.


"Benar begitu?" tanya Vandra dengan pandangan dingin ke arah Mark.


"Bener kok, udah," jawab Mark dengan cepat saat mendapatkan tatapan elang dari Vandra.


"Oke, baguslah jika begitu, jika tidak aku sendiri yang akan melakukannya, bersykurlah  kau karena aku tidak pengadu, dad pasti akan marah besar jika tau," sinis Vandra membuat Mark tertunduk.


"Maaf, aku janji akan lebih esktraa jaga Intan,"Janji Mark.


"Jangan hanya berbicara bodoh! buktikanlah ucapanmu, ini sudah yang kedua kalinya kau gagal," Vandra mengingatkan.


"Ih, udah bang, kok malah marahin bang Mark," ucap Intan tak terima Mark disalahkan padahal Mark tak harusnya disalahkaan begitu.


"Iya, iya," ucap Vandra.


"Bang," ucap Steven menghampiri vandra  saat merasa suasana telah cair lalu keduanya  melakukan tos ala lelaki. vandra dan steven memang sudah pernah bertemu karena Vandra sesekali ikut nonkrong dengan geng The boys walaupun dia tak masuk dalam geng tersebut. Karena memang tujuan awalnya hanya ingin mengawasi kembarannya, Fedrick.

__ADS_1


"Nih dek, keperluan kamu," ucap Mark memberikan bawaanya yang diterima oleh Intan.


"Sayang, kenalin ini adalah bang Vandra, abangnya Mark sama Intan," ucap Steven


"Aduh, gimana dong," ucap Steven mengenalkann.


"Ayyara," ucap Aya dengan singkat seraya tersenyum tipis.


"Jessie," ucap Jessie. Saat hendak melepaskan tautan tangannya, Vandra menahan tangan milik Jessie.


"bang!" tegur Mark dengan berteriak pelan.


"Ekhem,"dehem Vandra dan menggunakan kata maaf.


Entah mengapa dia langsung tertarik dengan gadis yang bernama Jesi itu. Selama beberapa menit Vandra lebih banyak diam.


Mark saja sampai heran, mengapa tiba -tiba sang Abang jadi berubah kalem sekarang, biasanya dia akan mereog. Terlihat sekali jika Vandra lebih banyak diam dan menyimak saja dan menjaga sikap.


"Aduhh, Daddy vc aku nih bang, gimana dong," panik Intan sambil melihat layar ponselnya.


Intan tidak berani mengangkatnya, dan membiarkan panggilan itu mati. tapi sepertinya Fathan tidak menyerah sama sekali dan malah melakukan panggilan Vc kembali.


Mark meringis, bisa bahaya jika Fathan tau keadaan Intan yang tidak baik-baik aja, maka habislah sudah dirinya.


"Sini, biar Abang aja yang ngomong," pinta Vandra mengulurkan tangan nya meminta handphone yang dipegang oleh Intan.


"Hai, dad,"


"Mengapa kau yang mengangkatnya? Intan mana. Kau berada dimana itu?" tanya Fathan dari seberang sana yang terdengar tidak sabaran.


"Aku? aku dirumah temannya Intan sama Mark. Mereka sedang keluar ke supermarket dan Intan meninggalkan ponselnya. Daddy takl perlu khawatir, Intan baik-baik aja dad," jelas Vandra.


Fathan mengangguk. "Oke, pastikan Intna baik-baik saja," ucap Fathan lalu mematikan panggilan nya, membuat semua orang di ruangan itu menghela nafas dengan lega.


"Kamu mau nginep berapa hari dek?"


"Hari ini aja bang, besok sekolah aku pulang, pasti merah-merahnya udah hilang," ucap Intan membuat Vandra mengangguk mengerti


"yaudah besok abang yang jmeput." ucap vandra.


"Tumben ," ucap Mark.


"Biarin lah, abang bekum pernah jemput Intan juga, selalu keduluan sama Athan," ucap Vandra kesal. Karena saat dia sedang tak ada kelas siang, dia smepat menawarkan diri untuk menjemput Intan namun Athan tak memberinya kesempatan.


"Ya besok juga siapatau bang Athan yang jemput," ucap Mark.


"Tidak, dia sedang sibuk," jelas Vandra sedangkan Mark hanya ber oh ria saja.

__ADS_1


"Maaf menganggu nona, makanannya sudah siap," ucap pelayan dirumah Ayyara mengetrupsi pembicaraan mereka.


"Oh oke bi, makasih," ucap Ayyara lalu pelayan tersebut undur diri.


"Yaudah yuk makan siang," ucap Ayyaraa mengajak mereka semua.


"Yuk, asik makan," Vandra yang kesenangan.


Mark menatapnnya dan menginjak kakinya. "Bukannya kau tadi sudah makan,"


"Kalian kenapa?" tanya Jesi.


"Gak tau, Si Mark nginjak kaki aku ni," ucap Vandra lembut seperti sedang mengadu pada kekasih.


"eh maaf, gak liat," balas Mark ketus. Dalam hati dia mencibir Vandra, apalahi saat mendengar panggil;an aku-kamu yang dilontarkan oleh Vandra ke arah jesi.


"Jes, hati-hati ada buaya, ucap Mark menyusul sang pemilik rumah yang sudah terlebih dahulu menuju ruang makan.


"Hah!buaya? dimana ada buaya siang-siang gini, didarat lagi. Sengkelek banget si Mark," ucap Jesi yang tidak menegrti dan tak peka.


"Tak usah memikirkan ucapan MArk yang tidak penting, dia memang rada gila anaknya," ucap Vandra terkekeh.


Jesi menggelengkan kepalanya yang melihat Vadra yang malah menistakan adiknya sendiri.


Vandra lalu mengekori Jessi dan duduk tepat disamping gadis itu.


"wah, sepertinya makanannya enak, terimakasih Ayara, gak salah nih gue datang kemari," ucap vandra yang membuat Steven tertawa kecil.


Dia tau seklai tabiat pria yang satu ini, jika sudah disodori makanan pasti tidak menolak. Bahkan jika di markas The  Boys, Vandra lah orang terdepan yang akan bersemangat dalam menghabiskan cemilan yang adaa.


'Malu-maluin aja lo bang, kayak gak pernah makan aja," ucap Mark sembari menatap vandra dnegan muka julid. Mark tak habis pikir, perut Vandra terbuat dari apa, sampai bisa menampung makanan sebanyak itu. Padahal kan tadi dirumah mereka sudah makan


"Dasar perut karet," umpat Mark.


Mark kini lebih memperhatikan Intan daripada mengurus vandra yang bisa membuatanya kesal.


"Makasih bang," ucap Intan saat Mark mengambilkan berbagai lauk dan meletakkannya dipiringnya.


"Loh Mark, lo gak makan," ucap Steven saat Mark tak mengambil apa-apa.


"Gak, tadi gue semaot makan dirumah,' ucap MArk sambil menatap Vandra yang kini sangat lahap dengan makanannya.


"Ngapain lo liat gue," Vandra.


"Gak," ucap Mark memalingkan wajahnya kembali ke arah Intan. Sesekali pria itu mengelap mulut Intan yang meinggalkan sisa makanan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2