Possesive Man

Possesive Man
Part 55


__ADS_3

"Pasien nya sudah akan hampir sampai, persiapkan diri kalian masing-masing,"


Perintah itu terlontar dari Athan yang


kini sudah siap dengan jubah operasi.


Pria itu harus melakukan operasi malam ini juga karena pasien dari rumah sakit dirujuk ke rumah sakit tempat dia bekerja. Itu sebabnya dia terburu-buru dari rumah , untung saja dia bisa cepat datang sebelum pasien tiba terlebih dahulu.


Athan dikenal sebagai salah satu dokter bedah termuda yang meniti karirnya di rumah sakit Venestria. Rumah sakit hang begitu terkenal dan banyak orang yang berlomba untuk dapat meniti karir disana.


Tak beberapa lama menunggu akhirnya pasien gawat darurat tiba di Venestria.


Athan mendengar suara sirine ambulans dengan bunyi seperti palang perlintasan kereta api yang berulang-ulang dengan nada yang sangat nyaring dan kencang.


Tepat saat ambulans berhenti di Venestria, petugas dengan sigap mendorong brankar pasien menuju ke IGD. Pasien yang ditangani oleh Athan kali ini adalah karena kecelakaan. Lebih tepatnya dikabarkan mengalami kecelakaan saat sedang memperbaiki mobilnya dan naasnya mobil nya jatuh keatas tubuh pasien dan berhasil meremukkan dadanya.


Dengan sigap Athan dan dokter lainnya segera memakai seragam scrub berwarna hijau, karena warnah hijau dapat membantu dokter melihat lebih baik saat operasi.


Ruangan operasi kini diatur menjadi sangat dingin, hal yang wajib dilakukan saat menjelang operasi untuk mencegah agar tidak ada bakteri yang berkembang biak yang memungkinkan terjadi nya infeksi selama operasi berlangsung.


Athan lalu melakukan pemeriksaan pada pasien yang seperti nampak akan mati, sementara paramedis melakukan CPR pada pasien.


Pasien diagnosa menderita PEA(Pulseless Electrical Activity) yang berarti jantung nya masih berusaha berdetak, tetapi tidak ada darah yang memompa. Pembuluh darah di lehernya menonjol dan ketika Athan memeriksa dadanya, Athan bisa merasakan banyak tulang rusuk yang patah.


Athan membuat keputusan untuk membelek dadanya, dan segera bekerja sama dengan asistennya Sampai akhirnya Athan menemukan apa yang dia duga : kantung di sekitar hati nya bengkak dan penuh dengan darah.


Akhirnya setelah berjam-jam Athan dan dokter yang lainnya yang berjuang untuk mempertahankan hidup pasien berjalan dengan lancar.


Tak ada yang lebih membahagiakan dari menyelematkan nyawa orang lain bagi Athan. Akhirnya dia bisa mengehela nafas. Beban di pundaknya bisa berkurang sedikit.


Setelah operasi Athan berniat langsung pulang karena dia sudah merasa sangat lelah, bersyukur nya dia karena tidak memiliki jadwal lagi setelah ini.


Sebelum Athan pergi, Athan menyempatkan dirinya untuk pamit pada rekan-rekan nya yang sudah bekerja sangat keras.


"God job, kalian sudah bekerja dengan keras, kalian bisa pulang dan beristirahat sekarang,"


"Baik dok, sampai ketemu besok dok," ucap merkea dengan nada yang masih semangat walaupun dalam wajah mereka terlihat jelas raut kelelahan.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, Athan segera keluar dari IGD dan mengganti pakaian nya.


"Dokter Athan," panggil salah satu dokter anestesi yang ikut operasi dengan nya.


Namanya Sophie, salah satu patner tetap Athan dalam operasi. Keahlian dari Sophie sudah tak diragukan lagi dan Athan mengakuinya. Tak salah dia memilih Sophie sebagai dokter anestesi dalam tim nya.


"Ada apa Sophie? kau tak pulang?" tanya Athan.


"Em, dokter Athan mau langsung pulang ya? saya mau ngajak Dokter untuk makan malam bersama," ucap Sophie dengan nada yang pelan.


Sophie sudah sering mengajak Athan walaupun sering juga ditolak. Tapi Sophie tidak pernah menyerah ataupun mundur.


"Tadinya begitu, tapi baik lah, saya juga belum makan dari tadi," ucap Athan yang memang kelaparan.


Butuh waktu sejam lebih untuk sampai kerumah dan belum lagi pasti akan macet.


"Benarkah?" tanya Sophie dengan raut yang berbinar. Astaga dia senang sekali setelah sekian lama akhirnya Athan mengiyakan ajakan nya.


"Heum, jangan berpikiran yang tidak-tidak Sophie, saya hanya sedang lapar dan tak ada maksud lain apapun. Dan jangan menatapku dengan wajah seperti itu, saya merasa tidak nyaman," ucap Athan dengan telak yang berhasil menghilangkan binar bahagia di wajah Sophie.


Tapi apa boleh buat, Athan tak ingin membuat wanita itu banyak berharap lebih padanya. Dia masih ingin fokus pada karir nya dan belum memikirkan tentang wanita.


Tak bohong hatinya merasa tersentil, secara tidak langsung Athan menolak nya.


"Kamu membawa mobil, atau memakai mobil saya saja?" tanya Athan.


"Tidak perlu dok, restoran nya dekat sini, kita bisa berjalan kaki," ucap Sophie.


"Baiklah," ucap Athan.


Kini keduanya berjalan dengan berdampingan di lorong rumah sakit yang mulai sepi.


"Saya senang sekali kita berhasil menyelamatkan pasien yang tadi," ucap Sophie membuka percakapan.


"Kau benar, saya sempat merasa pesimis tadi," balas Athan mengiyakan.


"Restoran nya disebelah sana! kita harus menyebrang dulu dok," ucap Sophie saat mereka sudah sampai di lantai bawah rumah sakit.

__ADS_1


"Aku baru tau ada restoran itu disana," ucap Athan. Maklum saja dia sangat jarang makan disekitar rumah sakit tersebut.


"Dokter kemana aja, itu sudah lama dan selalu rame tau dok, Bahakan dokter dokter yang lain juga kadang ada yang makan disana." Balas Sophie.


"Saya belum pernah kerestoran itu," ucap Athan yang membuat Sophie tercengang. Padahal restoran itu sangat dekat dengan area rumah sakit, bisa-bisanya Athan tidak tahu keberadaan nya.


"Tunggu dulu, itu masih ada mobil dan belum lampu merah, kemana pikiranmu," sentak Athan memegang tangan Sophie yang hendak menyebarkan dengan banyak mobil yang masih berlalu lalang.


"Ma--af," cicit Sophie yang terkejut. Dia tidak memperhatikan dan terus berjalan kedepan tadi. Mungkin karena dia terlalu senang berjalan beriringan dengan Athan.


Sophie menatap tangan nya yang masih dipegang oleh Athan, rasanya jantung nya sekarang seakan ingin melompat dsri tempat nya.


"Ayo," ucap Athan saat lampu sudah menjadi merah dan rangan Athan yang tadinya di pergelangan tangan Sophie kini berpindah menggrnggam telapak tangan Sophie.


Sophie speechless, sungguh tangan Athan sangat hangat dan Sophie menyukai nya.


"Astaga Sophie, jangan melamun," ucap Athan mengehela nafas lalu menarik pelan Sophie.


Sepertinya keputusan yang bagis dia menggendeng wanita itu. Athan hanya takut jika Sophie kenapa-kenapa, karena Athan melihat tingkah aneh Sophie dan sering berpikir.


Sophie hanya diam menurut, ingin sekali rasanya dia berteriak dan melompat-lompat sekarang juga.


Saat sudah sampai diseberang Athan langsung melepaskan tangan nya.


"Apakah kau sering begini? bagaimana jika kau sendiri, jangan melamun saat berjalan bisa-bisa kau bahaya dan ditipu orang," ucap Athan.


"Sophie?" panggil Athan saat melihat Sophie yang kini terisak lagi sambil menatap telapak tangan nya.


"Sophie?" Athan melambaikan tangannya pada wajah Sophie.


"Ck, ada apa dengan nya, terserah lah, aku sudah lapar," ucap Athan kemudian berjalan terlebih dahulu.


"Neng, kenapa?" tanya salah satu paruh baya yang lewat di pinggir jalan.


"Hah!" Bingung sophie yang baru tersadar dan celingak-celinguk saat sudah tak melihat Athan lagi bersama nya.


"Dokter Athan kemana? tega sekali meninggalkan ku sendiri disini," ucap Sophie.

__ADS_1


TBC


__ADS_2