Possesive Man

Possesive Man
Part 87


__ADS_3

Lama Sania dan Daniel berbincang serta menghabiskan waktu di rumah pria itu. Kini Sania memutuskan untuk segera pulang karena tidak mungkin dia terlalu lama disini dan membiarkan Intan hanya sendirian di rumah. Lagipula ini sudah sore dan dia sudah pergi dari pagi dari rumah, sudah cukup lama Sania berada di luar rumah.


"Sudah sangat sore, aku harus segera pulang ke rumah, kasihan jika Intan terlalu lama sendiri di rumah," ucap Sania mengungkap kan niat nya yang akan segera pulang untuk mengindari macet dan agar tidak terlalu pulang malam.


"Yaudah kalo gitu aku siap-siap bentar kalo gitu," ucap Daniel yang memang sedang memakai baju rumahan sekarang.


Kening Sania mengernyit, untuk apa Daniel bersiap-siap, yang mau pulang kan diri nya bukan pria itu.


"Hah, untuk apa kau bersiap - siap?" tanya Sania dengan bingung saat melihat Daniel yang hendak beranjak dari tempat nya .


"Iya, aku bakal antarin kamu pulang ke rumah," balas Daniel dengan enteng nya tak merasakan beban sama sekali saat dia mengucap kan kalimat itu.


Sedangkan Sania hanya tercengang, bukan kha laki-laki itu baru pulang dari rumah sakit dan tadi mengatakan jika tubuh nya masih lemah.


"Astaga, untuk apa? aku bisa pulang sendiri," ucap Sania menolak tawaran dari Daniel yang menurut nya sedikit gila.


Itu malah akan membuat pria itu kelelahan yang mana seharus nya pria itu berisitirahat total.


"Tidak perlu Daniel, aku akan memesan ojek online saja, jangan merepotkan dirimu sendiri, kamu lebih baik berisitirahat saja," Sania mencoba untuk membuat Daniel mengurung kan niat nya.


"Tidak, aku yang akan mengantarkan mu sampai ke rumah," ucap Daniel tetap kekeh dengan keputusan yang sudah di buat.


Dia memang sudah sangat berniat sedari tadi untuk mengantar kan wanita paruh baya itu, Daniel ingin memastikan Sania pulang dengan selamat.


"Tidak, aku bisa sendiri, udah kamu istirahat aja pokok nya," paksa Sania yang ikut-ikutan keras kepala.


Dia mana mau membuat pria itu menjadi membebani pria itu yang baru saja pulih dari sakit nya.


"Aku tidak menerima penolakan Sania, aku sudah baik-baik saja," tegas pria itu sambil memutar tubuh nya membuktikan pada Sania bahwa dia sudah merasa baikan.


"Lihat, aku bahkan bisa jungkir balik sekarang," ucap Daniel mengambil ancang-ancang namun langusung di hentikan oleh Sania.


"Tidak perlu melakukan hal itu, baiklah aku percaya, baguslah jika kamu sudah merasa baikan," ucap Sania.

__ADS_1


"Tapi tetap saja kau tak perlu mengantar ku," lanjut Sania kembali.


"Tidak, pokok nya aku harus mengantar kan mu ke rumah Sania,"


"Hei, ada apa kok jadi ribut - ribut gini," ucap Diana yang menghampiri mereka.


Karena mendengar perdebatan Merkea Diana menjadi penasaran apa yang membuat nya keduanya saling beradu mulut.


"Ada apa Daniel?" tanya Diana pada putra nya itu.


"Itu Tan, Daniel mau anterin aku pulang, padahal dia baru pulih. Sania padahal bisa pulang sendiri," ungkap Sania yang menjelaskan saat Daniel yang diam saja tak menjawab pernyataan dari Diana.


"Benar begitu Daniel," ucap Diana sedangkan Daniel mengangguk dengan begitu antusias nya.


Diana memijit kepala nya pelan, jika sudah begini tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginan putra nya itu bahkan dia sendiri.


Daniel jika sudah merasa kepala akan sangat sulit untuk dibujuk, pria itu jika sudah mengatakan a maka harus a.


Bagiamana pun juga dia adalah seorang ibu, jadi dia juga merasa kan khwatir terhadap keselamatan putra nya itu.


Diana tau sebagaimana cinta nya Daniel pada Sania. Pria itu selalu menceritakan tentang Sania pada nya. Diana yang ingin Daniel bahagia akhirnya mendukung keputusan putra nya itu saja.


"Loh kok Tante malah ikutan dukung juga," ucap Sania.


"Udah gapapa biarin aja, dia mah gitu, gak ada gunanya kamu nolak kalo dia udah niat gitu susah buat dibujuk nya," ucap Diana yang sudah sangat mengenal kelakuan putra nya itu.


"Yeshh, bentar ya kau siap-siap dulu," ucap Daniel berlari kecil ke dalam kamar nya membuat Diana menggeleng kan kepala nya melihat tingkah Daniel hang malah terlihat seperti anak kecil yang kesenangan karena telah diberikan permen.


Sania hanya bisa pasrah saja dan tersenyum tipis, dia baru tau jika Daniel adalah orang yang sangat keras kepala.


Ternyata pria itu adalah tipe orang yang tidak mau kalah dan mempertahankan apa yang telah dia katakan.


"Daniel tuh suka banget tau sama kamu," ucap Diana.

__ADS_1


"Iya Tan," respon Sania.


"Apa kamu tidak menyadarinya, jika sudah ingin niat menikah bilang pada Tante ya," goda Diana.


"Hahaha, untuk sekarang seperti nya masih belum tan, aku belum memikirkan ke arah sana, aku ingin fokus dengan anak ku saja sekarang," Ucap Sania.


"Begitu ya, tapi kita kan tidak tau ke depan nya bagaimana. Kamu harus membuka hati kamu nak Sania, biarkan orang lain untuk masuk dalam hidup mu, apa kamu emang mau hidup sendirian selama nya, pasti putri mu mau sosok ayah bukan. Tante juga bakal siap menerima kok sayang," terang Diana.


Sania mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Diana. Wanita itu sudah sangat terlihat jelas maksud nya apa.


Seperti nya Diana sangat menginginkan Daniel segera menikah dan Diana juga terlihat sangat ingin dia menjadi menantu dari wanita itu.


Tapi kan hati tidak dipaksa kan, Sania ingin menikah jika benar - benar sudah menemukan orang yang tepat dan memastikan hati nya ikut menerima juga.


"Untuk sekarang seperti nya belum tan,' ucap Sania dengan lembut


"Yaudah jika memang begitu, tidak apa - apa, jangan terlalu di pikir kan ya apa yang Tante bilang sama kamu, maaf jadi memberatkan pikiran Sania," ucap Diana menjadi tidak enak apalagi melihat raut wajah Sania yang seakan menyiratkan tidak ingin membahas topik itu lagi.


"Iya tan, gapapa," balas Sania seraya tersenyum kecil.


"Tante belum pernah ketemu putri kamu deh, Tante ingin bertemu dengan nya, Tante penasaran. Pasti dia mirip sama kamu dan pastinya juga cantik seperti mu," ucap Diana.


"Boleh Tan, nanti kapan-kapan aku mana mengajak Intan untuk kemari.


"Iru ide yang bagus sekali, Tante menjadi tidak sabar sekarang," ucap wanita itu yang tidak bohong.


"Ya tan nanti Sania bakalan atur waktu nya ko tan," balas Sania.


"Iya Tante bakalan tunggu kok, kabarin aja ya sayang," balas Diana.


"Iya Tante," ucap Sania.


TBC

__ADS_1


__ADS_2