Possesive Man

Possesive Man
Part 27


__ADS_3

"Tanganku masih sakit, Sania." ucap Daniel menggoyangkan tangannya yang masih terasa lemas.


"Gapapa kan nak, tolongin ya dia emang suka gitu anaknya, kalo lagi sakit dia tuh suka manja kaya anak kecil,"


Diana terkekeh kecil saat melihat tingkah Daniel pada Sania. Dia sudah banyak mengenalkan anak temannya pada Daniel tapi Daniel tak pernah dilihat nya senyaman itu selain pada Sania.


"Bunda jangan ember dong," sahut Daniel yang sedikit malu karena Diana langsung mengatakan nya lada Sania.


Sania yang merasa tak enak untuk menolak akhirnya mengangguk. Lagian hanya untuk menyuapi saja tak masalah, pikir Sania.


Selama makan Daniel terlihat bersemangat dan terkadang dirinya tersenyum. Hal kecil itu membuatnya bahagia. Hatinya tak karuan, makanan rumah sakit yang tadinya hambar menjadi sangat enak karena Sania menyuapkan nya untuknya.


Awalnya Sania tak ingin karena terasa agak canggung, dia juga datang kesini karena Daniel kecelakaan setelah selesai jalan-jalan bersama mereka. Sania hanya merasa bersalah. Kalo saja Daniel tak pergi bersama mereka Daniel tak akan pulang malam dan kecelakaan seperti itu.


Setelah selesai dengan acara makan Daniel, Sania bersiap untuk pulang.


"Tak bisakah kamu disini saja, ini sudah malam," ujar Daniel. Dia takut terjadi apa-apa pada Sania apalagi dengan kondisi dirinya yang masih terbaring tak mungkin dirinya nekat untuk mengantar Sania untuk pulang.


Untung saja dirinya tak terlalu terluka parah karena dia sempat membanting setir kearah kiri saat itu.


"Maaf Daniel, tapi aku harus segera pulang," ucap Sania.


Tersirat rasa kecewa yang sangat jelas pada wajah Daniel.


"Sudahlah Daniel, besok kan masih bisa," kekeh Diana.


"Kamu besok bisa datang lagi?" harap Daniel.


"Kalo aku ada waktu,"


Sania lantas segera berpamitan pada Diana dan Daniel. Entah mengapa dia merasakan gelisah sedari tadi. Apalagi jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan merasa khawatir.


"Ada apa denganku, mengapa aku merasa perasan ku tidak nyaman," gumamnya seraya mempercepat jalannya.


Dia segera memesan taksi untuk segera pulang kerumahnya karena Sania juga sudah merasa lelah dan ingin segera membaringkan tubuhnya di ranjang kesayangan nya.


"Terimakasih pak," ucap Sania seraya menuruni taksi ya h dia tumpangi setelah memberikan selembar uang berwarna merah.


Kening nya mengernyit saat saat sangat banyak warga di sekitar rumah nya dan asap yang dari rumah nya.


"Tunggu, Asap dari mana, astaga," Panik Sania seraya mendekat dan melihat apa yang terjadi.


Mata nya memanas hingga tak sadar air matanya mengalir. Sania menutup mulutnya tak percaya saat rumah nya kini dalam kondisi yang memprihatinkan.


Rumah yang dia beli dengan usaha nya. Bertahun-tahun dia menyisihkan sebagian dari penghasilan nya itu untuk membeli rumah itu karena sebelumnya mereka mengontrak.


Dan lihat lah sekarang, Sania meraung histeris ingi masuk karena masih memiliki hak yang berharga dirumahnya. Semua tabungan nya untuk Intan ada disana.

__ADS_1


Pak RT berseru. "Bu, jangan kesana!" titah nya seraya menahan Sania sebab apinya belum terpadamkan seluruhnya.


"Lepas pak," tangis Sania namun sayang dia ditahan para warga.


"Apa intan didalam Bu?" tanya pak RT. Sania menggeleng.


"Syukurlah, saya kira terjadi apa-apa,"


Pak RT langsung menyuruh warga agar memberitahu pemadam yang masih didalam untuk melakukan upaya penyelamatan Mereka mengira Sania dan Intan ada dirumah.


Sania terduduk seraya menangisi masalah yang terjadi pada nya.


"Hiks, aku harus kemana setelah ini, semua nya sudah hangus dan tak tersisa, bagiamana dengan sekolah Intan," lirihnya sembari menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangannya.


"Yang sabar ya Bu," ucap warga prihatin.


Bu RT mengajak Sania untuk duduk dan memberikan segelas air hangat. Dia mencoba membuat Sania menjadi tenang.


Sedangkan Sania kini menatap rumah'nya dengan pandangan kosong. Semua kenangan dirumah itu tak akan pernah dia lupakan.


Dirumah itu hanya dirinya dan Intan, Dia memberatkan Intan di rumah itu, menghabiskan waktunya bersama putri nya disana. Salah satu tujuannya untuk pulang.


"Entah bagaimana tanggapan Intan saat melihat ini," sedihnya.


"Yang sabar ya Bu, sementara ibu sama Intan boleh kok tinggal dirumah saya Bu, pintu rumah saya selalu terbuka," ucap Bu RT sembari mengelus pundak Sania.


Dia bersyukur tinggal di lingkungan ini. Karena kebanyakan dari mereka peduli dan baik.


***


"Wuhh, dah pulang Lo, ngapa gak nginep di penjara bro," cibir Vandra.


Dia sengaja menunggu kedatangan Abang nya itu .


"Berisik," sembur Fedrick lalu mendorong Vandra karena menghalangi jalannya, pasalnya pria itu tengah berdiri di tengah pintu.


"Daddy mana bang?" tanya Vandra celingak-celinguk.


"Abang ga tau, tadi pulang duluan, kirain udah dirumah," sahut Athan.


"Dad belum pulang bang, em gimana bang? mereka berdua jadi dikirim ke tempat kakek?"


"Tenang saja, abang sudah mengurus nya," ucap Athan berlalu dari hadapan Vandra, pria itu ikut masuk menyusul Fedrick yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Bang!" panggil Mark.


"Apa, kau kenapa?" tanya Mark yang melihat Mark khawatir tak karuan terlihat dari wajahnya yang memucat.

__ADS_1


Athan menoleh kesamping Mark. Adiknya itu ternyata sudah membereskan semua keperluan nya terlihat dari dua koper yang sudah rapi di samping Mark berdiri.


"Kau terlihat bersemangat untuk tinggal bersama kakek," ucap Athan tertawa pelan.


"Huft, bagiamana lagi daripada kena semprot daddy," keluh Mark seraya memegang kedua kopernya.


"Bang tau gak, si Mark dari tadi mutar-mutar tuh sofa kaya orang gila hahaha," adu Vandra.


"Cih, sok tau," kesal Mark.


"Aku melihat nya adik," ujar Vandra.


"Kenapa Fedrick lama sekali, bukannya kami akan berangkat malam ini?" tanya Mark yang sudah siap sedari tadi.


"Kau saja saja sendiri, jangan mengajakku," sahut Fedrick yang kini sudah berpenampilan lebih baik, pria itu terlihat lebih segar setelah mandi sebentar dan kini mendudukkan dirinya di kursi sofa dan menyalakan televisi.


"Buset masih sempat nonton," ucap Mark tak percaya.


"Pergi saja Mark, kakek pasti merindukan mu," kikik Athan.


"Aku kan dihukum nya bareng bang Fedrick, masa aku pergi sendiri,"


"Aelah, ngopi dulu kita ngopi, santai Mark," ucap Vandra ikut duduk disamping Fedrick yang sedang asik dengan dunianya sendiri.


Mark mengernyit bingung Melihat mereka yang Santai. Mark mengedikkan bahunya dan menggeret kopernya. Dia tak mau mendapatkan hukuman lebih dari itu lagi dari Fathan.


"Aku pergi," pamit Mark sambil menyeret kedua kopernya di sisi kanan dan kirinya.


"Lah beneran pergi toh," imbuh Vandra.


Vandra menyusul Mark dan menahan pria itu. Vandra menarik kasar koper Mark sampai terlepas dan terjatuh


"Apaan sih bang, lecet itu entar koper gua, mana baru beli lagi," tandas Mark.


"Ya Lo sih serius amat, emang mu mau tinggal bareng kakek sebulan."


"Ya nggaklah, gue gak ada kebebasan entar disana."


"Nah itu, yaudah masuk," ajak Vandra.


"Gak usah protes, Daddy gak jadi hukum kalian," ucap Vandra.


"Yang benar bang, serius demi!"


"Hooh,"


"Yeahhh!" seru Mark kesenangan sambil memeluk Vandra dan melompat lompat seperti anak yang sedang mendapat kan permen.

__ADS_1


"Bukan adek gue," dengus Vandra yang melihat tingkah Mark.


__ADS_2