Possesive Man

Possesive Man
Part 66


__ADS_3

"Jadi apa mau kalian? pergi? begitukah?" tanya Fathan tanpa ekspresi.


"Iya," jawab Intan dengan anggukan kecil.


Fathan menghela nafas lalu melangkah kan kaki nya dan menarik kursi meja rias yang ada di kamar dan mendudukkan diri nya disana menghadap kedua wanita yang dia sayangi.


"Sania, boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Fathan dengan serius.


Sania menatap Fathan yang juga kini menatap nya dengan dalam.


Fathan kembali mendapatkan anggukan, helaan nafas kasar Fathan kembali terdengar. Berkali-kali pria itu melakukan nya untuk menenangkan hati nya yang saat ini terasa kacau.


"Kau sungguh ingin pergi dan tak ingin menikah dengan ku?"


Mengingat ini kedua kali nya wanita itu ingin pergi dari nya. Seakan tak mau memberikan kesempatan lagi untuk Fathan mengikat wanita itu.


"Aku--,"


Belum selesai Sania mengucap kan sesuatu yang ingin dia katakan Fathan menyuruh nya untuk berhenti dengan kode tangan.


"Aku mengerti apa yang akan kau katakan," ucap Fathan yang melihat keraguan dalam mata Sania serta mata indah itu bergerak dengan gelisah saat dia menanyakan hal itu.


"Bisa ku tanyakan apa alasan kalian ingin pergi? apa kalau. merasa tidak nyaman?"


"Bukan gitu om, kita pengen mulai dari awal lagi, lagian kita tak ada hubungan yang spesial jadi tak seharusnya Intan sama mommy berada disini," Intan yang menjawab karena Sania kini hanya bisa terdiam seraya menunduk.


Fathan tersenyum miris saat lagi dan lagi hsrus mendengar kan kata om keluar dari mulut Intan.


Apakah dia terlalu keras dengan keduanya. Fathan tau jika dia memang terlalu egois dan hanya memikirkan dirinya. Dia terlalu menginginkan kedua orang itu menjadi bagian hidup nya tanpa mau tau jika mereka mau atau tidak masuk dalam bagian hidup nya.


"Lalu, kalian akan tinggal dimana? rumah kalian sudah tak ada bukan."


"Kontrakan kemarin," cicit Sania dengan pelan. Sania yakin jika Fathan tau maksud nya. Lagi pula dia sudah membayar kontrakan itu selama setahun.


Fathan mengangguk, yang penting dia sudah tau dan kedua nya juga memiliki tempat berteduh.


Fathan lalu beranjak dari duduknya. Membenarkan sedikit jadi nya.


Sania terdiam melihat mu.

__ADS_1


"Bagunlah, kalian bisa pergi sekarang. Kau akan menyuruh pelayan untuk membantu kalian beres-beres. Kalian juga akan diantar oleh supir ku ke kontrakan yang kau katakan,"


Ucap Fathan setelah berpikir.


Jika memang kebahagiaan mereka tak ada disini, Fathan bisa apa. Percuma dia mengurung dan menahan Intan dan Sania jika mereka tak ingin.


Fathan ingin mengikis Sifat egois nya. Kali ini dia akan membiarkan mereka memilih hidup mereka sendiri.


Fathan tak mau memaksakan kehendak nya jika mereka menjadi tertekan nantinya.


Lagipula seperti nya itu adalah keputusan yang bagus, dimana mereka menjalani hidup seperti belum mengenal. Mengingat jika anaknya juga merasa cemburu dengan kasih sayang yang dia berikan pada Sania dan Intan terlebih Fedrick.


Dengan begini, Fathan bisa lebih memperhatikan putranya dan memperbaiki hubungan nya Dengan putra-putranya.


"Maaf jika selama di rumah ini kalian mendapatkan perlakuan tidak enak atas perlakuan saya dan juga putra-putra saya. Saya tak akan menganggu ketenangan kalian lagi, kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau sekarang, tidak perlu mendapatkan persetujuan dari saya lagi. Semoga kalian hidup bahagia dan cita intan bisa berhasil." ucap Fathan panjang lebar.


Dia sudah memantapkan hati nya sekarang.


Sania mematung di tempat nya. Fathan apa? melepaskan nya? padahal terakhir kali Fathan begitu marah besar saat dia kabur dan sekarang Fathan dengan begitu mudah melepaskan mereka.


Entah mengapa Sania tidak merasa senang dengan fakta mereka dibebaskan, Hatinya terasa amat sakit ketika Fathan mengatakan nya seakan tak membutuhkan kehadiran nya lagi, seakan jika dia sudah tak penting lagi untuk hidup laki-laki itu.


Sania sekarang malah berpikir jika Fathan tak benar-benar mencintai nya.


Sania tersenyum miris setelah nya.


Fathan memandang Intan dan Sania sekarang dengan datar seraya memasukkan kedua tangan nya ke saku celana nya.


Intan juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh mommy. Seharusnya mereka senang bukan, mereka tak perlu repot-repot untuk membujuk pria itu, namun mendapatkan tatapan seperti itu dari Fathan mampu membuat hati nya menjadi pedih.


Mata yang biasa nya memandang nya dengan hangat dan penuh kasih sayang, serta pria itu juga tak pernah marah padanya dan selalu memenuhi permintaan nya, hari ini malah menatap nya dengan tanpa ekspresi.


"Apa lagi yang kalian tunggu Hem, cepat lah pergi sebelum aku berubah pikiran dan kembali mengurung kalian. Sempat aku berpikir begitu, Demi Tuhan, aku tak akan membiarkan kalian pergi lagi dan aku akan bersikap sangat egois," desis Fathan saat melihat Intan dan Sania yang masih setia duduk di kasur tanpa mau beranjak sedikit pun. Padahal jelas-jelas dia sudah memberi kesempatan yang sangat bagus untuk segera pergi.


"B-baj.'


"Bi Ana," teriak Fathan dengan sangat menggema. Pria itu sedang marah sekarang.


"Iya tuan," panggil salah satu pelayan rumah Fathan dengan nafas ngos-ngosan, seperti nya wanita itu berlari untuk sampai ke kamar itu. Bagaimana tidak, Fathan memanggil nya dengan nada yang tidak santai.

__ADS_1


"Bereskan semua barang - barang mereka dan letak kan di depan pintu utama. " ucap Fathan.


"I-iya tuan," Bi Ana mulai pergi dan bergegas melakukan perintah dari tuan nya itu. Meski dai kebingungan mengapa Fathan malah menyuruh nya membereskan semua pakaian dari nyonya mereka.


"Kalian bebas sekarang, aku melepaskan kalian," ucap Farhan.


Intan menoleh pada Farhan, lidah nya kelu sekarang sedangkan raut wajah Fathan sama sekali tak berubah dan tetap memandang mereka dengan datar dan tanpa ekspresi.


Sebagian dari jati nya ingin segera pergi dan sebagian lagi ingin tetap tinggal.


"Pergilah," ucap Fathan terkahir kali nya sebelum meninggal kan Intan dan Sania.


Hingga kini yang tersisa dalam ruangan itu adalah hanya Intan dan Sania.


Hening menguasai mereka, sibuk dalam pikiran masing-masing.


Memang ini yang mereka ingin kan bukan? pergi dan memulai hidup baru dan Fathan sudah mengabul kan nya.


Tak bodoh memang, Sania sebenarnya mencintai Fathan juga meski dia belum mengatakan nya pada pria itu secara langsung.


Tapi sekarang ia harus melupakan pria itu secepatnya, mereka hari bisa move on.


"Ayo sayang, kita pergi sekarang ya," ucap Sania membuka suara yang dibalas senyum getir oleh Intan.


"Iya mom," ucap Intan yang kini berjalan mengikuti Sania.


"Tuan meminta saya untuk mengantarkan nona Intan dan juga nyonya Sania Sampai ke tujuan, barang-barang kalian sudah saya masukkan dalam bagasi mobil," ucap supir Fathan.


"Terimakasih," ucap Sania lalu kedua nya kini masuk ke dalam mobil milik Fathan tersebut. Mungkin ini yang terakhir kali nya mereka akan menaiki itu.


Intan dan Sania menatap rumah yang sudah mereka tinggali beberapa bulan terakhir. begitu banyak kenangan disana.


Tanpa mereka sadari, Fathan juga melihat kepergian mereka dari balkon kamar pria itu.


Rasa tidak rela melingkupi hati nya.


"Katanya cinta tak harus memiliki bukan," gumam Fathan tak mengalihkan pandangannya bahkan setelah mobil yang membawa Intan dan Sania telah pergi.


Hidup nya akan kembali monoton dan tak ada yang akan menunggu kepulangan nya saat bekerja, tak ada yang akan memperhatikan nya lagi sekarang.

__ADS_1


"Huft, ini yang terbaik kan," tanya nya dengan ragu pada diri nya sendiri


TBC


__ADS_2