Possesive Man

Possesive Man
part 29


__ADS_3

"Kita akan kemana?" tanya Sania saat melihat jalan yang mereka lalui bukanlah menuju rumah pria itu.


Fathan tak menjawab dia hanya menampilkan senyum kecil saja dan terus mengemudikan mobilnya.


"SKYE,"


Fathan mengangguk mendengar gumaman Sania. Dia memang tak ingin langsung membawa Sania pulang walaupun sudah larut malam.


Dia membawa Sania ke SKYE, sebuah restoran tertinggi di Jakarta yang sudah terkenal di seantero kota metropolitan.


SKYE akan memanjakan pengunjung nya dengan kolam renang rooftof yang memiliki pemandangan 360° dan pemandangan kota Jakarta akan terlihat dari sana.


"Ayo," ucap Fathan membawa Sania ke rooftof.


Fathan memilih kursi di pojokan agar tak terlalu ramai, pasal nya tempat ini begitu diminati untuk melepas penat.


"Eh, tidak perlu, aku tidak lapar," ucap Sania yang melihat Fathan hendak memesan makanan.


"No, apa kau akan makan jika hanya pas lapar saja? kau tak boleh melupakan jam makan mu Sania," ucap Fathan dengan nada yang tidak ingin dibantah.


"Oke, terserah padamu saja," pasrah Sania, dia sedang tak ingin memancing keributan dengan Fathan.


Matanya menelusuri setiap gedung Jakarta yang terlihat. Begitu indah apalagi dengan lampu yang menghiasi.


Sania juga bisa melihat kendaraan yang berlaku lalang, Sania selalu berpikir mereka mau kemana dan apa yang akan mereka lakukan. Sedang apa orang-orang yang berada di gedung tinggi itu, dia pernah bermimpi ingin bekerja di gedung-gedung tinggi seperti itu juga.


Tak lama senyum nya mengembang, Fathan mewujudkan nya setelah setengah hidupnya dia akan segera bekerja di tempat seperti itu juga. Lebih tepatnya milik Fathan.


"Ada apa?"


"No, bukankah pemandangan nya indah,"


"Kau benar, udaranya agak dingin namun menyejukkan," ucap Fathan setelah melepaskan jas nya dan memasangkan nya pada Sania.

__ADS_1


"Terimakasih," balas Sania lagi.


***


"Tak apa. Ayo turun aku akan bantu jelaskan padanya. Dia pasti mengerti," ucap Fathan dengan lembut mencoba untuk berbicara sabar padahal dia tak biasa untuk membujuk orang dan itu menyebalkan untuknya.


Namun untuk Sania dia lakukan, dia mengenyampingkan egonya sendiri.


Sania menggeleng pelan, dia gugup sembari memainkan jarinya. Dia belum siap untuk berbicara pada Intan dan dia tak tahu bagaimana cara untuk menyampaikan nya.


Fathan menghela nafas, dia bukanlah tipe orang yang sabar, kesabaran nya sebenarnya tipis.


"Baiklah kau tak perlu berbicara apapun, biar aku yang ngomong sama Intan. Keluarlah," pinta Fathan pada Sania yang masih duduk di mobil sedangkan dirinya sudah sedari tadi keluar dari mobil.


"Ayolah sayang, jangan membuat ku marah. Lagipula anak-anak sudah tidur, kita bisa membicarakan ini pada mereka besok,"


Ucap Fathan lagi. Dia sangat berharap Sania mau mendengarkan nya karena dia sangat lelah.


Dia belum beristirahat sama sekali setelah perjalanan panjang yang dia lalui.


Sania akhirnya menurut dan turun dari mobil membuat Fathan menghela nafas lega seraya tersenyum tipis.


"Good girl," gumamnya.


Fathan tak melepaskan tangan Sania dari genggaman nya dan membawa wanita itu kekamar pribadinya.


Sania menatap sekeliling, kamar ini cukup besar untuk ditempati sendirian dan terhirup bau maskulin khas Fathan yang sangat kentara.


"Apakah ini kamar milikmu?" tanya Sania.


Fathan mengangguk sambil membuka kancing baju atasan nya dan menggulung kemejanya juga.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Sania sambil membalikkan badannya saat Fathan malah membuka baju dihadapannya.

__ADS_1


"Aku mau mandi, kau mau ikut?" tanya Fathan tersenyum miring namun Sania tak dapat melihatnya.


"Tidak." Tolaknya mentah-mentah dengan nada yang ketus.


"Kau tak mau melihat nya? tubuhku bagus loh," goda Fathan sambil terkekeh kecil.


"Maaf tuan aku tidak tertarik, udah sana cepet kamu kekamar mandi," desak Sania.


Fathan memakai kembali bajunya dan mendekati Sania.


"Bagaimana kalau aku tak mau," bisik Fathan tepat di telinga Sania membuat bulu kuduk Sania merinding.


"Aaaaa pake dulu bajumu," teriak Sania.


"Astaga, apa yang aku harapkan sayang, aku bahan sudah memakainya sedari tadi, kau benar-benar mau melihat nya ya,"


Sania membalikkan badannya dan benar saja Fathan sudah kembali memakai kemejanya.


Dengan kesal dia menabok kepala Fathan karena ulah pria itu yang menggoda nya.


"Hahaha, kau lucu sekali sayang, nah begini lebih bagus. Aku lebih senang jika kau berekspresi seperti ini dari pada menunjukkan wajah sedihmu," balas Fathan tak lupa tangan nya mengelus wajah Snaia.


"Bukankah tadi kau mengatakan akan mandi?"


"Aishh mau merusak suasana nya sayang," kesal Fathan lalu berlalu kekamar mandi dan menutup pintunya dengan cukup keras.


Setelahnya kepala pria itu terlihat menyembul keluar sembari menampilkan deretan giginya.


"Serius sayang, kau tak mau mandi bersama ku. Ayo aku bisa memandikan mu secara gratis.


"Sekali lagi kau berbicara seperti itu awas saja," ucap Sania melayang kan kepalan tangan pada Fathan.


"Uuu takut," ucap Fathan dengan nada seperti anak kecil.

__ADS_1


"Cih dasar lelaki mesum, dipiki nya hanya tentang hal itu-itu saja,"


TBC


__ADS_2