Possesive Man

Possesive Man
part 123


__ADS_3

"Intan, nanti pulang sekolah abang yang jemput kamu ya baby," ucap Athan pada sang adik yang kini tengah merapikan tas nya.


"Emang Abang gak sibuk ya, jangan dipaksain bang, nanti Intan bisa barengan sama bang Mark kok," ucap Intan yang tak ingin membuat Athan repot karena menjemput nya.


Intan sadar memang waktu mereka untuk menghabiskan waktu tidak banyak karena kesibukan Athan dalam pekerjaan nya dan Intan memaklumi hal itu.


"Abang bilang gini karena Abang udah rencanakan hal ini baby, Abang nanti pulang nya cepat jadi hari ini Abang mau nemenin Intan jalan-jalan, lagian udah lama kan kita tidak jalan. Kamu selalu bersama yang lain,' ucap Athan hang seperti akan merajuk.


Tentu saja asa sedikit keirian dalam dirinya mengingat saudara nya yang lain bisa banyak menghabiskan waktu bersama dengan Intan dan yang lain nya


"Serius bang, Intan mau deh," ucap Intan yang semangat. Dia suka jalan dengan Athan karena pria itu selalu memberikan apa yang dia minta saat mereka bepergian.


"Yaudah nanti tungguin Abang pokoknya ya, jangan langsung pulang. Tapi untuk ngater kamu bang gak bisa baby," sesal pria itu.


"Gapapa bang, aku bareng bang Mark aja," ucap Intan.


Athan mengangguk kecil," kalo begitu Abang pergi duluan ya, Abang ada pekerjaan pagi ini," ucap Pria itu mengelus rambut Intan.


"Belajar yang bener, bentar lagi mau ujian," lanjut Athan yang tak pernah bosan - bosan nya untuk mengingatkan gadis itu.


"Pasti bang, kan Abang juga guru nya," ucap Intan mengan


***


"Kenapa kamu belum berangkat sayang," ucap Juli pada putri semata wayang nya tersebut.


Gadis itu hanya duduk di ruang tamu dengan seragam yang sudah lengkap.


"Em, bentar lagi mom," ucap Ayyara tidak semangat.


Juli yang mengerti jika ada sesuatu yang tidak beres dengan putri nya itu langsung mendudukkan diri nya tepat di samping putri nya tersebut.


"Ada apa hm? kalo ada apa-apa bilang sama mommy sayang, jangan Pendem. Kamu bisa cerita apa aja sama Mommy," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.


Juli menyadari jika Ayyara akhir-akhir ini memang terlihat murung, entah apa yang terjadi dengan Putri nya itu.


Ayyara menoleh ke arah Juli yang juga tengah menatap nya.


"Aku... entahlah. Aya cuma merasa khawatir aja untuk ujian nanti heheh, Aya gapapa kok mom," ucap Ayyara

__ADS_1


"Jangan terlalu keras memikirkan hal itu, mom yakin kamu pasti bisa kok," ucap Juli.


"Makasih mom, Aya akan mengusahakan nya sebisa Aya," ucap Ayyara tersenyum.


"Nah gitu dong, Ayyara yang mom kenal kan selalu ceria, udah gih berangkat sana, supir udah nungguin kamu pasti di depan," ucap Juli yang dingguki oleh Ayyara.


"Dah mom," ucap gadis itu tak lupa untuk mengecup pipi wanita paru baya tersebut.


"Ingat! jaga jarak sama Steven oke. Kalo Daddy tau pasti kamu kena marah lagi," ucap Juli.


"iyaa, " balas Ayyara lesu.


Melihat Ayyara yang sudah berangkat ke sekolah, membuat Juli menghela nafas nya.


Dia mengerti jika Putri nya itu masih bergantung dengan kehadiran Steven. Tapi apa boleh buat, Steven sudah mengecewakan mereka bahkan membohongi Mereka.


Sangat disayangkan, padahal selama ini mereka sudah mempercayai Steven dengan sepenuh nya.


"Hujan non," ucap sang supir membuat Ayyara tersadar dari lamunan nya.


Untung nya mereka menggunakan mobil, hujan nya juga tiba-tiba sekali turun padahal Ayyara yakin tadi melihat langit yang lumayan cerah.


Ayyara kini memikirkan Steven, apa pria itu membawa motor atau mobil tadi.


Pagi ini dan malam tadi, Steven tak mengirim pesan apa apa pada nya. Pesan nya juga tak dibalas oleh pria itu dan hanya dibaca saja.


"Apa Steven masih marah sama aku, aku gak bisa kayak gini. Aku gak bisa jauh-jauh dari Steven," gumam nya tanpa sadar menitikkan air mata nya.


Sebesar itu efek Steven untuk nya, bagaimana tidak, dia banyak menghabiskan waktu bersama dengan. pria itu.


Steven yang selalu baik dan memperhatikan nya dengan baik, serupa hari pria itu selalu mendatangi nya.


Dan sekarang Ayyara benar-benar merasa hampa dan kosong tanpa kehadiran dari Steven.


Bagiamana nanti jika dia akan bersekolah di Australia. Dia dan Steven tak hanya akan beda sekolah namun beda negara pula.


Apakah Ayara harus membiasakan diri nya tanpa pria itu.


Tak beberapa lama, akhirnya mereka sampai juga di sekolah.

__ADS_1


Ayyara mengambil payung dari belakang agar dia tidak basah kuyup nanti nya.


"Terimakasih pak," ucap Ayyara pada supir nya lalu memasuki lingkungan sekolah nya.


"Seperti nya akan banyak yang terlambat," gumam Ayyara melihat hujan yang masih belum berhenti.


Ayyara menelpon kedua sahabat nya terlebih dahulu dan tak ada yang mengangkat nya, mungkin mereka masih di jalan.


Saat hendak menuju ke kelas nya, Ayyara membalikkan badan nya saat mendengar suara motor yang begitu dia kenali.


Dan benar saja itu adalah Steven dengan motornya. Pria itu untung nya juga memakai jas hujan.


Ayyara tidak pergi dari sana, dia hendak menunggu pria itu.


Sampai dimana Steven kini ingin masuk juga. Ayyara menampilkan senyum tebaik nya.


Namun senyuman nya langsung luntur begitu saja saat Steven hanya melewati nya dengan wajah yang begitu datar tanpa menghiraukan keberadaan nya sama sekali.


"Steven," panggil Ayyara membuat langkah pria itu terhenti.


Namun itu tidak berlangsung lama karena Steven langsung melanjutkan langkah nya tanpa repot-repot menoleh ke arah Ayyara.


Ayyara menggigit bibir bawah nya saat Steven mengabaikan nya lagi. Mengapa terasa sakit saat pirs itu tak menghiraukan nya. Sungguh Ayyara tidak suka dengan situasi dan keadaan nya seperti ini.


Bisik-bisik dari siswa kini terdengar di telinga nya.


"Mereka pasti udah putus,'


"Wah, ini berita panas,"


"Sungguh aku tidak menduga mereka kan berakhir,".


Ayyara tak suka mendengar nya, lagi pula mereka belum putus sama sekali. Gadis itu akhirnya melangkah dengan cepat berniat untuk menyusul Steven.


Dia harus meluruskan semua nya. Waktu nya berada di Indonesia sudah tak akan lama lagi. Dia ingin pamit dengan baik-baik jika bisa walaupun rasanya akan sulit.


Siapatau Mereka bisa menjalankan hubungan jarak jauh bukan. Ayara harus mencoba nya jika ingin mengetahui hasil nya.


Ayyara kini melihat Steven di kelas nya. Pria itu duduk di kursi paling belakang dengan menelungkup kan wajah nya di meja. Entah apa yang sedang di pikir kan oleh pria itu sekarang.

__ADS_1


__ADS_2